LOP

Seorang mantan bromocorah meninggal sebagai orang pintar. Desa Sepi yang biasa tenang itu mendadak jadi hiruk-pikuk dikerubuti mereka yang ingin memberi penghormatan terakhir. Nama Bolong memang telah melambung menembus mancanegara sebagai pakar pengobatan alternatif.

Puluhan tahun yang lalu, Bolong pernah tersohor sebagai momok yang paling biadab. Karena ia telah memakan manusia hidup-hidup.

Apakah itu hanya kemasan bahasa, bagian dari sihirnya untuk menghipnotis penduduk agar tak berani melawan, entahlah. Tak ada yang pernah buka mulut mengungkapkan misterinya.

Ketika keluar dari penjara, Bolong sempat kelimpungan beberapa tahun. Terpental ke sana-kemari bersama keluarganya mencari tempat berteduh. Tapi di mana-mana, ia ditolak. Siapa yang berani mengambil risiko, hidup memelihara macan?

Aku sudah putus asa! Saat itu, kami nyaris mau bunuh diri. Istri dan kedua anakku yang masih kecil, sudah setuju. Habis daripada tak ada harapan, katanya menceritakan masa lalunya.

Tapi malam itu, mendadak ada tsunami. Kami tunda dulu bunuh diri untuk menolong mereka.

Ternyata banyak anak kecil jadi yatim piatu. Tidak ada yang peduli, karena semua sibuk ngurus nasibnya sendiri. Akhirnya terpaksa kami ngurus dan keterusan sampai sekarang.

Untung juga ada tsunami, kalau tidak, kami sudah mati. Berkat itulah, kami diizinkan tinggal setelah bersumpah tobat. Aku diawasi terus siang-malam agar tidak kambuh. Memang dulu bekas-bekas anak buahku sering datang mengajak membahas proyek. Kontan aku tolak. Aku tak suka proyek-proyekan lagi. Aku sudah kenyang makan batu.

Sekarang anak-anak itu sudah waktunya ngisi perut. Mereka berhak kenyang, menentukan nasibnya sendiri. Jangan sampai aku gondeli. Aku tidak mau mereka makan manusia seperti aku.

Mereka tidak boleh nyontek aku. Untuk tidak menambah dosaku yang sudah tidak bisa ditebus, aku ajari mereka kebajikan. Bukan karena aku ingin diampuni, tapi untuk mencegah mereka mengikutiku.

Tapi apa yang terjadi? Saat kepergianku justru jadi momentum reuni, mengumpulkan mereka kembali yang sudah berserak dalam masyarakat. Balik lagi menyulut api untuk mengibarkan bendera hitam.

2
Entah datang dari mana kepintarannya, Bolong telah banyak menyembuhkan orang. Memberikan solusi yang tepat yang dengan jitu membukakan pintu mereka yang minta dibantu. Dan untuk itu, ia tak minta imbalan apa-apa. Tidak juga berharap akan dipuji atau menuntut dihormati sakti.

Semua itu kebetulan yang lebih banyak diciptakan oleh kesungguhan kalian sendiri, yang bertekad keluar dari perangkap itu, kata Bolong selalu dengan rendah hati.

Bukan hanya itu yang membuat kehadiran Bolong makin seru. Bolong sama sekali tak pernah menarik riak ombak ketenarannya untuk mencuci masa lalunya.

Aku dulu bandit. Sekarang pun tetap bandit. Meskipun sudah sempat menjalani hukuman, tidak berarti aku jadi bersih. Aku tetap bekas bromocorah. Hukuman itu pembayar dosa bukan membuat mentalku suci! Aku tidak mungkin menghapus yang sudah terjadi. Aku juga bukan orang pintar. Aku hanya bola polos di atas meja bilyar, untuk menggasak bola bernomor masuk lubang.

Tapi apa daya semua keterangan Bolong itu jadi tak penting. Karena yang kemudian berkibar, ketenaran Bolong jadi katrol pamor pemutih semua kejahatannya Mantan anak buahnya pun keluar dari sarangnya dan dengan berani unjuk gigi bahwa mereka tetap ada dan tak takut untuk terus beraksi.

3
Saya hadir tetapi terpaksa minggir. Hormat saya pada Bolong berbeda dengan luapan magma yang menggelegak mendobrak dada para sahabat lamanya. Mereki terbakar oleh kobaran solidaritas satu nasib dalam penjara. Mereka bukannya sedih, tapi malah beringas. Ingin bangkit lagi setelah menahun tersekap kebekuan mendalam.

Entah dapat halusinasi, lamat-lamat kuping saya menangkap senandung Bendera Hitam. Itu lagu anonim yang dinyanyikan oleh seorang superstar dangdut yang melejit jadi lagu kebangsaan para narapidana.

Nampaknya mantan anak buah Bolong serasa berada di rimba Sherwood bersama Robin Hood. Mungkin mereka mengidentifikasi dirinya sebagai begal budiman yang merampok orang kaya, untuk derma bagi kaum miskin.

Para mantan narapidana itu juga tak rela duka kami, sahabat-sahabat baru almarhum, terlalu dekat. Seakan takut kebangkitan mereka bisa terkontaminasi oleh pikiran kami yang mereka anggap lawan. Tapi saya tak ingin mengganggu. Saya memahami perasaan mereka yang tak mau membuang peluang itu. Tapi meskipun menyisih, saya tak ingin dihapuskan. Karena kita semua bersama bagian dari nasi rames dalam satu piring untuk selamanya.

Lalu saya cari istri Bolong. Dia sedang melipat pakaian-pakaian yang ditinggalkan suaminya. Sesuatu yang sebetulnya bisa dilakukan lain waktu. Kenapa mesti dilakukan saat penguburan suaminya? Pasti ada sesuatu.

Saya yakin dia sedang menghindar. “Maaf,” katanya mendahului, “Saya sudah tegur mereka. Ini bukan penjara, tapi mereka tetap saja menyanyikan itu. Saya kan jadi malu pada tamu-tamu yang layat.”

“Kami maklum, Bu. Persahabatan itu lebih kuat dari persaudaraan. Saudara belum tentu sahabat.”

“Tapi itu kan dulu. Bapak sudah bukan pengusung bendera hitam lagi, Mas tahu, itu, kan?”

“Ya.”

“Kami sudah tua. Almarhum selalu bilang mau menghabiskan sisa hidupnya untuk menolong orang. Kenapa mereka selalu datang?”

“Berarti pengaruli Bapak masih kuat, Bu.”

“Almarhum pernah bilang mereka semua berharap balikan mendesak dia jadi corong.”

“Bapak, Bu?”

“Ya. Tapi almarhum tidak meladeni.”

“Sekarang kesempatan mereka memaksakannya.”

Perempuan yang sedang duka itu mengusap air matanya. Aku tak sanggup melihat. Tapi mencoba menenangkannya, sebelum melangkah mundur.

“Kami paham, Bu.”

4
Seorang yang tak mau disebutkan namanya, tapi mudah diduga siapa dia, menulis surat pembaca:

“Saya tak mewakili siapa pun. Tapi saya merasa saya memaparkan apa yang ingin disampaikan oleh banyak orang. Terutama oleh mereka yang sudah sempat ditolong oleh almarhum. Saya beruntung belum pernah berutang budi oleh kebaikannya, jadi tak bisa dicurigai sebagai iklan murahan. Tetapi seorang manusia biadab yang telah menganibal manusia tak berdosa meskipun alasannya sedang kerasukan setan, hanya pantas dihukum mati.

Dan memang sudah dipenalti begitu. Tapi keajaiban terjadi. Setelah dia dieksekusi dan tim dokter sudah menyatakan dia secara medis, klinis, mati, tetapi ketika liang lahatnya mau diuruk, mendadak dia bangun dan hidup lagi. Setelah perdebatan bertahun-tahun dengan hasil tetap buntu, apakah dia perlu ditembak mati sekali lagi, dia mati secara alami.

Kebingungan kita pun senyap. Tapi mendadak sekali lagi terjadi keajaiban. Malam hari ada yang mendengar suara dari kuburnya. Ketika dibongkar ternyata dia masih hidup. Sejak itu, hukum tidak lagi menyentuhnya. Dia hidup bebas seperti kita semua. Dan yang sangat mengagumkan, almarhum dari makhluk biadab yang menyantap manusia hidup-hidup, berubah total, menjadi warga yang santun, kooperatif, selalu membantu, menolong, mendorong kita semua untuk berbuat baik, toleran, mengamalkan gotong-royong dan hidup damai dalam berbeda.

Almarhum sama sekali bukan bajingan biadab yang sudah makan orang hidup-hidup itu. Hanya tubuhnya memang itu-itu juga. Tapi jangan salah, almarhum adalah orang pintar yang sudah menolong nyawa ribuan orang. Satu kalimat saja yang ingin saya ucapkan dengan lirih supaya jangan berbau provokasi: “Mbok jangan melupakan sejarah, Bo!”

Wakyat

Bu Amat tiba-tiba menodong suaminya.
“Sejatinya Wakyat itu siapa, Pak?”

Amat tertegun. Berpikir, lalu menggeleng.

“Bapak tidak tahu.”

“Ah, masak tidak? Kita kan yang memilihnya?”

“Memilih? Memilih siapa?”

“Wakyat.”

“Siapa dia?”

“Pilihan kita, kan!”

“Kita siapa?”

“Kita yang memilih!”

“Kita ini?”

“Ya dan tidak.”

Amat ketawa.

Ibu ini dulu kan guru bahasa indonesia, sekarang kok bahasanya mundur sekali! Ngomongnya yang bener dong! Jangan seperti orang bingung. Ya, ya, ya! Tidak, ya, tidak. Tidak bisa ya dan tidak.”

Bu Amat tersenyum.

Amat berdiri mau cari angin di teras.

“Tunggu dulu, Bapak belum menjawab itu karena tidak tahu atau setuju?”

“Ya dan tidak!”

Bu Amat cemberut. Amat ketawa besar lalu ke teras. Tapi belum sempat duduk, pikirannya seperti menyengat. Ia cepat kembali masuk.

“O, maksud Ibu….”

Tapi Bu Amat sudah ngeloyor ke dapur. Amat jadi penasaran. Ia sekarang ingat sama Pak Wakyat.
Orang itu sempat dipilih oleh pengurus lingkungan untuk mengaspal ulang jalan di seluruh kompleks yang rusak tergerus hujan. Soalnya, proposal penawarannya yang terbilang paling murah.

Hanya saja ia memberi persyaratan. Sebelum jalanan diaspal, selokan air harus diperbaiki.

“Sebab kalau selokan rusak seperti sekarang ini, perbaikan jalan tidak ada gunanya,” katanya tegas waktu itu. “Biar kata dibeton sekali pun, kalau hujannya gila seperti sekarang ini, sekali byur saja, pasti banjir lagi, banjir lagi sampai satu bulan. Karena airnya tidak tahu harus pergi ke mana! Jalan yang baru diaspal pasti hancur lagi. Nanti kami yang merenovasi kena getahnya. Dianggap korupsilah atau kurang profesional! Ya, enggak?”

Warga menganggap alasan itu masuk akal. Tapi siapa yang paling tepat memperbaiki selokan?

“Terserah,” kata Wakyat, “asal orangnya punya track record bener-bener dan bukan cuma mahal tapi kerjanya betul! Soalnya untuk apa murah tapi sebentar-sebentar jebol, jatuhnya bisa 2 kali lipat mahal. Mending mahal sekalian, hasilnya bisa diwariskan ke anak cucu. Tapi ini hanya sekadar masukan dari orang lapangan. Keputusan 100 persen di tangan owner, bapak-bapak warga di sini. Ya, enggak?”

Warga manggut-manggut menyimak Wakyat lantas mendesak.

“Tapi karena ini jelas akan langsung menyangkut keselamatan proyek jalan, menyangkut langsung kredibilitas kami sebagai pelaksana proyek, mohon ada jaminan jangan sampai pekerjaan kami terganggu karena proyek saluran air got tidak beres. Karena itu kami ingatkan, ramalan cuaca sekarang sudah bingung karena perubahan cuaca yang ekstrim. Kita tidak tahu kapan hujan akan turun. Kelihatan terang, tahu-tahu mendadak hujan besar menggempur kita habis! Ya, enggak?! Ya kami blak-blakan saja bicara pahitnya, sebelum nasi keburu jadi bubur! Ya, enggak!”

Pengurus kompleks terpaksa rapat lagi. Akhirnya dengan suara bulat memutuskan: perbaikan selokan juga dipercayakan pada Wakyat sendiri.

“Wah kami kok jadi seperti telor di ujung tanduk. Kami terus terang bilang, kunci perbaikan jalan ini bukan terletak pada renovasi jalannya, bukan, Pak. Tapi pada penyebab yang merongrong jalan rusak. Ya got-got brengsek itu. Konsentrasikan alokasikan dana harus diprioritaskan ke situ dulu! Karena biayanya memang sangat, sangat mahal! Tapi itu bukan dimaksudkan agar proyek itu diserahkan ke kami! Bukan! Sama sekali bukan! Tapi kalau memang begitu keputusannya, ya apa boleh buat. Oke, oke saja. Sebagai profesional saya bersedia. Tapi dengan satu syarat mutlak. Kekuatannya harus sesuai dengan tuntutan kami, kami yang akan merenovasi jalan! Karena sekali lagi, itu akan langsung menyangkut keselamatan proyek renovasi jalan! Ya, enggak?”

Semua membenarkan. Lalu Wakyat mengulurkan sebuah proposal yang nampak sudah dipersiapkannya dengan rapi. Di proposal itu diuraikan dengan teliti bagaimana air akan digiring keluar hunian begitu jatuh ke tanah. Sangat profesional, tetapi biayanya juga tak terbayangkan.

Dua bulan warga dan pengurus lingkungan membahas proposal got dari Wakyat itu. Mula-mula hampir semua menentang hingga nyaris ditolak. Karena itu terasa terlalu pesimistik, ketakutan dan didramatisir.

Tapi tiba-tiba seorang warga vokal sekali membela sampai menggebrak meja.

“Kita sekarang sudah memasuki era kota metropolitan dengan berbagai problem milenial! Waktu dan berbagai perubahan terjadi sangat cepat di kampung, apa yang terjadi 50 tahun lalu sekarang masih sama. Tapi di era milenial besok itu bukan 24 jam yang akan datang tapi keadaan yang dulu 5 tahun baru datang, sekarang, besok begitu kita bangun tidur, sudah di sebelah kita. Nah! Kalau kita lalai, telat tidak cepat tanggap kita akan mati konyol, dilalap perubahan zaman! Kita akan tenggelam hidup-hidup! Karena itu jangan berhitung dengan uang yang bisa kita cari setiap hari. Berhitunglah dengan nyawa yang hanya satu kita punya. Jangan sayangi duit, sayangi nyawa! Berapa pun biayanya kalau menyangkut nyawa, ikhlaskan! Duit bisa dicari tapi nyawa?”

Warga itu tak sanggup melanjutkan. Tubuhnya gemetar. Ia menangis lalu pingsan. Semua jadi syok. Sejak itu skors mulai bergeser. Dan pada bulan ketiga, proposal Wakyat. baik mengenai renovasi jalan maupun pembangunan got di-acc.

Tapi Wakyat menghilang. Sementara langit mulai cenderung muram-muram seakan memberi isyarat akan curah hujan gila.

Warga cemas. Pengurus lingkungan terpaksa rapat lagi. Keluar gagasan untuk mencari pemborong baru. Ide awal dihidupkan. Lupakan got, jalan diprioritaskan jangan sampai keburu dijegal hujan. Tender pun dibuka, beberapa pemborong berebutan mau mencaplok. Terjadi perebutan untuk memilih yang terbaik.

Tetapi warga yang dulu sempat dicurigai sebagai sekutu di bawah selimut, kembali mempertahankan Wakyat.

“Inilah akibatnya kalau demokrasi itu dijadikan hobi. Berunding lagi berunding lagi sampai mati! Bikin keputusan untuk arsip sudah kerja, padahal tidak ada karya. Apa gunanya dulu berunding berbulan-bulan, meniru DPR ya! Cari Pak Wakyat. Dia orang profesional, pasti tidak mau menunggu kita selesai pidato! Dia ada di proyek! Saya ada WA-nya! Jangan tunggu banjir merendam permukiman kita! Aduh, apa saya perlu nangis lagi?”

Tapi dia sudah menangis. Dan hampir saja pingsan. Untung rapat memutuskan membatalkan tender. Dan memanggil kembali Wakyat!

“Oke, oke empati kami sepenuhnya untuk warga di sini,” kata Wakyat dalam rapat bersama warga pengurus lingkungan.

“Kita sudah ada histori. Tetapi sayang waktu tidak mau menunggu. Sebagai profesional kami tidak bisa melawan kewajiban. Sekarang kami sedang terikat proyek dengan investor asing. Tapi sebagai profesional yang kreatif, kita masih bisa memungkinkan yang tak mungkin. Hanya itu perlu biaya. Kalau kami bisa mengontrak orang untuk mengawasi proyek di situ, kami bisa kembali kepada kesepakatan kita dulu. Kami akan lakukan dengan cepat. Nah sekarang solusinya tinggal, cepat turunkan dananya, besok juga kita bisa mulai. Tapi kalau masih menunggu hasil rapat, maaf, sorry, kami tak sanggup. Jam 20.00 kami take off. Ini nomor rekening kami.”

Wakyat menyerahkan nomor rekening, lalu bersalam-salaman. Setelah itu pergi, takut dijegal kemacetan rush hour orang pulang kerja. Pengurus hunian masih perlu rapat kilat. Tapi kemudian membuka kas dan mengirim dana sejumlah yang tertulis di bawah nomor rekening yang diberikan Wakyat.

Itulah yang kemudian membuat nama Wakyat melangit, jadi sangat populer. Ia jadi “man of the year”, karena sejak itu menghilang, entah ke mana. Warga yang suka nangis dan pingsan itu pun ikut kabur.

Begitu memalukannya lakon penipuan yang canggih, dramatis, tertata rapih, lucu dan mengobarkan marah itu, sehingga seluruh warga berusaha melupakannya. Karena setiap teringat, semua orang jadi merasa dirinya begitu konyol.

Amat pernah diam-diam minta Ami menelusuri di dunia maya, siapa itu Wakyat. Soalnya kasus sejenis beberapa kali terjadi di banyak tempat. Dan reaksi masyarakat hampir sama. Karena malu, mereka mencoba mengalihkan dengan melupakannya. Kasus itu jadi tenggelam.

Jadi kalau Bu Amat mencoba mengorek lagi, “Berarti malu kita sudah mulai hampir kikis. Sekarang kita berangsur sembuh dan harus mengusut peristiwa kriminal itu tuntas! Kita harus potong mati. Kalau tidak, percuma kita mengaku negara hukum! Percuma! Kebangkitan memang biasa dimulai dari kaum perempuan,” bisik Amat dalam hati. “Malu itu konyol, kita harus bertindak sekarang!”

Amat bergegas menyusul istrinya ke dapur.

“Bu! Bapak baru sadar, baru mengerti sekarang!”

Bu Amat menjawab acuh tak acuh.

“Sadar apa? Bapak kok semangat sekali!”

“Habis bagaimana tidak, kaum perempuan selalu jadi pelopor kebangkitan!”

Bu Amat melengos sinis.

“Kalau sudah memuji pasti ada maunya. Bilang saja mau apa. Tapi kan semalam sudah?!”

“Bukan! Ini soal Pak Wakyat! Menurut Ami modus itu adalah…”

“Sudah tahu! Wak Kiat itu sudah ditangkap!”

Amat terkejut.

“Lho sudah ditangkap?”

“Sudah! Bapak selalu ketinggalan!”

“Kapan?”

“Bulan lalu!”

“Siapa bilang?”

“Ami. Anakmu, Pak! Di koran juga ada!”

Amat bengong.

“Lho, kalau sudah tahu. Ibu kok tadi nanya?”

“Habis. Wakyat itu kan sejatinya wakil rakyat, wakil seluruh rakyat! Tapi kenapa prakteknya hanya wakil partai, wakil kelompok yang kurang peduli nasib rakyat keseluruhannya?!”

Amat terpukau.


Amnesti


Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 16 September 2018)

Di zaman baheula, ada seorang bromocorah yang divonis hukuman mati. Ulahnya membunuh, menjarah, menyiksa, sangat biadab. Seluruh warga mengutuk dan berdoa supaya bajingan itu cepat mati. Dia dianggap iblis yang memberi isyarat hari kiamat sudah tiba.

Tak hanya terbatas menjarah orang kaya, bandit itu juga tak segan-segan merampok, memperkosa, membantai rakyat jelata yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan darah dingin, saraf baja, ia hirup nikmat kutukan biadab bagai pujian, sembari nyengir gila. Ia meyakini dapat kepercayaan untuk menyelamatkan dunia dan kehidupan dengan dana dari perdagangan narkoba.

“Manusia adalah serigala kata Thomas Hobbes. Untuk menggembalakannya perlu macan,” kata bajingan itu bangga. “Maka, aku jadi Raja Rimba. Hukum sudah tak bertaring lagi. Hukum hanya sandiwara untuk menipu sejarah. Itu bukan infrastruktur peradaban, bukan pasukan pengawal-pengaman kehidupan, bukan Robin Hood dari rimba Sherwood. Hukum hanya ular kobra, black mamba, bagi rakyat kecil. Hukum hanya pilar kekuasaan untuk mengamankan keangkaraan kesewenang-wenangan kekaisaran yang hanya bercita-cita tunggal: membekukan kita sebagai abdi Kaisar! Berhala yang mencincang kebebasan-kemerdekaan itu harus dicincang rata dengan tanah. Di atasnya kita bangun kerajaan masa depan yang tanpa batas. Itulah kemerdekaan sejati yang asli. Dan, aku yang akan menjamin tak seorang pun yang akan berani melanggar aturan ketertiban dan kedamaian. Karena baru sampai ada getaran niat saja di dadanya sudah langsung aku sikat musnah tandas zonder basa-basi permisi lagi yang isinya cuma bau tai!!”

Semua orang mengurut dada. Takjub juga bingung pada komentarnya yang digeber obral seluruh medsos secara mencolok besar-besaran hampir sebulan penuh. Seakan-akan tak ada kabar lain yang lebih layak dimakan rakyat.

Masyarakat jadi terteror. Gelisah, resah, gerah.

“Kenapa pernyataannya tak sedikit pun menunjukkan kegentaran ketakutan menghampiri saat eksekusi, seperti umumnya kita manusia normal? Apakah dia binatang? Itu menakjubkan. Apakah sarafnya sudah putus? Atau di dasar jiwanya ada iblis membisikkan ia berada di jalan Tuhan, yang menjadikan dia gagah berani, bahkan bahagia meninggalkan timbunan dosanya dalam kehidupan. Tidak gentar berpisah dengan sanak saudara dan handai taulannya karena percaya ia sudah disediakan lapak di surga? Alasan seperti itukah yang menyebabkan orang jadi nekat jahat, bejat, tidak toleran, antikemanusiaan, dan radikal? Atau, atau mungkinkah, mungkinkah, mungkinkah sesungguhnya dialah sebenar-benarnya yang adil, betul dan benar?”

Pertanyaan itu beranak pertanyaan, bercucu pertanyaan. Dan, akhirnya melahirkan kepasrahan. Rakyat terlalu sibuk dikepung begitu banyak masalah tiap hari. Terjadilah apa yang harus terjadi.

“Berpikir bukan tugas kami. Bukan juga urusan kami. Dan, sama sekali bukan kesenangan kami,” kata massa awam, “kami wajib bekerja, itulah fitrah kami. Mendapat sandang-pangan-papan saja sulitnya lebih dari mengasah paku jadi jarum, hidup kami akan runyam habis kalau mesti ikut-ikutan pula memandang jauh ke depan, pada kehidupan yang belum ada. Mustahil, Bro! Tiga hari keroncongan tanpa sebutir nasi, kami bukannya nanti jadi ahli, tapi satu per satu mati konyol. Jadi silakan saja di situ para dewa selesaikan merangkai peta kehidupan yang harus kami tempuh. Biarlah kami yang jelata ini mengalir saja mengikuti arus dengan mengandalkan lekukan-lekukan bumi! Asal bisa hidup walau melata, kami sudah bahagia!”

Rakyat tak sabar lagi menanti kapan eksekusi dilaksanakan. Pesta dangdut selama sepekan sudah disiapkan. Para pengusaha siap membagikan duit pada masyarakat miskin karena kematian sang terpidana mati merupakan jaminan amannya bidang usaha.

Menteri Pemuda juga sudah mendatangkan wakil-wakil kawula muda dari seluruh wilayah. Siap untuk menyambut lembaran baru, bebasnya kerajaan dari sekapan narkoba.

Tetapi apa lacur, tiba-tiba Kaisar dilaporkan mendapat mimpi buruk. Seorang kakek tua datang dan memberikan wejangan:

“Anakku hukuman mati itu adalah warisan masa lalu. Ketika manusia masih primitif. Manusia yang berbudaya berhak menerapkan ganjaran hukuman seberat-beratnya bagi bromocorah. Tapi seberat-berat hukuman, manusia tidak memiliki hak mencabut nyawa manusia lain, apa pun alasannya. Itu hak prerogatif-Nya….”

Sejak mimpi itu, kesehatan Kaisar mundur. Para pendeta dan istri sudah mendesaknya untuk membatalkan putusan mati pada Sang Bromocorah. Tapi Kaisar menolak.

“Mimpi adalah permainan tidur, yang bisa diatur orang lain. Aku ingin menegakkan hukum bukan firasat otak yang sedang lelah,” katanya tegas.

Sakit Kaisar bertambah parah. Namun, ia tetap tak mau membatalkan keputusan mati. Pada suatu hari yang sudah diduga banyak orang, Kaisar mangkat.

Kaisar digantikan oleh putra mahkota. Begitu memegang takhta, kaisar muda kontan dihadapkan pada dilema yang sulit.

Ibu suri, bundanya sendiri mendapat giliran bermimpi yang ajaib. Karena mimpi itu seakan sambungan mimpi suaminya almarhum.

“Orang tua yang datang ke dalam mimpi ayahandamu almarhum masuk ke mimpi ibu. Ia mengulang apa yang dikatakannya pada ayahmu. Kita boleh menghukum kejahatan seberat-beratnya, tetapi mencabut nyawa seseorang adalah hak-Nya. Atau …”

Raja muda adalah fotokopi ayahnya. Walaupun para menteri kerajaan memberikan masukan bulat, menyetujui apabila ia memberikan amnesti, tetapi dia menolak.

“Rakyat menginginkan orang yang sangat jahat itu mati. Karena, kalau dia masih hidup, tidak akan kurang 50 orang akan mati jadi korban narkobanya saja. Belum lagi ….”

Rakyat bersorak gegap gempita menyambut keputusan Kaisar muda. Hanya para pejuang HAM dengan dukungan berbagai kelompok dari luar negeri menyerang Kaisar Muda yang mereka nobatkan sebagai Batara Kala yang haus darah.

Perang urat saraf berlangsung gencar. Antara Kaisar yang dianggap terpasung oleh semangat ingin berbakti kepada orangtuanya dan nilai pembaruan dalam citra kemanusiaan. Perang itu disambut dengan bersemangat oleh medsos.

Namun, sebuah kejutan meletus. Sebelum menjalani hukuman, terpidana itu menulis sebuah surat. Sebuah wasiat tak langsung, untuk istri dan anak-anaknya yang bersembunyi entah di mana.

Surat itu ditujukan ke hadapan Yang Mulia Baginda Kaisar. Tapi ditembuskan ke semua medsos. Akibatnya jadi surat terbuka yang menggedor batin semua orang.

“Yang Mulia Baginda Kaisar. Tuanku, perbuatan hamba yang terkutuk, memang sudah merugikan kerajaan dan menyengsarakan rakyat. Hukuman mati ini sebenarnya terlalu ringan untuk dosa hamba. Seharusnya hamba disiksa sampai mati agar merasakan buah kejahatan hamba setimpal dengan pedih yang sudah hamba timpakan kepada rakyat. Jangan maafkan hamba. Nanti generasi muda akan meniru perbuatan hamba. Karena betapa pun laknat dosanya, toh, akan dimaafkan jangan! Kutuklah hamba agar masuk ke dalam neraka yang paling jahanam. Hanya satu permintaan hamba, janganlah keluarga hamba dibawa-bawa. Sebab mereka adalah kertas putih yang belum bernoda. Mereka jangan sampai ikut menanggung dosa hamba. Itulah permohonanku. Tak usah repot-repot memberikanku amnesti!”

Surat itu sampai ke tangan Kaisar Muda, hari itu juga. Dibaca baginda detik itu juga. Serta kontan dibalas langsung. Sementara berjuta-juta surat-dari seluruh kerajaan, yang ditulis oleh orang jompo, anak-anak papa, orang cacat, yatim-piatu dan para perempuan yang menderita masih bertahun-tahun bertumpuk, antre untuk dibuka tangan baginda.

Selesai membaca, baginda termenung, tetapi hanya sebentar. Kemudian baginda langsung menjawab dengan menulis sendiri jawabannya.

“Bung, suratmu ditulis oleh hati nuranimu yang sudah sadar, terhadap dosa besar yang sudah kamu lakukan. Hukuman yang paling berat sebenarnya memang bukan kematian, tetapi rasa bersalah yang mendalam. Maka dengan ini, aku perintahkan agar Yang Mulia Para Hakim, yang sudah menetapkan hukuman mati padamu, aku minta mencabut kembali hukumannya. Aku membebaskan kamu untuk kembali ke masyarakat. sebagai kesempatan merasakan kesalahan serta sesal dan kepedihanmu seumur hidup. Itulah hukuman yang aku anggap lebih pantas untuk menyiksamu nyahok! Agar kesakitan orang lain oleh perbuatanmu yang super biadab itu, sedikit demi sedikit, kembali, melumatmu bagai bumerang. Kamu harus menikmati karma-palamu! Digerogoti, dicabik-cabik, diiris-iris, agar batinmu perlahan membusuk setiap hari sambil kau rasakan perihnya!”

Seluruh kerajaan bergolak ketika surat balasan itu disampaikan dan dibacakan di depan umum. Rakyat meraung-raung karena merasa itu tidak adil. Sementara pers yang tadinya memakai alasan kemanusiaan cenderung membela bromocorah itu terkesima. Mereka kalang-kabut dan saling tuding-menuding menyalahkan satu sama lain. Mereka yakin, karena desakan dan ejekan merekalah, keadilan jadi terbalik.

“Ya, tapi kami sebenarnya, kan, hanya mengolah berita agar jadi menarik. Bukan maksud kami agar bromocorah itu dibebaskan. Berita, kan, barang komoditi yang harus dibuat kontroversial supaya laris dijual,” teriak satu di antaranya.

Tapi keputusan baginda raja adalah perintah. Siapa berani membantah? Maka, eksekusi dibatalkan.

Bromocorah itu menjerit kegirangan. Dia berlari melompat-lompat keliling penjara meneriakkan keputusan baginda yang membuat seluruh penghuni lapas setengah mati iri dan keki. Media sosial mengaum di seluruh negeri dengan berbagai cara.

“Keadilan keblinger! Kebenaran sesat! Hukum mencla-mencle!”

Baginda Kaisar pun diejek habis. Dianggap tak mampu menyerap kehendak zaman. Masih berkutat pada timbang rasa kuno di zaman yang kian mengeras.

“Rakyat jelata yang bodoh, awam, miskin boleh tertipu seratus kali dan masih layak dimaafkan karena kekonyolannya itu akibat keterbatasannya. Tapi seorang pejabat yang memangku nasib berjuta-juta rakyat, satu kata, satu langkah saja keliru, negeri bisa hancur lebur dan malu!”

“Mundur! Kita perlu Kaisar baru!”

“Baginda kebakaran jenggot! Inilah akibat terbiasa mengukur keadilan dari perasaan sendiri. Baginda sudah membuat hukum tak bergigi dan sekarang terpaksa gigit jari sendiri! Kaisar amatiran! Mundur! Mundurrrr!!”

“Inilah bukti kebodohan dimanjakan, belas kasihan diberhalakan, rakyat jadi korban!”
Terpidana mati yang dibebaskan menyelenggarakan pesta perpisahan dengan kroni-kroninya. Kepada mereka, ia janjikan segala balas jasa bagi yang sudah memanjakannya selama di penjara.

“Ada di antara kamu punya musuh yang harus aku bereskan?” tanyanya di depan para petugas kepada bajingan-bajingan sahabatnya sambil mengejapkan mata.

Para petugas tertawa, merasa itu lelucon. Tetapi esoknya, entah siapa sumbernya, berita itu muncul di banyak koran, membuat masyarakat heboh.

Begitu pintu penjara dibuka dan bromocorah yang dianugerahi “kewajiban untuk merasakan kesakitan buah dosanya” itu bebas, ribuan rakyat menyerbu. Bromocorah itu hanya sempat jalan tiga langkah. Keburu ribuan pasang tangan menggasak mencabik-cabiknya jadi daging cincang.

Tak hanya bromocorah itu, semua yang berbau dia disikat. Tangan rakyat tidak terkendali lagi. Ngamuk, tak terbendung oleh apa pun! Dahsyat.

Ketika kemudian para pejuang HAM protes keras, Kaisar Muda menjawab: “Siapa bilang negara membunuh orang? Kami justru sudah membebaskan dia.”



Putu Wijaya, lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali. Putra ketiga (bungsu) dari pasangan I Gusti Ngurah Raka dan Mekel Erwati. Setelah tamat dari SMAN Singaraja dan Fakultas Hukum UGM, pindah ke Jakarta. Pernah menjadi wartawan Tempo, Zaman, dan Warisan Indonesia. Mendirikan Teater Mandiri, menyutradarai film dan sinetron, serta menulis cerpen, esai, novel, dan lakon



Kemerdekaan

Kemerdekaan
by Putu Wijaya

SEEKOR PERKUTUT tua, yang tidak mampu lagi bersuara merdu, mendapat anugerah. Juragannya yang kejam, tiba-tiba membuka pintu sangkar dan memberikannya tawaran lucu. Kemerdekaan.
"Aku sudah menyangkarkan kamu bertahun-tahun. Aku sudah memperkosa fitrahmu sebagai satwa bebas yang berkelana di cakrawala. Kini aku berikan kamu hadiah, atas pengabdianmu selama ini sudah menyanyi merdu setiap hari. Kau kuberikan kemerdekaan. Terbanglah setinggi-tingginya Nikmatilah dunia ini sebebas-bebasnya," kata tuannya dengan tersenyum lebar.
Perkutut tua itu bingung, la melihat ke mata tuannya.
"Kebebasan? Bapak memberikan saya kebebasan?"
"Ya burungku sayang Aku hadiahkan sekarang kamu kemer-dekaan. Sesuatu yang dipuja-puja oleh setiap orang. Berbahagialah, sebab kini kau mendapatkannya "
Perkutut itu bertambah bingung.
"Kemerdekaan? Kemerdekaan apa?"
Tuannya tertawa
"Ah kamu jangan berlagak pilon begitu. Mulai sekarang hidup- mu adalah milikmu sendiri. Kau dapat membuat rencana. Kau bisa menggantungkan cita-citamu di awan yang paling tinggi. Kamu bisa berkoar-koar sesukamu untuk dirimu sendiri. Kau bisa merajalela mela- kukan apa saja yang kamu mau.Terbanglah.”
Pintu sangkar terbuka lebar. Tetapi perkutut itu jadi gentar. Dia memandang keluar dengan hambar. Hatinya berdebar-debar. Lalu ia menatap nanar
"Tidak. Aku tidak memerlukan kemerdekaan itu. "
Tuannya tercengang.
"Lho kenapa? Bukannya itu yang kamu nyanyikan?  Meskipun suaramu merdu, tetapi aku tahu di balik itu menjalar keperihan dan dendam karena kamu tidak bebas. Bukannya kamu memaki-makiku selama ini, karena kamu anggap aku sebagai pemerkosa hak azazimu?“
Perkutut itu menggeleng.
"Aku tidak akan menyanyikan kebebasan seperti yang ada di luar itu. Karena kebebasan itu penuh dengan bahaya. Lihat saja. Begitu aku keluar dari sarang ini, aku akan ditembak oleh siapa saja yang menganggapku sebagai burung liar. Tetapi kalau aku diam, setiap saat akan ada kucing masuk dan menerkamku. Dan lagi, kalau aku sudah bebas, kamu tidak akan memberiku makan lagi. Bagaimana aku akan bisa hidup tanpa air dan makanan, karena aku tidak terlatih untuk mencarinya? Ogah. Aku menolak kemerdekaan ini. Sebab ini bukan kemerdekaan tetapi pembunuhan, ” bisiknya di dalam hati.
Juragan perkutut itu tahu isi hati perkututnya
"Ah, kenapa pula kau Tut? Kemaren kamu menyanyikan kebebasan dan kemerdekaan. Sekarang setelah aku berikan, kamu kok menolak? Gue jadi bingung. Apa sebenarnya yang kamu inginkan?"
Perkutut itu gemetar.
"Astaga kenapa badan kamu gemetar“? Kenapa? Apa kemerdekaan itu menakutkan? Jangan percaya takhayul itu. Kemerdekaan itu memang menakutkan. Tetapi tidak berarti kamu harus menolak. Karena semua yang menakutkan akan menjadi sesuatu yang lezat sesudah kamu bisa merasakan nilainya. Dan untuk itu, kamu harus mencoba. Kalau ingin merdeka, kamu harus berani menderita. Kemerdekaan adalah penderitaan. Semua orang yang merdeka akan menderita, tetapi hanya sementara. Setelah penderitaan itu terbiasa penderitaan itu akan jadi gula-gula yang enak. Hanya orang-orang yang sudah pernah menderita yang bisa menikmati kenikmatan dengan maksimal. Ayolah. Tumbuhkan kepercayaanmu Tut. Jangan malas. Rentangkan sayapmu dan terbanglah sekarang. Jangan takut ditembak oleh pemburu binatang liar. Sebab belum tentu pemburu-pemburu itu mahir menembak. Lagipula kamu belum tentu mati kalau ditembak.” bujuk juragan perkutut itu.
Namun perkutut itu tetap tidak bergerak. Badannya semakin gemetar. Dan tiba-tiba saja burung tua itu meloncat menabrakkan dirinya ke dinding sangkar. Akibatnya fatal. Ia terpental ke dasar sangkar, tak mampu hetkutik lagi.
“Astaga!" teriak juragan. "Lihat! Dia kaget karena kemerdekaan yang mendadak. Dia mati oleh ketakutannya sendiri. Dia belum siap untuk merdeka. Kemerdekaan memerlukan persiapan dan pelajaran. Hanya orang-orang yang terdidik merdeka akan bisa menikmati kemerdekaan. Mereka yang tidak terdidik justru akan mati ketika mendapatkan kemerdekaan" desis juragan perkutut, sambil memegang bangkai perkututnya.
Lantas ia menoleh kepada sangkar-sangkar perkututnya yang lain. Burung-burung itu sedang berbunyi serentak, sehingga suaranya riuh. Entah pertanda lagu duka memandai kematian rekannya. Atau protes karena desakan untuk merdeka sudah tidak tertahankan lagi.
Pemilik perkutut takjub.
"Kemerdekaan memerlukan persiapan. Kemerdekaan memerlukan pendidikan. Aku takut, kalau nanti kalian semua sudah tua dan tak sanggup lagi menyanyi merdu, pada saatnya aku memerdekakan kamu-kamu semua, kamu akan mati seperti dia. Jadi biarlah sekarang, aku latih kamu untuk merasakan kemerdekaan. "
Dagan pikiran itu ia kemudian membuka semua pintu sangkar perkututnya. Ia yakin, tak seekor perkutut pun akan berani terbang, karena bisa mati, sebagaimana yang sudah terjadi pada rekannya yang pertama.
"Lihatlah kebebasan itu. Simak. Cium baunya. Belajarlah untuk merdeka. Kelak setelah tua aku akan lepaskan kamu semua, karena aku tidak sanggup lagi menyediakan makanan buat burung-burung tua yang tak mampu menyanyi merdu. Pelajari. . . . "
Tetapi begitu pintu sangkar terbuka, semua burung perkutut itu serentak terbang. Bahkan burung perkutut tua yang mati bunuh diri itu, meloncat kembali, hidup dan terbang ke alam bebas bersama rekan-rekannya Temyata ia hanya mengecoh.
“Kemerdekaan inilah yang kami rindukan. Kemerdekaan bersama. Bukan kemerdekaan sendiri-sendiri seperti yang sudah kamu berikan tadi, "koar perkutut tua itu keras-keras, sambil berak ke atas kepala juragan yang sudah memenjarakannya bertahun-tahun.

Sunter Mas, Jakarta, 16-8-1996

Topeng

TOPENG
by PUTU WIJAYA

Topeng yang saya beli di Campuan (Ubud, Bali) tu, mulai tua. Gurat-gurat di sekitar mata dan bibirnya makin dalam. Dahinya melebar. Beberapa helai rambut berguguran setiap pagi. Alisnya mulai memutih. Menurut istri saya, tidak pantas lagi di pajang di ruang tamu rumah kami, karenaakan menakutkan setiap orang yang masuk pintu.
Lalu kami berunding. Apa tidak sebaiknya topeng itu dipindahkan ke ruang dalam. Kalau berada di antara keluarga yang sudah menghuni rumah sejak lama, ia tak akan jadi gangguan. Kontan istri saya membentak, kenapa tidak dijual saja, sebelum menjadi beban. Barangkali hasil penjualannya bisa dipakai untuk tambahan beli kursi tamu baru yang sudah lama kami idam-idamkan.
Ketika kami beli, topeng itu masih sangat muda. Catnya baru. Dari dalam wajah itu memancar optimisme, keceriaan, yang menjadi alasan kami buat membelinya, walaupun mahal. Kalau sekarang semua itu sudah pudar, sebetulnya fungsi yang kami beli itu tidak ada lagi. Jadi tidak ada alasan untuk mempertahankannya.
Istri saya memandangi saya dengan takjub. Saya tahu perasaannya. Ia selalu heran, kenapa saya begitu pusing dengan sebuah topeng. Dari dulu ia menganggap menyimpan topeng itu perbuatan yang salah. Baginya topeng itu semacam berhala.
“Kenapa sih soal topeng saja jadi seperti menghadapi anak,” katanya dengan ketus. “Kalau tidak mau dijual ya dibuang saja. Jangan tunggu sampai aku sendiri yang membantingnya. Dari dulu juga sudah aku bilang, di rumah ini jangan kebanyakan barang. Ada patung, ada lukisan, ada barang-barang souvenir. Ada topeng. Apa rumah rumah ini museum atau rumah dukun? Kalau mau hiasan dinding mengapa tidak menggantung potret keluarga saja? Atau potret presiden supaya memberi inspirasi kepada anak-anak kita supaya pintarnya seperti presiden?”
Saya tidak ingin bertengkar dengan istri. Karena dia akan selalu menang meskipun saya lebih benar. Dia adalah penguasa di dalam rumah. Apa katanya itulah akhir dari segalanya. Tetapi untuk menjual topeng itu, apalagi membuang, saya masih merasa sayang. Akhirnya menempuh jalan tengah, saya hanya memindahkannya ke dalam gudang. Saya simpan dalam kardus rapih.
Tetapi pada suatu ketika, anak saya yang paling kecil membawa topeng itu dari gudang. Diam-diam, supaya tidak didamprat ibunya, ia mencari saya yang sedang ngobrol di rumah tetangga untuk menyiapkan acara Agustusan.
“Pak, dia menangis Pak,” bisiknya ditelinga saya.
Saya terkejut.
“Siapa yang menangis?”
Anak saya menarik saya ke samping, ke tempat yang sepi. Lalu ia membuka bungkusan yang dari tadi disembunyikannya. Saya lihat kembali topeng itu. Wajahnya semakin tua. Seluruh alisnya telah putih. Sebagian rambutnya lepas, ia nyaris botak. Dan benar juga, dia seperti menangis.
“Mungkin dia tidak mau ditaruh di dalam gudang. Mentang-mentang sudah tua masak dibuang ke gudang, padahal dulu dibangga-banggakan,” protes anak saya itu, “lebih baik kita pasang lagi di kamar depan, Pak.”
Saya pandangi topeng itu. Tangisnya terasa tertahan-tahan. Ia berusaha untuk menyembunyikannya, tetapi tidak bisa. Jelas terasa bahwa ia sedang dalam keadaan tersedu-sedu. Saya jadi merasa bersalah. Anak saya nampak amat kasihan melihat topeng itu. Ia terus mendesak saya untuk meletakkannya di dinding kamar depan kembali. Tetapi saya menolak.
Akhirnya saya suruh anak saya membawa topeng itu ke jalan Surabaya. Di tempat penjualan barang-barang antic itu, ia akan tertampung dengan baik. Jual saja berapa, tak perlu jumlahnya, kata saya memberikan instruksi. Anak saya dengan segan pergi. Ia tidak berani membantah ketika saya katakana, ibunya bisa naik pitam, kalau melihat topeng itu tergantung lagi di dinding rumah.
Sore hari ketika saya pulang, ternyata anak saya belu kembali. Istri saya cemas, lalu menyuruh saya mencari. Saya langsung pinjam motor tetangga dan melesat ke jalan Surabaya. Di situ sudah mulai sepi. Anak saya dengan mudah saya temukan sedang termenung di bawah pohon di depan sebuah tokoh antik.
“Taksu? Kenapa masih di sini?” bentak saya agak penasaran.
Taksu, anak saya itu menunjukkan bungkusan topeng itu.
“Belum laku.”
“Ya sudah, ayo naik, kita pulang saja. Dan jangan bilang-bilang kamu sudah ke mari untuk jual topeng kalau nanti sampai di rumah. Kalau perlu kita buang saja di jalan. Ayo naik.”
Taksu langsung naik. Heran juga, saya bentak seperti itu, ia bukannya kesal, malahan gembira. Saya mulai curiga. Apalagi ketika motor hendak saya putar menuju arah rumah, pemilik toko antik itu tiba-tiba keluar dari tokonnya sembari memanggil.
“Hee tunggu!”
Saya menoleh.
“Terus saja,” kata anak saya.
Tapi saya menunggu, karena orang itu mendekat. Mukanya cekung, seperti patung-patung primitive.
“Empat saja ya!”
Saya tak menjawab, sebab matanya memandang mata anak saya.
Anak saya menggeleng.
“Empat setengah?”
Anak saya menggeleng.
“Ayo Pak, kita pulang saja.”
Saya bingung. Tapi kemudian saya menstater motor kembali. Orang itu cepat mencegat.
“Sudah ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah bungkusan. Tangan yang lain meminta supaya anak saya menyerahkan bungkusan topeng itu.
Anak saya kelihatan ragu-ragu. Saya heran.
“Ya sudah kasihkan,” bentak saya.
Orang itu sendiri yang kemudian mengambil bungkusan topeng itu dari tangan anak saya. Lalu ia menyerahkan uang itu ke tangan anak saya, karena anak saya nampaknya segan menerimanya.
Saya bengong menerima uang itu. Orang itu cepat-cepat membuka bungkusan topeng itu. Hati saya berdesir, ketika melihat topeng itu keluar dari bungkusan koran. Saya mendengar jeritannya, karena dipindahtangankan. Tapi saya tak peduli, karena saya lebih heran lagi melihat bungkusan uang di tangan saya, kenapa begitu tebal.
Karena hari sudah terlalu sore, saya masukkan bungkusan uang itu ke balik jaket, lalu menghidupkan kembali motor. Saya melambai kepada pemilik toko antik itu, tapi ia tak membalas karena terlalu asyik pada topeng di tangannya.
Di tengah perjalanan saya baru tahu, anak saya sudah menawarkan topeng itu terlalu tinggi. Terutama karena ia sebenarnya diam-diam berharap, tak seorang pun yang mau membelinya.
“Kamu tawarkan berapa?” teriak saya mengatasi suara motor dan deru lalu lintas.
“Lima.”
“Lima apa?”
“Ya lima ratus ribu.”
Hampir saja motor yang saya kendarai diserempet bus, ketika mendengar lima ratus ribu. Jadi uang yang saya kekep di dalam dada saya itu jumlahnya lima ratus ribu. Saya terpaksa memperbaiki letak jaket, takut kalau-kalau uang itu jatuh. Jumlah itu sangat meyakinkan. Cukup untuk menambah kekurangan tabungan kami membeli kuris baru yang sangat diidam-idamkan oleh istri saya.
Sementara Taksu terasa amat sedih oleh kehilangan topeng itu, saya berpesta dalam hati. Motor saya gas, supaya lebih cepat sampai. Begitu masuk ke pagar rumah, saya tak sempat lagi mengembalikan motor itu ke tetangga. Saya perintahkan saja agar Taksu yang membawanya disertai ucapan terima kasih. Saya sendiri lari ke dapur.
Saya langsung memeluk dan mencium pipi istri saya yang sedang menggoreng ikan asin. Dia terkejut. Sebelum dia melabrak saya, cepat-cepat saya rogoh dada dan keluarkan bungkusan uang itu.
Mata istri saya melotot.
“Apa itu?”
“Ya buka sendiri, apa!”
Istri saya menaruh sendok gorengannya, lalu membuka bungkus koran itu. Pada detik itu dada saya bertalu. Tiba-tiba saya merasa sangat bodoh. Kenapa bungkusan itu tidak saya buka tadi, ketika diserahkan. Bagaimana kalau sekarang isinya hanya gumpalan kertas tok?
Dengan perasaan dingin, seakan-akan tak ada yang bisa mengagetkan hatinya, istri saya membuka bungkusan. Ketika nampak isinya, ia baru terperanjat. Saya juga bengong. Ternyata di luar dugaan, uang di dalam bungkusan itu bukan lima ratus ribu.
Istri saya menghitungnya. Astaga ternyata bukan lima ratus ribu, tapi lima juta.
Kami berdua bingung. Ketika Taksu dating, ia juga ikut bengong. Serta-merta kesedihan yang tadi terbayang di mukanya hilang. Rupanya pembeli topeng itu menyangka nilai lima yang ditawarkannya itu lima juta. Rupa-rupanya sudah terjadi drama. Semakin tinggi harga yang ditawarkan, semakin tak rela kita melepaskannya, barang itu jadi semakin berharga di mata pembeli.
“Kau ini punya darah dagang tulen!” teriak saya memeluk Taksu. “Lima juta tak hanya cukup untuk membeli kursi yang dua kali bagusnya dengan mimpi ibumu, tapi juga bisa dipakai untuk liburan seluruh keluarga satu kali lagi ke Bali.”
Malam itu kami semua tertawa.
Dan sejak itu pula, istri saya, membiarkan dinding rumah kami digantungi topeng. Gudang dibongkar, topeng-topeng tua dipanjang kembali. Ada yang dari Kalimantan, Irian, Afrika dan tentu saja dari Bali. Istri saya yang dulu membenci topeng, kini rajin sekali merawat pajangan itu. Dengan harapan tersembunyi, nanti kalau sudah lapuk, topeng-topeng itu bisa dijual dengan harga lima juta di toko antik.
Kini rumah kami perlahan-lahan benar-benar menjadi semacam museum. Lebih merupakan toko antik daripada rumah tinggal. Apalagi pada suatu kali kemudian istri saya pulang membawa sebuah bungkusan yang berisi topeng, yang baru saja dibelinya.
“Dinding rumah sudah terlalu sesak, kita tidak perlu topeng lagi,” bantah saya.
Tapi istri saya tidak peduli.
“Ini lain,” katanya sambil membuka bungkusan. “Aku merasa topeng ini akan membawa keberuntungan, begitu aku lihat dipajang di toko, hatiku seperti diketuk, aku yakin sekali itu pertanda akan membawa hoki. Akhirnya aku ambil uang di bank dan membelinya.”
Saya terpesona.
“Kamu ambil uang berapa?”
“Ya, seharga topeng itu.”
“Ya berapa?”
“Sepuluh.”
“Sepuluh apa?”
“Sepuluh juta.”
Saya seperti hendak pinsan. Gila. Beli topeng sepuluh juta itu sinting. Saya langsung mau marah. Kami bukan orang kaya, bukan kolektor, bukan makelar topeng. Topeng tetap saja topeng, tidak perlu sampai sepuluh juta. Itu namanya bunuh diri. Tapi begitu mulut saya terbuka mau nyemprot, bungkusan di tangan istri saya terbuka. Tersembul wajah topeng yang dibelinya itu. Saya tercengang.
“Bagus kan?” kata istri saya, memperagakan topeng, sambil agaknya mengulangi apa yang sudah diucapkan oleh penjualnya. “Lihat rambutnya memutih. Tapi dari ketuaannya, terasa tidak, terasa ada pancaran kebijaksanaan yang kuat sekali. Ini bukan hanya topeng, tetapi inti kehidupan. Sesuatu yang bisa memberikan keseimbangan batin sehingga jiwa raga kita sehat dari berbagai kesulitan hidup yang makin ganas. Coba saja simak. Dan lebih dari itu, perhatikan, coba simak baik-baik ia terasa seperti tersenyum kan? Nah, kalau patung saja tersenyum, kita yang hidup mestinya juga begitu. Kalau hati kita tersenyum, hidup kita juga ikut tersenyum. Disitulah letak kehebatan topeng ini. Ia mengajak kita tersenyum melihat kehidupan, baru hidup itu akan berarti.”
Saya tak menjawab. Saya yakin kata-kata itulah yang sudah diucapkan oleh penjual topeng itu untuk merayu istri saya. Dan yang penting dari segala, sialan, topeng itu adalah topeng yang duul saya jual di jalan Surabaya dengan harga lima juta.

Sunter Mas, 19-71995
Kemarin Mas Subagio Sastrowardoyo meninggal.


Maling3

MALING
5 September 2009 pukul 3:53
cerpen
Putu Wijaya

MALING


Di jalanan yang sudah bertahun-tahun saya lalui ada rumah orang kaya. Depan rumahnya ada sebatang pohon kelapa gading. Buahnya terus berlimpahan seperti mau tumpah. Kalau lewat di situ, saya selalu kagum. Tapi juga tak habis pikir. Mengapa kelapa itu tak pernah dijamah. Mungkin pemiliknya terlalu kaya sehingga sudah tidak doyan lagi minum air kelapa. Padahal kalau saya yang punya, tiap hari tidak akan pernah saya biarkan lewat tanpa rujak kelapa muda.
Perasaan saya sama dengan orang-orang lain. Mereka juga heran. Karena mereka pun tahu, setiap bulan puasa, kelapa muda di mana-mana laris. Hanya dengan gula merah dan jeruk nipis, buah itu mengantar ke surga di saat buka. Ditegak langsung juga sedapnya bukan main. Semua minuman keluaran pabrik yang digondeli seabrek bahan pengawet dan zat warna, lewat. Kelapa memang nomor satu.
Setelah berhasil membeli rumah yang saya kontrak, yang pertama saya lakukan adalah menanam kelapa gading. Tidak perlu diurus, tak peduli bagaimana curah hujan, kemarau kepanjangan sekali pun, kelapa itu terus tumbuh. Dalam waktu 5 tahun mulai berbuah. Lebatnya juga tidak ketulungan.
Tapi aneh. Setelah punya pohon kelapa sendiri yang ngamuk berbuah seperti milik orang kaya itu, selera saya menegak kelapa muda, berhenti. Buah kelapa saya biarkan saja tergantung di pohonnya sampai tua. Baru kalau ada bahaya bisa menjatuhi kepala orang lewat, atau menghajar kap mobil, saya suruh sopir menurunkannya.
Ketika satpam di kompleks dengan malu-malu datang minta satu dua kelapa muda untuk buka puasa, dengan tangan terbuka saya persilakan.
“Silakan-silakan, ambil saja. Sepuluh juga boleh!”
Satpam itu nampak segan..
“Dua saja cukup, Pak,”katanya malu-malu.
Tapi belakangan pembantu saya mengadu.
“Bukan dua, bukan tiga, bukan lima, tapi sepuluh butir kelapa yang dipetik si Rakus itu, Pak!”
Saya sabarkan dia. Saya bilang, pohon kelapa itu justru akan semakin rajin berbuah kalau buahnya dipetik. Pembantu saya tidak berani menjawab. Tapi dia ngedumel terus. Mungkin dia marah karena tidak dibagi. Saya biarkan saja itu jadi urusannya.
Bulan puasa berikutnya, satpam itu tidak minta izin lagi. Dia selalu memetik kelapa kalau mau buka. Kembali pembantu saya marah. Saya hanya ketawa.
“Kalau kamu mau, ambil sendiri dong, jangan marang doang”kata saya .
“Bukan begitu, Pak.”
“Minta tolong sopir biar kamu dipetikin!”
“Terimakasih, Pak. Memangnya saya tupai, saya tidak doyan kelapa!”
Saya ketawa. Kalau pembantu berani ngumpat-umpat di muka majikan seperti itu, bagi saya tanda hubungan kemanusiaan di antara kami masih sehat. Saya tidak pernah menganggap pembantu itu manusia yang lebih rendah dari majikan. Itu soal pembagian tugas dan nasib saja. Itu karena ibu saya sendiri dulu adalah bekas pembantu.
Tapi kemaren, pembantu saya mengetuk pintu kamar. Saya agak marah, karena saya sedang tidur enak.
“Kan sudah aku bilang aku mau tidur, jangan diganggu!”
“Tapi ini gawat Pak.”
“Gawat apa?”
“Memangnya Bapak sudah ngijinin?”
“Ngijinin apa?”
“Itu ada dua orang yang lagi ngambil kelapa, Pak!”
“Biarin aja. Apa salahnya satpam buka dengan air kelapa muda? Satpam juga manusia. Kamu saja terlalu sensitif!”
“Tapi itu bukan si Rakus itu, Pak!”
“Bukan?”
“Bukan sekali!”
“Siapa?”
“Coba Bapak lihat sendiri. Nyebelin sekali, Pak. Sudah tidak pakai permisi, main ambil tangga aja, apa dia pikir itu punya moyangnya, pakai golok di dapur segala , nyuruh bikin kopi lagi, Pak!”
Saya tertegun. Sambil membetulkan resluiting celana, saya keluar rumah.
Di atas pohon kelapa nampak seorang lelaki sedang mengebul-ngebulkan asap rokok. Ada tali yang terentang ke bawah dari dahan kelapa, untuk mengirim kelapa yang tangkainya sudah di kapak. Di dekat bak sampah, temannya sedang memasukkan kelapa yang sudah dipetik ke dalam karung. Saya hitung sudah dua karung. Rupanya kelapa saya mau disikat habis.
“Heee, lagi ngapain!”teriak saya terkejut.
Lelaki yang di bawah menoleh. Dia tersenyum sopan.
“Selamat sore Pak.”
“Kamu lagi ngapain?”
“Lagi metikin kelapa, Pak.”
“Lho ini kan kelapa saya?”
“Betul, Pak.”
“Kenapa dipetik?”
“Nanti ketuaan, Pak?”
“Lho apa urusan kamu? Ini kan pohon kelapa saya?”
Orang itu berteriak kepada temannya yang di atas.
“Jo, Bapaknya nanyain ini!”
Orang yang di atas menoleh ke bawah ke arah saya.
“Kenapa Pak?”
“Emang kamu mau ngabisin kelapa saya?”
“Ya sekalian, Pak. Besok saya mudik.”
“Terserah. Tapi ini kelapa saya!”
“Ya, Pak!”
“Ya apa?! Kenapa kamu ambilin kelapa saya?”
Orang itu tertegun heran.
“Emang kenapa Pak?”
Saya mulai marah.
“Jangan ngomong dari atas. Ayo turun kamu!”
“Tinggal dikit lagi, Pak. Nanggung.”
Saya tambah keki.
“Turunnn!”
Suara saya menggelegar. Saya sendiri terkejut. Tetangga depan rumah sampai melonggokkan kepalanya di jendela. Lelaki di atas pohon itu tiba-tiba menjatuhkan kapak dari atas pohon. Menancap ke atas rumput depan pagar. Darah saya tersirap, seakan kapak mengiris leher saya. Terus-terang saya ngeper. Meskipun kelapa itu milik saya, saya tidak mau mati konyol hanya karena soal kelapa.
“Kenapa Pak?” tanya lelaki itu setelah dengan sigapnya turun.
“Saya cuma mau tanya. Kenapa kalian memetik kelapa saya?”
“Tapi kan saya sudah saya bayar, Pak.”
“Apa?”
“Sudah saya bayar, Pak.”
“Bayar apa?”
“Harganya. Kan sudah saya naikkan seperti yang diminta.”
“Harga apa?”
“Harga kelapanya semua, Pak.”
“Kamu beli kelapa saya?”
“Ya Pak.”
“Tapi ini kelapa saya, tahu!”
“Betul Pak!”
“Kelapa ini tidak dijual!”
Lelaki itu bingung. Dia menoleh temannya. Lalu temannya menghampiri. Dia berusaha menjadi penengah. Dengan suara yang sejuk, dia menyapa.
“Kami sudah bayar lunas, Pak.”
“Bayar lunas apa?”
“Kelapanya. Semua. Kami borong, Pak.”
“Aku tidak jual kelapa!”
Ganti orang itu nampak heran. Dia balik menoleh temannya. Lalu temannya mengambil kapak. Dada saya berdetak. Semangat saya amblas. Saya betul-betul tidak ingin berkelahi soal kelapa. Itu terlalu sembrono.
“Begini, Pak, “kata lelaki yang membawa kapak itu,”Memang belum lunas semua, tapi seperempatnya lagi akan dibayar setelah kami rampung .”
Lelaki itu lalu merogoh saku mengeluarkan dompet.
“Mana duitnya?!”
Temannya ikut merogoh saku dan mengeluarkan amplop.
“Nih lunasi sekarang!”
Lelaki itu memasukkan isi dompetnya ke dalam amplop.
“Sana kasih sekarang!”
“Tapi itu kelapanya masih ada?”
“Udah cukup. Bapak ini kali mau minta yang kecil-kecil itu jangan diambil dulu,”katanya sambil menoleh saya dengan tersenyum, “Ya kami juga tidak akan ngambil itu, Pak. Ini saja sudah cukup. Cepetan sana bayar!”
Orang yang membawa amplop itu, bergerak pergi menuju ke pos satpam.
“Begitu, Pak. Kami tidak pernah nakal.”
“Jadi kamu beli kelapa saya?”
“Ya Pak.”
“Beli dari siapa?”
“Pak satpam, Pak.”
Saya terhenyak. Marah saya meledak lagi. Tapi kapak di tangan lelaki itu terlalu menakutkan. Saya terpaksa menelan perasaan saya. Lelaki itu tidak bicara lagi. Ia mem asukkan semua kelapa yang dia anggap sudah dibelinya ke dalam karung. Waktu itu tetangga saya keluar dari rumah dan menyapa.
“Dijual berapa?”
Saya hanya menggeleng. Tapi lelaki yang membawa kapak itu menyahut.
“Seratus ribu, Pak.”
“Wah lumayan! Boleh juga!”
Saya tak menjawab. Sayup-sayup saya dengar suara satpam di pos. Entah apa yang mereka bicarakan.
Tak sanggup melihat buah yang selalu saya pandangi sebagai keindahan itu, sekarang berserakan di jalan, diam-diam saya masuk ke rumah. Korden jendela saya tutup. Saya tidak mau atau katakan saja takut melihat kenyataan itu
Di luar saya dengar suara entakan sepatu satpam datang. Saya tak percaya dia akan masuk, lalu menyerahkan hasil penjualannya. Itu hanya harapan saya.. Dan saya jadi benci sekali karena semuanya itu tetap hanya harapan.
Semalaman saya tak bisa tidur. Istri saya menyarankan agar menegur satpam yang kurangajar itu. Tapi saya punya rencana yang lain. Orang itu tidak cukup ditegur. Dia harus diberikan pelajaran biar tahu rasa
Pagi-pagi, saya berunding dengan sopir yang antar-jemput saya ke kantor.
“Kamu kamu berbuat baik, Jon?”
“Apa itu, Pak, boleh.”
“Kamu tahu tukang sayur yang selalu lewat dengan gerobaknya pagi-pagi itu?”
“Tahu, Pak.”
“Cantik kan?”
“Ah Bapak, sudah peot begitu, masak cantik.”
“Jangan begitu. Dulu dia cantik. Sekarang karena kurang terurus dan kerja keras, anaknya juga sudah dua, jadi layu begitu.”
“Ya Pak. Dia suka mengeluh, suaminya mau kawin lagi. Tidak pernah ngurus anak bininya sekarang. Pulang juga jarang.”
“Coba hibur dia.”
“Hibur bagaimana, Pak?”
“Kembalikan kepercayaan dirinya!”
“Bagaimana itu Pak?”
“Kamu katakan kepada dia, dia itu sebenarnya cantik, asal mau mengurus badannya lagi.”
Sopir ketawa.
“Ah Bapak bisa aja!”
“Lho ya nggak? Jujur saja! Kalau dia mau ngurus badan lagi, dengan gampang dia bisa dapat suami baru. Ya tidak?!”
Sopir saya ketawa. Dia melirik saya dengan mata curiga.
“Aku serius!”
Sopir itu tak menjawab. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Di kantor saya intip dia bisik-bisik dengan sopir lain. Pasti sedang menebar gossip. Saya pura-pura tidak tahu. Tetapi kemudian apa yang saya rencanakan terjadi.
Sehari kemudian, sore menjelang saat buka, terjadi kegegeran. Satpam sudah menunggu saya di teras. Mukanya nampak terlipat oleh kemarahan.
“Kenapa Min ?”
“Ada masalah, Pak!”
“Masalah apa lagi? Ada bom?”
“Bukan ini pribadi, Pak!”
“O, kamu mau kawin lagi?”
“Ah itu gossip, Pak!”
“Atau sudah kawin?”
“Sumpah, Pak, mana mungkin saya kawin lagi.. Yang satu saja tidak sanggup saya urus, sampai dia terpaksa jualan sayur dengan gerobak.”
“Ya, kamu kok sampai hati membiarkan istri kamu dorong gerobok, padahal dia asma kan?”
“Itulah, Pak!”
“Makanya jangan kawin melulu!”
“Sumpah, Pak, tidak. Malah saya yang kena batunya sekarang!”
“Kena batunya gimana?”
“Istri saya ada yang godain, Pak!”
“O ya?”
“Betul, Pak! Istri saya digoda!”
“Digoda bagaimana?”
“Masak istri saya dibilang cantik, Pak!”
“Lho istri kamu kan memang dulu cantik? Kalau tidak, mana mau kamu!”
“Memang. Tapi itu kan dulu, Pak. Sekarang anaknya sudah dua, asma lagi, mana ada cantiknya. Ngga ada orang yang akan melirik dia, kecuali kalau ada niat jahat.”
“Maksudmu apa?”
Satpam itu pindah kursi, mendekatg, lalu bicara dengan berbisik.
“Ini menyangkut sopir Bapak.”
“Si Jon?”
“Betul, Pak.”
“Kenapa dia?”
“Masak dia merayu istri saya, Pak!”
“Merayu bagaimana?”
“Katanya, istri saya itu sebenarnya cantik, asal saja mau dandan lagi. Kalau sudah dandan dia nanti gampang cari suami baru! Begitu Pak!”
“Terus?”
“Ya kalau si Jon itu tidak ada maksud apa-apa, dia tidak akan bilang begitu. Saya tahu persis apa maunya kalau laki-laki sudah ngomong memuji-muji begitu. Perempuan kan lemah hatinya, Pak. Kalau sudah dipuji, apa saja dia kasih.”
“O ya?”
“Betul, Pak.”
“Jadi sekarang maksudmu apa?”
“Ya Bapak tolong kasih tahu, janganlah si Jon itu coba-coba dengan istri saya!”
“Tapi kamu kan sudah tidak memperhatikan istri kamu lagi.”
“Bukan tidak memperhatikan, Pak.”
“Terus apa?”
“Nggak punya duit saja, Pak. Bagaimana saya memperhatikan kalau tidak ada duit yang bisa saya kasihkan?”
“Memperhatikan itu tidak harus dengan duit. Istri kamu kan sudah kerja sendiri. Katanya malah kamu yang sering minta duit dari dia? Betul?”
“Betul, Pak.”
“Kenapa?”
“Kan dia itu istri saya!”
“Jadi meskipun tidak kamu perhatikan, dia itu tetap istri kamu kan?!!”
“Betul, Pak. Makanya saya marah. Hanya karena saya ini satpam, saya jadi serba salah. Saya tidak berani melakukan kekerasan, masak satpam yang harusnya menjaga keamanan melakukan kekerasan. Tidak betul kan, Pak!”
“Jadi maksud kamu apa?”
“Saya minta Bapak ngasih tahu si Jon, janganlah ganggu istri saya. Meskipun tidak saya perhatikan, tapi dia tetap istri saya. Orang tidak boleh mengganggu perempuan yang masih berstatus istri orang lain. Ya kan Pak?!”
Di situ saya tertegun. Jadi dia bukan tidak mengerti. Dia tahu. Meski pun tidak ditunjuk-tunjukkan, hak itu tetap hak. Kenapa dia sangat mengerti dan menuntut haknya agar dihormati sebagai suami oleh orang lain, tapi pada saat yang sama dia dengan seenaknya saja melangkahi hak saya terhadap pohon kelapa. Apa karena tidak saya petik, berarti kelapa itu boleh dia jual?
Lamunan saya terganggu, karena tiba-tiba istri satpam, tukang sayur itu, muncul.
“Jangan didengar omongannya, Pak!” katanya dengan berani. “Dia ngaku-ngaku saya istrinya lagi, karena ada maunya! Baru dengar saya dapat warisan dari nenek saya di kampung, langsung dia ngaku bapaknya anak-anak lagi. Tapi kemaren-kemaren apaan, anak-anaknya sendiri digebukin, kepala saya dikencingin!”
Saya takjub. Satpam itu kelihatan pucat. Tapi tiba-tiba dia membentak.
“Ngapain lhu ikut-ikutan kemari? Pulang!”
Istrinya sama sekali tidak takut. Ia balas menggertak.
“Lhu kagak usah nyuruh-nyuruh gua pulang, gua memang mau balik kampung sekarang. Gua cuma mau pamitan sama Bapak! Pak, saya pamit pulang, Pak. Maapin kalau saya ada salah.”
Perempuan itu mengulurkan tangan minta bersalaman. Saya terpaksa menyambutnya. Ia mencium tangan saya sambil menangis.
“Maapin kesalahan-kesalahan saya, Pak, saya terpaksa pulang. Saya tidak kuat lagi di sini.”
Satpam mula-mula hanya memandang, tetapi kemudian berdiri, lalu menarik istrinya untuk dibawa pulang. Yang ditarik melawan. Saya terpukau menonton. Untung istri saya muncul dan menarik istri satpam itu, langsung diselamatkan masuk.
Satpam tidak berani bertindak lebih jauh. Seperti orang tolol dia berdiri di depan saya. Saya siap mencegah, kalau dia mencoba mau menyusul masuk. Tapi itu tidak terjadi. Malah kemudian dia menangis.
Saya tunggu saja sampai tangisnya reda. Rasanya agak aneh melihat satpam mewek seperti itu.
“Saya memang salah, Pak.”katanya kemudian , “saya baru ingat istri, kalau sudah ada yang menggoda. Hari-hari saya sia-siakan. Anak tidak pernah saya urusin. Giliran mereka mau pulang kampung, baru saya sadar. Untung dia bilang, jadi saya bisa nyegah. Untung dia mau pulang, kalau tidak, saya pasti terus lupa saya sudah punya istri, punya dua anak. Saya sudah lupa daratan, Pak Saya menyesal, Pak.”
Saya tidak menjawab. Saya menunggu dia bergerak satu langkah lagi. Minta maaf sebab dia sudah dengan seenak perutnya menjual kelapa saya tanpa persetujuan. Tapi penantian itu nampaknya akan sia-sia. Satpam itu lebih sibuk memikirkan istrinya yang baru dapat warisan itu tapi akan meninggalkannya. Saya jadi geram. Akhirnya saya terpaksa ngomong juga.
“Jadi sekarang kamu sadar! Memang kita baru ingat milik kita kalau sudah diambil orang. Itu biasa. Semua orang juga begitu! Tapi meskipun maling itu ada gunanya, tetap saja namanya maling!! Kudu dihukum!”
Satpam terkejut. Mukanya merah padam. Tiba-tiba ia berhenti menangis lalu berkata geram.
“Kurangajar! Pasti si Jon tahu istri saya dapat warisan! Malingggg!” teriaknya ganas sambil mencabut pisau lalu kabur ke garasi tempat sopir saya membersihkan mobil.
“Malingggg!”
Saya jatuh bangun mengejar. Tapi terlambat. Dia sudah membacok tengkuk sopir saya.
Untung si Jon seorang pendekar. Dengan refleknya yang luar biasa dia menepiskan serangan satpam itu. Pisau satpam terlempar ke tembok. Lalu tangan si Jon terangkat. Tangan yang bisa membelah tumpukan bata itu akan meretakkan muka satpam. Saya berteriak.
“Jangan!!!!!”
Sekarang saya menyesal.
“Mengapa Bapak teriak jangan? Maling apa pun alasannya, perlu mendapat pelajaran, biar kapok!”kata istri saya mencak-mencak, sesudah peristiwa itu berlalu.
Sebenarnya saya tidak bermaksud mencegah. Hanya sopir saya tidak mengerti, dengan berteriak “jangan” maksud saya “hajar”. Masak saya harus bilang pukul. Nanti saya disalahkan menzalimi orang lemah. Saya kan Ketua RT.


Jakarta, 4 September 09
(setelah berita tentang pulau Jemur)

Seratus Hari

SERATUS HARI
29 Januari 2010 pukul 9:54
Putu Wijaya

SERATUS HARI

“Seratus hari bukan ukuran untuk menilai kinerja 5 tahun yang belum terjadi, tetapi menerima sapa untuk meluruskan apa yang sedang bergolak, adalah kewajiban pemimpin sejati yang mencintai rakyatnya dengan jiwa besar sebagai pancaran kalibernya,” kata Amat.

Bu Amat mendekat sambil menyodorkan pisang goreng.

“Jangan suka bersembunyi di balik kata-kata. Bapak bicara saja terus-terang, apa maksudnya?”

Amat tertawa.

“Kalau bakul jamu bicara terus-terang, tidak akan ada yang mau membeli obat kuatnya, habis itu kan serbuk tepung biasa!”

“Ya itu bakul jamu. Kita kan bukan tukang obat. Bicara apa adanya saja! Coba cicipin pisang gorengnya, enak tidak? Nanti keburu dingin. Kalau sudah layu, apa saja nggak enak!”

Amat ketawa. Dia menerkam pisang goreng. Begitu dikunyah dia meringis. Pisang tanduknya asem. Ia terpaksa menelan yang sudah dimulutnya lalu meletakkan sisanya.

“Enak tidak?” teriak Bu Amat dari dapur.
Amat cepat menjawab.

“Enak!”

Kemudian Bu Amat muncul lagi dengan sepiring pisang goreng. Melihat pisang itu belum habis dilalap suaminya, ia tertegun.

“Betul enak?”

“Enak kok.”

“Kalau enak kok tidak habis?”

“Kan masih panas.”

“Ami tadi kok bilang asem?”

“Ah si Ami itu kan seleranya kacau. Dia tidak tahu kalau asem itu berarti mengandung vitamin C!”

“Jadi benar asem?”

“Ya, tapi kan baik untuk kesehatan?”

Bu Amat kontan mengambil lagi piring pisang goreng dan membawanya ke dapur sambil menggerundel.

“Aduh! Coba tadi bilang terus-terang asem!. Sekarang pisang gorengnya sudah dikirim ke tetangga! Malu-maluin saja! Makanya kalau ngomong jangan suka sembunyi di balik kata-kata. Bisa bingung kita semua!”

Amat terkejut. Ia cepat-cepat berdiri dan pergi ke tetangga. Mereka baru semalam menghuni rumah sebelah. Anak-anaknya banyak. Alat-alat rumah-tangganya belum datang. Bu Amat mungkin mencoba untuk memberikan kesan baik dengan mengirim pisang goreng untuk sarapan pada anak-anak itu. Kalau kesan pertamanya buruk, pergaulan selanjutnya bisa runyam.

“Permisiiii,”sapa Amat.

Tetangga keluar rumah dan menyambut dengan ramah.

“Selamat pagi, pak Amat.”

“Selamat pagi, bagaimana rumahnya enak?”

Belum sempat menjawab, istri tetangga keluar.

“Aduh pak Amat, terima kasih sekali pisang gorengnya. Enak sekali. Manis sekali. Belum apa-apa sudah diserbu anak-anak semua langsung habis. Alat-alat dapur kami belum datang. Mobilnya mogok di jalan. Untung ada kiriman dari Bu Amat, kalau tidak anak-anak bisa masuk angin tidak sarapan.

"Terimakasih banyak.”

Amat hanya bisa senyum-senyum pahit. Ekor matanya menerjang ke dalam rumah. Memeriksa apa betul pisang itu sudah diganyang habis. Atau itu juga permainan kata-kata, demi menjaga nama baik untuk pergaulan berikutnya bertahun-tahun sebagai tetangga.

“Terimakasih pak Amat. Kami sudah dengar Bu Amat pintar memasak. Kami beruntung jadi tetangga Pak Amat,”kata tetangga itu sambil mengguncang tangan Amat ketika hendak kembali pulang.

Bu Amat bengong mendengar suara suaminya di sebelah. Begitu Amat kembali dengan membawa piring bekas pisang goreng, ia langsung mengorek.

“Bapak ngapain ke situ?”

“Tadinya mau minta maaf, pisang gorengnya asem. Ternyata buat mereka enak.”

“Masak?”

“Ya, semuanya bilang enak. Sampai rebutan. Mungkin mereka jarang jajan. Habis kelihatannya keluarga sederhana. Pisang goreng asem saja sudah enak.”

“O ya?”

“Kata ibunya, begitu sampai langsung disikat habis sama anak-anak sampai mereka sendiri tidak kebagian. Kalau tidak enak, mereka tidak akan membalas dengan ini!”

Amat menunjukkan sebungkus dodol garut.

Bu Amat mengernyitkan alisnya.

“Memang selera orang lain-lain. Bapak kalau dimasakin di rumah, apa saja, pasti ada saja yang dicacad. Keasinankah, kepedesankah, tawarkah “kata Bu Amat sambil meraih dodol garut itu dan merobek bungkusnya.

Amat nyengir.

“Ya orang lain selalu bisa menilai lebih baik.”

Bu Amat mencicipi dodol garut. Tiba-tiba dia tertegun.

“Enak?”

Bu Amat mengangguk.

“Enak. Kalau tidak enak, tidak akan disimpan lama-lama sampai jamuran,”katanya sambil menyerahkan dodol garut itu ke tangan Amat.

Amat memperhatikan dodol itu. Tidak kelihatan ada tanda-tanda sudah jamuran. Mungkin itu hanya perasaan istrinya. Lalu ia mencomot dan mencicip.

“Enak?” tanya Ami yang hendak berangkat ke kampus.

Amat tak menjawab. Tapi mukanya menunjukkan bahwa dodol itu memang sudah kedaluwarsa.

“Kalau sudah jamuran, jangan dimakan Pak, bisa keracunan, muntahkan saja ke tempat sampah!”

Amat buru-buru mencari tong sampah dan memuntahkan apa yang ada dimulutnya. Kemudian dia membanting dodol itu sambil memaki.

“Sialan! Baru satu hari, belum seratus hari sudah bikin perkara! Ini tetangga busuk!”

“Sabar Pak! Jangan main cap begitu. Bertetangga juga belum ada sehari. Lihat niat baiknya saja!”

“Ya tapi, mereka juga tidak boleh ngukur kita dari pisang goreng yang asem itu, tapi dari niat baik kita yang sudah berusaha menolong anaknya sarapan. Masak kontan membalas dengan dodol jamuran! Kalau begini caranya, bagaimana kita tahan tahunan bertetangga dengan mereka!”

“Terus mau pindah? Atau mereka harus diusir?”

Amat bertambah dongkol.

“Putuskan hubungan, nggak usaha bertetangga dengan mereka!”

“Seratus hari bukan ukuran untuk menilai kinerja 5 tahun yang belum terjadi, tetapi menerima sapa untuk meluruskan apa yang sedang bergolak, adalah kewajiban pemimpin sejati yang mencintai rakyatnya dengan jiwa besar sebagai pancaran kalibernya,” bisik Bu Amat mengulangi permainan kata Amat.


Jakarta 29-01-10

Orang Besar

ORANG BESAR
4 Februari 2010 pukul 9:06
Putu Wijaya
ORANG BESAR

Amat memilih makan malam yang sangat-sangat-sangat, bahkan menurut Bu Amat “terlalu amat sangat sederhana sekali”. Hanya nasi putih putih dan sayur bening.

“Ini baru namanya makanan sehat,”kata Amat.

Bu Amat mengangguk.

“Ayo cepat makan, nanti maag.”

Amat mulai menyantap. Satu suap, lama sekali. Bu Amat menatap.

“Enak?”

Amat mengangguk.

“Bukan hanya makanan yang perlu sehat, cara makan pun ada aturannya. Setiap suap harus dikunyah 32 kali baru ditelan, untuk mengurangi pekerjaan perut besar.”

“Ya silakan, kunyah saja. Tapi enak tidak?”

“Kalau perut lapar, semua makanan enak.”

“Hanya nasi dan sayur bening tok, sudah enak?”

“Makan itu untuk hidup, bukan hidup itu untuk makan. Makan bukan untuk kesenangan tapi kesehatan. Yang penting bukan enaknya, tapi makanannya sehat atau tidak?!”

“Jadi Bapak mau terus makan nasi dan sayur bening tiap hari?”

Amat berhenti mengunyah.

“Lho ini kan hanya latihan. Berlatih merasakan bagaimana tidak enaknya kalau makanan sudah dibatasi, akibat kena penyakit. Jadi kita akan selalu berusaha mengendalikan nafsu makan enak yang menimbun penyakit itu, agar tetap sehat. Kalau kita sehat, kita bisa makan apa saja, tidak terpaksa makan nasi putih dan sayur bening tok seperti ini!”

Bu Amat tersenyum

“Ya sudah, kalau begitu jangan ngobrol terus, cepat habiskan.”

Amat menurunkan sendoknya yang tadi sudah diangkat.

“Kalau tekanan darah dan gula naik, ya makanannya nanti akan terus begini, “kata Amat menunjuk ke piring. “ memang sehat, tapi dimakannya susah, karena tidak ada aromanya, rasanya tawar. Jadi susah makannya!”

“Katanya demi kesehatan.”

“Memang., tapi … .”

“Tapi pa?”

“Ternyata sehat saja tidak cukup. Orang hidup perlu kebahagiaan. Kebahagiaan itu ya kesenangan. Kalau tidak senang, tidak bahagia, untuk apa hidup?”

Bu Amat tertawa.

“Jadi?”

Amat meletakkan sendok, lalu menegak air putih banyak-banyak. Ia menyandarkan badannya ke sandaran kursi seperti habis melakukan sesuatu yang berat.

“Kok berhenti makannya?”

“Kan susah cukup.”

“Itu masih banyak.”

“Ya ini kan hanya latihan.”

“Jadi sudah selesai?”

“Sudah!”

Bu Amat tersenyum. Ia membereskan meja. Mengangkat semuanya ke dapur. Lalu bersiap-siap hendak nonton televisi. Amat cepat mengingatkan.

“Lho sop buntutnya mana?”

Bu Amat menghidupkan tv seakan-akan tidak mendengar. Amat menghampiri dan mencolek istrinya.

“Sop buntutnya mana?”

Bu Amat tercengang.

“Lho, kan sudah selesai makan?”

Amat ketawa.

“Latihan hidup sehat sudah cukup. Sekarang waktunya makan yang bener. Tumben perut rasanya lapar sekali.”

“Jadi yang tadi tidak makan bener?”

“Lho itu kan latihan!”

Bu Amat menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi ia bangkit juga dan pergi ke dapur. Menghidangkan sop buntut dan segala makanan yang enak-enak kegemaran Amat yang doyan makan itu.

“Nah ini baru makanan,”kata Amat tak sabar meraih piring untuk mengganyang semuanya.

“Ini bedanya orang besar dan orang kecil,”bisik Bu Amat sambil menuangkan sop buntut yang berminyak ke dalam mangkuk.

Amat terhenyak.

“Maksudnya?”

“Orang besar itu satu perbuatan dengan kata. Orang kecil, lain yang dikatakan lain yang diperbuat.”

Amat tertawa.

“Kalau begitu aku ini termasuk orang kecil.”

“Memang!”

Amat mengangkat sendok ke mulutnya sambil tertawa.

“Enakan jadi orang kecil. Bisa ngomong seenaknya dan berbuat seenaknya. Tidak usah satu perbuatan dengan kata. Orang besar sudah dibelengu oleh bandrol besar sehingga kelakuannya terbatas. Sedikit salah ngomong massa langsung demo!”

“Jadi Bapak memang dari dulu memang cita-citanya hanya mau jadi orang kecil?”

Amat tak jadi memasukkan sendok itu ke mulutnya.

“Tidak. Dulu aku aku ingin jadi orang besar.”

“Terus kenapa kemudian memilih jadi orang kecil?”

Amat termenung. Ketika kemudian bicara suaranya kedengaran sedih.

“Orang-orang besar itu sering lupa mereka beda dengan orang kecil.”

“Masak?”

“Ya. Mereka selalu bilang, sabar, tenang, tahan, prihatin, mawas diri, jangan emosional, tidak boleh keburu nafsu, jangan pendek pikiran, lihat ke depan ke arah tujuan yang lebih jauh, jangan egois, rasional, professional, tidak boleh iri hati, harus tetap menjaga keutuhan, kebersamaan dan sebagainya dan sebagainya”

“Itu bagus kan?”

“Memang bagus. Tapi itu kan pekerjaan berat yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang besar. Karena mereka memang besar, kuat. Mereka punya banyak kesempatan. Dagingnya lebih tebal. Tidak makan 3 hari juga masih tetap besar. Orang kecil hanya punya satu kesempatan. Itu pun kadang-kadang rebutan sama orang lain. Untung-untungan kalau dapat. Kalau tidak kebagian, memang sudah nasibnya. Jangankan berbuat besar, berbuat kecil saja, orang kecil belum tentu mampu. Bukan karena tidak mau, jangan salah. Akhirnya mereka orang-orang kecil itu, yang tidak berdaya itu, merekalah yang dituding bersalah. Maling besar bisa ongkang-ongkangan ke luar negeri, di penjara kamarnya pakai ac, maling kecil baru mau ngambil mangga yang menjurai lewat pagar, sudah dikepruk sampai mati. Orang kecil kalau membela diri dari tudingan bersalah bisa tambah salah.”

Amat meletakkan sendok. Di televisi nampak bentrokan massa dengan petugas dalam demo depan istana. Selera makan Amat hilang. Bu Amat menegur.

“Bapak tidak jadi makan?”

Amat menggeleng.

“Lihat, memang enakan juga jadi orang kecil, tidak perlu pusing menghadapi masalah-masalah besar!”

Bu Amat membereskan kembali meja sambil menggerutu.

“Tak ada masalah besar dan masalah kecil, Pak. Yang ada adalah masalah-masalah besar dan orang-orang yang berhati kecil. Itu yang sudah memicu terjadinya masalah. Sekarang kita perlu: orang berjiwa besar.”


Jakarta, 29 Juan 10

Guru Spiritual2

Putu Wijaya
GURU SPIRITUAL

Ketika selesai menjalani hukuman, bromocorah itu ditanya sipir penjara.
“Mau jadi apa kamu setelah dibebaskan?”
Bromocorah itu menjawab mantap.
“Mau jadi pemimpin spiritual.”
Sipir penjara terkejut.
“Kalau begitu selamat bertemu lagi nanti.”
Bromocorah itu tersenyum. Sipir penjara langsung melapor kepada atasannya.
“Pak, saya kira tidak lama lagi orang yang baru kita lepas itu akan kembali ke mari?”
Lalu dia menceritakan percakapan tadi. Kepala Penjara kemudian menyampaikan hal itu pada polisi. Lalu polisi menguntit ke mana bromocorah itu pergi. Ternyata ia bertamu ke rumah Pak Amat.
“Pak Amat, saya sudah menjalani hukuman selama 5 tahun atas perbuatan saya yang bejat. Di dalam penjara, saya merenungkan apa yang sudah saya lakukan. Di situ saya bertapa. Berkat kesungguhan saya, saya mendapat pencerahan. Sisa hidup saya ke depan harus saya gunakan untuk penyucian jiwa. Saya ingin membimbing masyarakat untuk mendekatkan dirinya pada kasih sayang dan cinta. Saya akan memberikan pendidikan moral. Apa itu salah?”
Amat tertegun.
“Pertama,”kata Amat menjelaskan persoalan itu kemudian kepada polisi yang meminta keterangannya, “saya tidak kenal orang itu. Entah siapa yang menyuruhnya datang ke rumah saya. Kedua, dia menanyakan sesuatu yang sulit saya jawab. Apa mungkin bekas orang hukuman yang sudah melakukan kejahatan, bisa memberikan bimbingan moral kepada orang lain. Bukankah dia harus membuktikan moralnya sendiri sudah berubah setelah menjalani hukuman. Dia harus membuktikannya seumur hidup. Tidak mungkin, kalau dia sibuk memperbaiki dirinya, ada waktu meluruskan moral orang lain. Kalau toh punya waktu, apa dia bisa? Saya ragu. Dan yang ketiga, menurut pengalaman saya orang yang ingin berbuat kebaikan, tidak memperopagandakan perbuatannya tapi berbuat saja. Sebaliknya orang yang berniat jahat, akan mengobral janji membuat kebajikan untuk menyembunyikan maksud jahatnya.”
Polisi mencatat semua keterangan Amat.
“Jadi kesimpulannya, “ lanjut Amat, “orang itu berbahaya, dia harus diawasi! Kalau perlu tarik lagi ke penjara, karena dia belum siap terjun ke masyarakat!”
Ami cepat mengoreksi.
“Tidak bisa, Pak! Siapa pun tidak bisa dimasukkan ke penjara kalau belum melakukan tindakan kejahatan dan terbukti bersalah di pengadilan!”
“Kalau berbahaya?”
“Harus ada bukti!”
“Untuk apa menunggu bukti. Kita harus melindungi masyarakat!”
“Tetapi negara juga harus melindungi kepentingan individu warganya. Masyarakat tidak bisa melakukan tindakan kekerasan terhadap individu warga, meskipun seandainya ada alasan yang kuat untuk itu, karena kita negara hukum. Masyarakat tidak boleh bertindak main hakim sendiri!”
Amat tertegun. Dia terpaksa melupakan kasus itu.
Tapi 5 tahun kemudian, ada kabar. Di desa ada guru spiritual yang menjadi sangat terkenal. Ia mengajarkan cinta-kasih kepada m asyarakat. Bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Guru itu tidak memunggut bayaran. Tetapi itu justru memancing masyarakat menghujaninya dengan berbagai hadiah.
“Ada yang membangun rumah buat guru. Ada yang membelikan mobil. Ada yang menyerahkan jiwa-raganya, mengabdi kepada guru, seperti abdi dalem, “kata seorangan ibu yang sempat berobat ke guru itu, tapi tidak berhasil..
“Penyakit Ibu apa?” tanya Amat.
“Saya tidak punya anak.”
“Jadi Ibu ke situ minta anak? Terus diobatin?”
Ibu itu termenung.
“Ya diobati.”
“Caranya?”
Ibu itu termenung. Tapi kemudian setelah didesak dia bicara.
“Saya disuruh duduk di pangkuannya.”
Amat terbelalak.
“Apa?”
“Duduk telanjang tanpa memakai pakaian selembar pun. Guru juga tidak pakaian apa-apa, sama dengan saya.”
“Terus?”
“Ya begitu saja.”
“Berapa lama?”
“Ya kira-kira seperempat jam.”
“Berhasil?”
Ibu itu tersenyum.
“Belum. Saya kan belum menikah lagi. Nanti kalau sudah kawin kata Guru pasti bisa punya anak. Tapi kata Guru, sebelum itu, saya harus rajin ke situ.”
Amat tak mampu lagi bicara. Darahnya mendidih. Tak sanggup menahan penasaran dan rasa geramnya, ia langsung pergi ke tempat guru itu. Ia tidak bisa menunggu sampai kejahatan itu menjadi kenyataan. Dia harus bertindak.
“Ini Pak Amat?” tanya guru itu ketika berhadapan.
“Betul.”
“Pak Amat sakit apa? Kenapa ke mari? Ini hanya untuk perempuan.”
Amat tidak dapat lagi menahan dirinya.
“Saya ingin punya anak.”
“Tapi Pak Amat kan sudah punya satu? Kurang?”
“Kurang!”
“Kalau Pak Amat sabar dan berusaha sungguh-sungguh, tidak usah berobat pasti akan punya anak lagi.”
“Tidak. Saya mau punya anak dengan cara berobat ke mari. Saya mau dipangku telanjang oleh Bapak yang juga telanjang tanpa selembar kain pun!”
Guru spiritual itu tertegun. Ia memandang Pak Amat.
“Pak Amat serius?”
“Lebih serius dari semua ibu-ibu dan para wanita yang sudah ke mari untuk kamu cabuli! Saya tidak percaya bromocorah yang pernah melakukan kebejatan seksual di masyarakat dan sudah diganjar hukuman 5 tahun, bisa menjadi guru spiritual. Kamu menipu masyarakat!”
Guru spiritual itu terhenyak. Tapi Amat sudah siap. Kalau harus diselesaikan dengan tawuran, dia tidak akan mundur. Harus ada orang yang berani menentang lintah masyarakat itu.
Tapi guru spiritual itu tidak marah. Ia tersenyum pahit. Lalu menjawab dengan sangat mengejutkan.
“Terimakasih Pak Amat. Sudah lima tahun saya di sini menjadi guru. Saya menunggu masyarakat akan bangkit untuk menentang perbuatan saya. Tapi masyarakat kita ternyata begitu bodohnya. Bukan hanya rakyat jelata yang miskin dan rendah pendidikannya, tapi orang-orang kaya yang terdidik, bahkan pejabat dan wakil rakyat sudah datang ke mari mempercayai semua tipuan-tipuan saya. Baru hari ini saya puas, karena Pak Amat datang. Jadi masih ada harapan, saya gembira sekali, ternyata masyarakat kita tidak tolol-tolol amat!”
Guru itu meraih tangan Amat lalu menciumnya.


Jakarta, 22 Pebruari 2010

Dpr

DPR
PUTU WIJAYA

Dalam bedah buku “Menyemai Karakter Bangsa”, budaya kebangkitan berbasis sastra, yang ditulis Yudi Latif, seorang dosen menggugat:
“Kita memang sedang mengalami penuruan kualitas karakter bangsa sekarang, “katanya dengan beringas. “Coba lihat pembukaan UUD 45, simak dengan sungguh-sungguh, betapa hebatnya rumusan mukadimah kita. Arti kemerdekaan dihubungkan dengan hak azasi manusia secara filosofis. Dan dengan singkat, padat tapi jitu dan lengkap, kita diberikan pasal-pasal yang canggih. Bandingkan dengan apa yang ada sekarang. Makanya tak heran terjadi peristiwa memalukan di gedung terhormat tempat ngendon para wakil rakyat yang kelakuannya meniru bonek-bonek sepakbola!”
“Kita memang perlu pendidikan karakter!’ kata Ami di depan keluarga melanjutkan unek-unek itu. “Kebangkitan tidak berarti hanya membangun gedung-gedung dan kekayaan pribadi yang mentelantarkan alam dan masyarakat sederhana di pedalaman. Tetap membangun karakter. Apa artinya bangsa yang tidak punya karakter!”
Tak ada yang memberikan tanggapan. Mereka menganggap itu asap pembicaraan kampus, tidak cocok untuk dibicarakan dalam rumah. Kalau soal-soal arisan, selingkuhan para artis atau berita-berita kriminal itu baru makanan keluarga. Semua yang hadir hanya mengangguk. Lalu menyantap hidangan dan ganti pembicaraan.
Tapi di tempat tidur, Amat melanjutkan bertanya pada istrinya.
“Bu, apakah aku ini punya karakter?”
Bu Amat yang sudah hampir tidur menoleh.
“Ngomong begituan kok di tempat tidur?”
“Habis di mana?”
“Ya di kampus.”
“Terus di tempat tidur bolehnya ngomong apa?”
“Iiiiih Bapak ini, nggak habis-habisnya. Udah tidur saja. Besok!”
Bu Amat langsung berbalik dan ngorok. Amat jadi kesal. Dia bangun, lalu keluar rumah. Menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit untuk mencari kedamaian. Tetapi baru dua menit, nyamuk menyerbu, menghancurkan kedamaian itu.
“Memang, kita sudah kehilangan karakter,” bisik Amat esoknya pada Ami, “Ibu kamu itu misalnya.”
Ami tercengang.
“Bapak menuduh Ibu tidak punya karakter?”
“Ya. Sebab, dia tidak peduli lagi apa perasaan orang lain, apa yang dia rasakan enak buat dia, itu saja yang dilakukan. Itu kan sudah menyimpang dari kepribadian kita sebagai bangsa timur yang harus selalu menimbang perasaan orang lain.”
“Maksudnya, perasaan Bapak?”
“Ya, antara lain.”
“Perasaan Bapak yang mana yang tidak ditimbang oleh Ibu? Perasaan yang menganggap bahwa perempuan itu hanya budak nafsu dari laki-laki?”
Amat terkejut. Ami tersenyum.
“Bapak mungkin tidak tahu. Ibu sering mengeluh begitu. Beliau kan sudah tua, Pak. Siklus kehidupan libido laki-laki dan perempuan itu berbeda. Laki-laki tidak ada habisnya. Kalau perempuan, perubahan phisiknya yang menua memberi dampak pada mentalitas dan kehidupan seksualnya. Bapak harus mengerti. Kalau tidak, Bapak akan kelihatan seperti orang mau seenaknya sendiri. Tidak paham desa-kal-patra. Orang seperti itu … .”
“Tidak punya karakter!”
Ami tertawa.
“Persis!”
Amat tak menjawab lagi. Dia biarkan saja anaknya pergi dengan kemenangan.
“Ngapain harus menang berdebat sama anak,”kata Amat ketika curhat dengan tetangga, “ keberaniannya untuk mengeritik orang tuanya blak-blakan, sampai kepada masalah-masalah yang tak akan berani kita singgung pada orang tua kita, waktu kita masih seusia dia, itu sudah kemajuan luar biasa. Saya malah bersyukur, anak sekarang kok beraninya setengah mati. Bukan hanya pejabat yang korup dan pemimpiun yang mencla-mencle yang mereka hantam, orang tua juga dikritik habis!”
Tetangga Amat takjub.
“Itulah, Pak Amat. Itu yang membuat saya cemas!”
“Cemas bagaimana?”
“Keberaniannya anak-anak kita itu sekarang keterlaluan. Anak saya misalnya. Masak dia berani-beraninya mengatakan saya ini malas dan lambat bertindak. Terlalu banyak perhitungan katanya. Kalau ada yang mengecewakan dia, pasti yang dia tuding orang tuanya. Orang tuanya yang kurang tanggap, kurang sigap, ketinggalan jamahkah, ah banyaklah yang lain, yang sudah bikin saya kesel.”
Amat tercengang.
“O, jadi Bapak juga merasakan bahwa generasi sekarang itu aneh?”
“Betul!”
“Mereka terlalu banyak menuntut!”
“Ya!”
“Tapi tidak peduli pada kepentingan dan hak orang lain?”
“Persis, Pak Amat!”
“Lha itu namanya tidak punya karakter!”
“Saya kira itu! Lain dengan kita-kita dulu.l Kalau kita tidak paham, ya kita diam. Kalau kita paham tapi ada orang yang lebih paham, kita juga masih diam. Tapai kalau kita paham dan lebih paham dari orang lain, kita juga masih diam, kecuali kita diminta oleh semuanya untuk bicara. Kan begitu Pak Amat?”
Amat tidak menjawab. Tapi dalam hati dia ngedumel.
“Ya itu yang namanya malas dan kurang sigap!”
Malam hari di rumah, Ami kembali menganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang dibawanya dari kampus.
“Dalam bukunya Yudi Latif memujikan bangsawan pikiran. Bangsawan yang lahir karena ilmu pengetahuan seperti Soekarno, Hatta, Syahrir dan sebagainya yang memelopori kemerdekaan. Sekarang para bangsawan pikiran kita, berkurang kegunaannya karena sistim pendidikan kita tak baik dan banyak meraka yang tergerus pengaruh multi media. Di koran yang ada hanya bahsa politik yang mencari siapa yang menang dan bahasa ekonomi yang hanya mencari apa untungnya. Yang diperlukan adalah bahasa kebenaran. Karena itu kita perlu strategi politik. Dan ujung-ujungnya berarti membangun karakter bangsa. Tapi kalau DPR nya saja kelakuannya begitu, bagaimana mau membangun karakter bangsa?”
Amat tidak menjawab. Baru di tempat tidur dia kembali bertanya pada istrinya.
“Bu, kalau aku ingin punya karakter yang baik, caranya bagaimana?”
Bu Amat berbalik lalu berbisik.
“Pijitin dulu punggungku.”
Dengan menahan rasa kesal, Amat terpaksa membunuh pertanyaannya dan kemudian mulai memijit.
Esoknya, Ami tercengang melihat bapaknya pagi-pagi sudah mandi berdandan dan bersiul-siul. Ami menegur curiga.
“Kok Bapak hari ini seger betul. Ada apa?”
“Bapak sudah dapat Ami!”
“Dapat Apaan?”
“Jawabannya. Ini bukan soal karakter, tapi penyelewengan biasa. Para wakil rakyat kita lupa bahwa mereka adalah wakil rakyat Indonesia, bukan wakil partai mana pun”
“O itu, jadi jelas, kita perlu menggenjot pendidikan karakter!”


Jakarta Pebruari 2010

Anjing

ANJING
monolog
oleh:
Putu Wijaya


SEBUAH KURSI DAN MEJA. SEEKOR ANJING YANG LEHERNYA TERIKAT TALI PANJANG DI KAKI MEJA BERBARING DI BAWAH MEJA. KETIKA ADA SALAK ANJING DI KEJAUHAN, ANJING ITU BANGUN DAN KEMUDIAN MULAI MENYALAK.

KEMUDIAN ANJING DARI KEJAUHAN ITU MELOLONG. ANJING ITU KELUAR DARI BAWAH MEJA LALU DUDUK DI KURSI. LOLONGAN ANJING SEMAKIN PILU. ANJING ITU KEMUDIAN NAIK KE ATAS MEJA. MENGAMB IL KURSI DAN MENAIKKAN KE MEJA. LALU BERDIRI DI TAS KURSI DI ATAS MEJA DAN MEMBALAS MELOLONG.

SUARA PINTU TERBUKA. LALU ORANG MEMAKI DAN MELEMPARKAN SANDAL MENGENAI KEPALA ANJING DIBARENGI SUMPAH SERAPAH..

ANJING ITU KONTAN DIAM DAN MELOMPAT KE LANTAI MEMBAWA KURSI , LALU MASUK KEMBALI KE BAWAH MEJA. DIA MENGERAM-NGERAM KECIL MERASA BERSALAH. TAPI SATU SANDAL LAGI DILEMPAR, SEHINGGA ANJING ITU BERFTERIAK DAN LANGBUSNG BUNGKAM..

SUARA PINTU DIKUNCIK. LALU KEADAAN TENANG KEMBALI. ANJING IKTU PERLAHAN-LAHAN KELUAR DARI BAWAH MEJA LALU DUDUK DI KURSI DAN SAMBAT .

Siapa bilang enak jadi anjing. Sementara kita meraung-raung kelaparan, kedinginan dan kesepian , manusia enak-enakan pelukan di atas kasur. Lempar sandal lagi Sialan!

MENGAMBIL SANDAL. MAU MELEMPARKAN SANDAL KE PINTU. TAPI TERDENGAR SUARA PINTU DIBUKA. TAKL JADI MELEMPAR, LALU MASUK KEMBALI KE BAWAH MEJA DAN PURA-PURA TIDUR.

TULANG-TUL:ANG DILEMPARKAN MENGENAI ANJING ITU DISERTAI OMELAN. KEMUDIAN PINTU KEMBALI DIKUNCI. SETELAH KEADAAN TENANG, AN JING ITU BANGUN.

Kurang ajar! Itu dia enaknya jadi manusia. Sadis!. Orang kagak salah dikeplak seenak udelnyua. Tidak berbudaya sama sekali! Anarkhis! Coba kalau tidak dirante begini, masih berani nggak?

MENGAMBIL TULANG DAN MENGGIGITNYA.

Ngasih makan cuma tulang! Kalau nggak punya duit jangan pelihara anjing dong! (TERKEJUT DAN MEMBANTING TULANG) Bangsat! Plastik lagi! Memangnya aku bayi! Seenaknya aja! Anjing lhu!

MAU MENENDANG KURSI. TAPI KEMUDIAN TERDEN GAR SUARA KUNCI. TAK JADI MENENDANG, LANTAS DUDUK MANIS. TAPI TIDAK ADA APA-APA. DI KEJAUHAN TERDENGAR LAGI LOLONG ANJING. ANJING ITU GELISAH.

Beginilah nasib anjing. Dipukul,. Dilempar, disumpahi, diikat, tidak ada kebebasan dan kemerdekaan. Apalagi kesetaraan!

DI DALAM RUMAH TERDENGAR SUARA MUSIK.

Hmmm! Dengar itu. Memang lebih enak jadi manusia ke mana-mana! Bisa dengerin musik sementara kita tiap malam mesti jagain pagar! Bisa lihat televisi, main game, buka internet, bikin face book, ngintip situs-situs porno, dengertin radio. Kita? Mana bisa anjing main BB! Lalu di mana, di mana letaknya keadilan? Omong kosong! Gombal! Kebenaran hanya cita-cita. Manusia tidak akan mau ngasih kita kemerdekaan. Maunya berkuasa dan menyiksa sampai tua! Manusia mau ngapaian saja bisa. Ada. Bahkan makan daging manusia juga sah-sah saja seperti Sumanto dan Sumanti itu. Hanya makan tai yang tidak mau dilakukan manusia. Mereka bilang itu peradaban anjing! Padahal kelakuan mereka semuanya tahi kucing! Kita dijajah terus! Keluar halaman saja tidak boleh. Padahal ini kan musim pacaran. Mana dong kesempatan kita untuk Valentine! Lama-lama populasi kita terus berkurang kalau begini caranya. Tali di leher ini yang membuat aku sebel. Jangankan menikmati hari Valentine, beli makanan anjing ke supermarket saja tidak bisa. Anjing kok mau belanja, sejak kapan kata waiternya yang giginya dikawat itu.

SUARA LAGU BERHENTI. ADA BUNYI-BUNYI MESRA

Apa itu? Apa itu! Apa itu! Nggak bosan-bosannya hampir tiap malam! Satu hari bisa dua tiga kali! Sementara kita dikebiri! Gimana tidak gila kalau begini. Memangnya kita tidak punya perasaan! Kalau boleh curhat kepala ini sudah busuk. Menahan emosi itu ada batasnya. Kecuali kalau ini memang harus begini! Tapi kenapa? Di zaman Nabi Sulaiman ini tidak akan terjadi. Kita bisa bicara, karena hak-hak kita dihargai sama. Sekarang? Namanya saja demokrasi. Demokrasi untuk siapa. Kalau lagi kepingin bagian baru jadi pejuang demokrasi, tapi kalau nginjak ekor kita, mengkebiri kita, persetan sama elhu. Elhu kan binatang, memang gua pikirin! Ah! Ember! Kalau mau bikin eksperimen baru kita yang dikerjain. Dijadikan kelinci percobaan. Dikirim keluar angkasa. Ditipu mentah-mentah supaya lari-lari di rumah judi pacuan anjing. Teror! Itu kriminal! Teriak-teriak tentang hak azasi. Itu hak azasi manusia, kita ini. cuma dikasih pantat. Semua cipoa! Sebel gua! Asu!

KENCING DI KAKI MEJA. SUARA PINTU KEMBALI DIBUKA. ANJING CEPAT BERHENTI DAN MELOMPAT LAGI KE BAWAH MEJA.

Kenapa manusia bisa dapat segala-galanya dan anjing hanya tidur di bawah meja. Kebelet kencing saja bisa dikepret. Kenapa hanya manusia yang boleh naik kapal terbang, keluar masuk gedung, nginap di hotel bintang lima. Hanya manusia yang bisa korupsi, punya simpanan. Punya hak milik dan teritorial yang dikuasai secara legal. Punya keluarga, cita-cita, masa depan dan akhirnya bisa makan daging anjing! Lapo!

KELUAR LAGI LALU NAIK KE MEJA.
Menjadi manusia memang enak. Bisa punya rumah seratus, padahal yang dipakai tidur hanya satu. Punya pesawat pribadi, anak buah, body guard, kekuasaan, pengaruh, cita-cita, cinta, kehormatan. Bisa masuk koran menjadi kepala berita. Yang paling hebat, anjing tidak mungkin pelihara anjing. Hanya manusia yang bisa punya anjing. Dari anjing kampung sampai doberman komplit sertifikat trahnya resmi diakui internasional! Manusia bisa jual anjing, bisa jual manusia, tapi anjinmg mana munglkin jual anjing! Makanya sekali lagi: anjing!

TURUN DAN MENYERET MEJA.

Menjadi manusia paling nikmat,. Bisa aha-ihi dengan bintang-bintang film, main mata dengan pejabat, nonton jazz, main drama, masuk televisi. Berdiskusi, membaca sajak: … kita anjing yang diburu …….. padahal anjingnya tetap kita-kita juga! Bete! Sajak-sajak memang gombal. Hari gini ngaku-ngaku jadi anjing! Coba rasain kena gampar sandal sekali aja!

MAU ME:LEMPAR TAPI TERDENGAR SUARA LAGU DANGDUT RADIO TETANGGA.

O mak! Gantian dong satu kali saja , biarin kita yang dangdutan dan goyang ngebor

ANJING ITU BERJOGET GENIT SEKALI DI ATAS MEJA. TIBA TIBA TERDENGAR SUARA ANJING MENYALAK. DIA LANGSUNG MELOMPAT DAN IKUT MENYALAK. KEMUDIAN MELOLONG. LAUTAN LOLONGAN ANJING DI MANA-MANA. BERHENTI MELOLONG LALU MENGGEBRAK KARENA BISING.

Hee diem lhu berisik! (ANJING TERUS MENGGONGGONG) Diem! (MELEMPAR DENGAN SANDAL) Dasar anjing!

MAU M ELEMPAR LAGI. TAPI PINTU DIBUKA LAGI ANJING ITU DISIRAM AIR SAMPAI BASAH KUYUP KEPALANYA.

Apa boleh buat, skenarionya sudah menentukan anjing begini. Anjing tidak bisa jadi bos. Diguyur air bekas cebokan juga nikmati saja. Sebagai anjing aku hanya binatang piaraan. Aku selalu jadi pelengkap penderita. Tak ada pilihan. Duniaku, kebebasanku, sudah dijatah. Manusia lain. Mereka Tuan Besar! Manusia bisa mandiri, bisa bablas, bisa menghujat, bisa demo dan terima sogokan. Bisa jadi caleg, bisa jadi maling tanpa kena hukuman, bisa mengganyang manusia lain, bisa bunuh orang dan dinobatkan sebagai pahlawan. Dapat uang pensiun, bisa menuntut apa saja termasuk yang bukan haknya. Bisa menyulap kebenaran. Bisa main politik. Dan terutama tak usah berhubungan dengan dokter hewan untuk dikebiri. Malah bisa menggaji dokter hewan dan punya salon anjing

TERTAWA

Tuhan Seru Sekalian Alam, dengarkan, inilah doaku. Aku ingin jadi manusia,. Jadikan aku manusia, Tuhan, Kau jangan kejam. Biarkan aku jadi manusia. Cepat-cepat sajalah renggut nyawaku dan segala keinginanku, lalu cepat-cepat lahirkan lagi aku jadi manusia. Aku ingin jadi anak konglomerat, anak pejabat yang berkuasa. Aku bosan menggonggong dan makan tai. Aku mau jadi makhluk nomor satu yang paling Kau cintai!

BERBARING DI ATAS MEJA

I have a dream. Aku ingin jadi juri festifal film. Aku ingin memilih bintang yang paling berani buka-bukaan jadi pemain terbaik. Aku mau jadi wakil rakyat biar bisa berantem seperti bonek. Aku ingin punya kerangkeng dan merantai leher anjing! Aku ingin menulis ulang sejarah supaya bisa membelokkan nasib memperbaiki trahku. Aku ingin jadi pilot, kapitan, sutradara yang mendiktekan taktik dan strategi politik. Aku mau jadi pemimpin, pahlawan, idola. Aku ingin jadi pemenang American Idol.

BANGUN

Dan menyanyikan: I want to be free, free, freeeeeeeeee! Lalu memaki: anjing! Anjing! Anjing! Anjing! Aku berjanji aku akan membunuh semua anjing-anjing supaya manusia bebas dari penyakit rabies

BERDIRI

Tuhan jangan diam saja. Kabulkan permintaanku sekarang. Cepat jadikan aku manusia! Aku akan menikmati keberadaanku sebagai manusia dengan sepuas-puasnya. Aku akan memanfaatkan kelebihan-kelebihanku sebagai manusia dengan setotal-totalnya. Aku akan mensyukuri dan
berbahagia sebagai manusia. Aku tidak akan melolong lagi di tengah malam, karena ngilu dan rindu pada sesuatu yang jauh tapi sebenarnya tak pernah ada, karena mimpi jadi kenyataan namanya bukan lagi mimpi. Keindahannya juga pasti ludas. Tuhan, dengarkan perkataanku. Aku akan membela kebenaran dan keadilan. Menegakkan demokrasi dan hak azasi manusia. Aku akan mensyukuri hidup! Dan memulyakan namaMu.

BERSUJUD

Aku bersumpah tidak akan pernah lagi mengkhayal !

LOLONGAN ANJING YANG MEMILUKAN.

Biarkan anjing-anjing saya yang mengkhayal! Mengkhayal memang anjing ! Mengkhayal adalah membunuh diri perlahan-lahan dari dalam sel-sel kita sendiri. Khayal adalah kanker otak yang ganas. Sebagai manusia aku tidak akan lagi hidup di alam khayal. Aku akan pasrah, nrimo, realistik.

TURUN.

Aku tahu, menjadi manusia tidak mudah, kelihatannya saja gampang. Karena manusia harus berjuang, bersaing keras kalau mau sukses. (MEMBUKA BAJU DAN MENGELAP MEJA DENGA N BAJUNYA) Kerja adalahg ibadah! Tidak ada pekerjaan yang hina. Kerja adalah istirahat! (MEMIKUL MEJA DAN MEMBOPONGNYA JALAN) Beban adalah kewajiban. Hidup adalah pengabdian yang tanpa ada akhir.

BERBARING TELUNGKUP DENGAN MEJA DI ATAS PUNGGUNGNYA

Aku tidak akan pernah mengeluh lagi memikul hidupku. Di balik setiap kekalahan selalu ada janji, buat orang yang mau berjuang. Aku berjanji aku akan menjadi manusia yang baik. Khususnya terhadap anjing.

KELUAR DARI TIDIHAN MEJA. BERDIRI. MEMAKAI LAGI BAJUNYA.

Aku akan membuat semua anjing merasa hidup ini indah dengan cara mencintai mereka. Bukan cinta lokasi, tapi cinta sejati. Tulus ikhlas dan pas. Anjing-anjing peliharaanku, mahlukmu itu Tuhan, akan berada dalam keadaan yang nyaman dan mereka berbahagia. Aku tidak akan mengikatnya dengan tali, tapi kasih.

MEMEGANG TALI YANG MENGIKAT LEHERNYA. MEMBALIKKAN LAGI MEJA DAN BERDIRI.

Tali ini, ini bukan tali. Ini adalah ikatan batin. Memang semuanya hanya masalah interpretasi, argumentasi, dan komunikasi. Banyak anjing sekarang merasa tidak berbahagia karena tak pernah dapat informasi tentang tata nilai. Banyak anjing yang berasal dari keturunan kolong yang tidak mengerti arti perlakuan baik. Dengan pendidikan yang terarah dan baik, bukan hanya untuk mencetak manusia cerdas dan kompetetitif seperti cetak biru pendidikan sekarang, tapi pendidikan yang membuat moralnya bijak, semuanya akan beres. Mereka akan sadar, meskipun hanya anjing. Bahwa kalau toh makanan dijatah dan dijaga kalorinya, itu untuk kesehatan mereka sendiri. Tali ini adalah remote kontrol alias proteksi.

MENARIK TALI HINGGA KENCANG.

Pendidikan yang salah sudah membuat anjing jadi binatang. Semua yang berguna, tali batin ini, mereka tolak dan lebih suka hidup liar, mengorek tong sampah. Daripada dibawa ke salon anjing-anjing itu lebih suka main di comberan. Mereka harus diberi penjelasan. Nasib harus dinilai dengan sudut pandang baru bahwa: sebagai anjing, nasib mereka tak pernah seburuk yang mereka sangka.

MELILITKAN TALI ITU KE TUBUHNYA

Kalau anjing diikat, itu bukan berarti dipasung, tetapi dilindungi. Kalau mereka dikurung, itu bukan dipasung atau dijajah tapi dimanjakan. Kebahagiaan dan keserba-berlimpahan yang terlalu obral, justru bisa tak kelihatan. Seperti gajah di pelupuk mata. Kekayaan kita sendiri tidak terlihat. Tapi kemiskinan adalah kuman di seberang lautan yang menghantui setiap saat. Jadi kembali kepada anjing-anjhing kampong itu, mereka harus diajar melihat segala sesuatu dengan kaca-mata terbalik. Itulah hakekat peradaban!

KETAWA

Tuhan, anjing-anjing itu harus kita didik untuk bisa merasakan kebenaran itu memerlukan kejujuran. Jujur adalah segala-galanya, bukan uang. Tidak akan mungkin merasakan kebahagiaan kalau tidak bisa jujur.

MENGURAIKAN TALI DAN PERGI SEJAUH MUNGKIN SEHINGGA TALINYA KENCANG

Coba, kalau kalau pada suatu pagi atau sore, seorang konglomerat menuntun anjing di dalam sebuah taman, untuk diajak jalan-jalan, karena anjingnya juga harus buang air besar. Coba bayangkan. Coba, sebetulnya waktu itu yang jadi tuan siapa ? Manusia? (KETAWA) Salah. Anjing! Anjing itulah tuannya! Konglomerat itu sudah jadi budaknya!. Biar pun dia punya pesawat pribadi, bahkan jadi Kepala Negara, dia tetap hanya budak. Budak anjingnya. Ini memerlukan kejujuran. Hanya orang-orang yang berani jujur yang akan bisa menikmati kebenaran. Manusia adalah budak , bukan tuan. Manusia tidak menangis waktu ada manusia lain mati, tapi dia tersedu-sedu waktu anjingnya mati. Manusia tidak peduli kapan anaknya ulang tahun, tapi dia bangun pagi untuk mengantarkan anjingnya berak! Anjing bukan binatang yang tidak berdaya, tapi tuan yang berkuasa.

MENGAMBIL KURSI DAN NAIK KE ATAS MEJA LAGI.

Jadi, hidup anjing sebenarnya nikmat betul. Tidak usah dikejar-kejar petugas pajak. Tidak takut sama KPK. Tidak perlu repot punya pekerjaan atawa status sosial. Tidak usah terobsesi jadi Caleg. Aman dari segi-segi politik. Boleh menggigit siapa saja dan tidak ada penjara buat anjing. Hidup anjing begitu bebas. Hidup anjing begitu dimanjakan. Makanan anjing bisa lebih mahal dari pegawai negeri eselon B. Silsilahnya ditulis rapih. Harga anjing bisa jutaan. Jiwa manusia sekarang tidak ada harganya! Ratusas, ribuan mati dalam teror biasa-biasa saja!

MELEPAS TALI DARI LEHERNYA DAN KEMUDIAN MEMBUANG. LALU NAIK KE KURSI DAN BERDIRI.

Jangan salah! Hidup anjing itu nikmat! Alangkah asyiknya menjadi anjing. Dibawa ke mana-mana oleh Presiden Reagan. Dibuatkan kontes. Naik ke ruang angkasa dalam percobaan semesta. Menjadi anjing top. Anjing tidak usah berpikir, manusia yang berpikir untuk anjing. Dengan satu kata: manusia adalah budak anjing.

MENYATUHKAN TANGAN MEMEJAMKAN MATA DAN BERDOA

Ya Tuhan, alangkah bahagianya menjadi anjing. Tuhan, aku ingin sekali jadi anjing!

SALAK DAN LOLONGAN ANJING DI KEJAUHAN. MENYALAK. TIBA-TIBA PINTU TERBUKA LALU TERDENGAR SUARA TEMBAKAN. ANJING ITU TERTEMBAK DAN TERJUNGKAL JATUH. SUARA TEMBAKAN TERUS DI SANA-SINI.

TERDENGAR SUARA TELEVISI MENYIARKAN BERITA PEMBASMIAN ANJING RAS KARENA WABAH RABIES.


Humor, Agustus 1992