Oh

OH
monolog oleh:

PUTU WIJAYA



SEORANG GELANDANGAN YANG MENYANDANG SEMUA PAKAIAN DAN BARANG MILIKNYA, MALAM HARI SETELAH SATU HARI JALAN, MAU PARKIR SAMBIL SAMBAT.

Orang gila selalu bilang, semua orang lain di sekelilingnya gila. Hanya dia yang waras. Tapi aku tidak. Sebab aku bukan orang gila. Aku memakai pakaian begini, ini hanya akting. Karena aku tidak percaya pada apa yang disebut oleh manusia-manusia yang mengaku dirinya normal itu: rumah. Kenapa? Habis rumah itu kan sarang kebohongan. Di sana orang berpura-pura jadi orang baik. Sopan-santun. Hormat kepada orang lain. Menghargai tamu. Alim. Panca-Silais. Pura-pura rajin bekerja padahal kalau tidak ada orang. kerjanya molor melulu. Mangap dan ngorok seperti babi. Di rumah orang bersandiwara semuanya. Palsu. Orang tersenyum, tertawa, tidur juga palsu. Bercinta apalagi! Ahh, ahh, ahhh padahal nggak ada rasanya, supaya itunya seneng aja! Hanya kalau berak di kamar kecil mereka jujur. Karena di situ tidak ada orang lain. Tapi berapa lama orang bisa parkir di kamar kecil. Sepuluh menit? Paling lama juga setengah jam. Lebih dari itu pintunya akan digedor. Hee ngapain lhu di situ? Masturbasi?

KETAWA

Ngapain ketawa! Nggak usah heran aku bilang masturbasi. Jangan salah, aku yang mereka cap gelandangan ini, aku yang selalu bawa semua hartaku ke mana-mana begini, seperti bekicot, tapi aku bisa lebih intelek dari nyonya-nyonya penggede di dalam mobil mewah yang tahunya hanya (MENYEBUT MEREK BEKEN TERMASUK MEREK CELANA BIKINI) Aku lebih intelektual dari pejabat-pejabat yang beli gelar instan dari universitas yang sekarang berlomba-lomba cari duit itu. Jangan salah! Pengalamanku luas. Wawasanku tebal. Itu hasil tiap hari jalan. Tidur pun aku terus jalan. Jadi pengalamanku sudah terlalu banyak. Aku tahu apa yang tidak aku tahu, apalagi yang aku tahu. Aku tahu apa yang harus aku tahu, yang tidak diketahui tapi sebenarnya harus diketahui orang lain. Nah! Nggak ngerti kan! Canggih! Kritis! Itu idiologiku. Aku curiga kepada apa pun, siapa pun. Di dunia ini tidak ada yang bisa dipercaya. Termasuk aku sendiri. Itu yang nomor satu. Lainnya, makan, minum, pakaian, mobil, rumah. Duit, seks, apalagi masa depan, itu nomor dua! Itu yang membuat aku menjadi unik, khas, total dan otentik! Dan kadang-kadang dituduh gila! Tidak apa. Semua gading retak kalau sudah kropos. Orang-orang genius memang beda tipis dengan orang gila.

TERTEGUN

Kembali kepada lap top! Kalau sedang masturbasi, aku selalu menyanyikan lagu Payung Hitam Iis Darliah. Kalau bosan aku nyanyikan May Way dari Frankie Raden. Maksudku Frank Sinatra. Masturbasi itu artinya menyanyi, tahu! Di rumah-tangga hanya kamar kecil yang bebas untuk menyanyi, ngeden, berak dan menangis. Selebihnya semua hanya penjara. Salah sedikit saja, mata tetangga, istri, suami, anak, mertua, bahkan Tuhan, akan melotot dan kamu akan ditanyai. Dicecer sampai otak kamu meleleh. Kenapa? Kenapa? Ada apa? Dan kalau kamu tidak menjawab, kamu dianggap sudah masuk stadium tiga, ada tanda-tanda akan gila. Jadi daripada dituduh jadi orang yang akan gila sampai tua, kalau hidup baik-bai9k di situ, lebih baik gila sekalian, supaya bebas dari tekanan.


MENARUH SEMUA BEBAN DAN MENCOPOTI BARANG-BARANG BAWAANNYA.

Hanya sedikit sekali orang tahu, hanya orang-orang gilalah yang masih suci di dunia ini. Mungkin tidak ada! Tak ada yang tahu, yang tidak pernah melakukan dosa, yang tidak pernah jahil, yang tidak suka menipu, menikam dari belakang, memancing lawannya supaya mampus, dendam, iri hati, sirik, keki, cemburu, hanya orang gila. Yang tidak inmghin jadi wakil rakyat supaya bisa koruipsi, hanya orang gila. Hanya orang gila yang sadar bahwa dia tidak gila! Karena itu terimakasih, aku tersanjung kalau disebut-sebut sudah gila. Memang aku sudah gila, tidak seperti orang-orang lain itu mengaku dirinya sehat tapi sebenarnya edhan! Apalagi dokter jiwa! Itu manusia yang paling tidak stabil. Kalau mobil, dokter jiwa itu roda mobil yang semi!

ADA ORANG DATANG.

Ini siapa lagi? Apa? Kenapa? Kok melotot? Belum pernah lihat orang waras ya! Kenapa aku tidak boleh parkir di sini? Ini negeri merdeka kan? Ini kan kawasan bebas. Aku ngerti hukum. Aku kan tidak mengganggu siapa-siapa di sini. Aneh! Aku kan tidak merebut tempat orang lain. Kenapa mata kamu mau keluar begitu seperti aku ini kutu busuk yang mengancam kedudukan kamu? Sialan! Kemaren juga aku tidur di sini. Tuh di situ lihat, kalau tidak percaya, di situ bekas berakku masih ada. ( KE SUDUT MELIHAT) Ini! Lho kok masih utuh. Anjing sekarang sudah ikut-ikutan tidak mau menjamah rezekinya karena berasal dari tubuh gelandangan yang kamu anggap lebih nazis ini! Lihat. Di mana tahi kita itu berarti di situlah rumah kita! Jadi ini rumahku. Kenapa aku diusir dari rumahku? Apa kita perlu berantem seperti wakil-wakil rakyat di DPR supaya kelihatan galak di layar kaca? Tidak! Aku tidak mau pergi. Tahiku sudah terlanjur di sini! Aku tambahin sekaran g ( SIAP M AU BERAK) Pergi! Aku tidak biasa berak ditonton!

MENOLEH KEPADA PENONTON.

Heran, ada orang suka nonton orang berak,. Sakit kamu Bo! Tapi matanya hampa. Dia bengong melihat ada orang gila yang lebih waras dari dia yang merasa dirinya paling waras. Kasihan. Kostum, pakaian seragam, asesoris, kartu plastik dan semua gincunya yang lain, ternyata hanya embel-embel untuk menutupi cacadnya.
Dia sudah dilalap oleh pekerjaannya yang dianggap sebagai tugas suci. Dia lupa dia juga manusia yang memerlukan tetap untuk parkir. Itu yang menyebabkan aku tidak mau ikutan gendeng. Kenapa manusia harus dibeda-bedakan?

KEMBALI KEPADA ORANG ITU.

Tidak. Aku tidak mau pergi, karena aku tidak takut. Aku tidak mau diperintah siapa pun. Tuhan juga tidak pernah memerintahku! Aku tidak pernah mendengar perintahNya! Tidak usah kaget! Aku lihat rohmu melenting ke atas, badan kamu jadi kaku, karena ada orang yang tidak merasa takut melawan apa pun. Apalagi cuma kamu! Kamu, kamu (TERKEJUT) oh ini bukan tempat umum? Tapi begitu lebar. Banyak pohon dan rumputnya bisa jadi tempat main bola anak-anak kampung. Tetanggaku lima orang hidup di petak 3 kali 3 meter. Ah? Apa? Di situ pemiliknya? Pemilik ini semua? Kamu? Masak? Pakaian kamu seperti satpam. Paling juga tukang kebon. O begitu, kalau begitu sama. Aku juga tidak menilai orang dari pakaiannya. Juga tidak dari apa yang dikatakannya. Juga tidak dari apa yang dipikirkannya. Dan tidak juga dari apa yang dijanji-janjikannya. Aku menilai orang dari perbuatannya. Jadi Anda yang punya semua ini? Kaya sekali. Kok bisa? Bawaan dari sana ya? Masak? Kalau begitu pasti hasil korupsi! Lho korupsi itu kan perlu kiat dan keberanian. Itu juga prestasi! Kok ketawa? Nggak takut ditangkap KPK kan?

TERCENGANG.

Oh situ orang KPK? Bukan? Siapa dong? (KETAWA. LALU MENIRUKAN) Ada deh! Aku suka jawaban Anda itu. Tapi tidak usah ketawa. Orang yang kebanyakan ketawa itu orang gila. Ada orang gila yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya kecuali ketawa, ada orang yang gila karena semuanya dia sembunyikan dengan ketawa. Anda kelihatannya bukan. Orang gila tidak akan bisa korupsi sebanyak ini. Maksudku hanya hanya sebegini. Mestinya, ambil semua! Apa? Bukan korupsi? Lalu apaan? Usaha? (KETAWA) Bagus, bagus sekali. Betul-betul gila!

MELIHAT KE SEKELILING

Tapi ini cukup untuk bangsal orang satu kampung. Kalau aku bisa korupsi seperti ini, aku juga mau. Siapa yang nggak. Tujuh kali hidup lagi, paling aku hanya bisa jadi anggota DPR di kabupaten. Kabupaten yang garing lagi. Jangankan untuk dikorupsi, ngasih gaji saja dicicil. Apa itu?

MENERIMA SESUATU

Ini apa? Amplop? Masak pakai kirim surat, kalau ada yang perlu diselesaikan, kita bisa selesaikan sekarang di sini secara jantan. Bukan? Jadi apa? Duit? Ah! Aku tidak perlu uang. Untuk beli apa lagi. Untuk apa aku beli kalau aku bisa ngambil dari tong sampah. Kalau kurang aku bisa nyolong. Kalau ketahuan sogok saja. Sekarang kan semuanya bisa diatur kalau ada (MEROBEK AMPLOP DAN MENUNJUKKAN UANG) ini. Uang! Uang adalah segala-galanya.

TERKEJUT MELIHAT JUMLAH UANG ITU.

Lho amplopnya tebal, ternyata isinya hanya satu juta. Kurang limabelas ribu lagi. Emang potong pajak juga? Aku kira satu milyar. Ini uang receh semua pantas tebal. (MEMASUKKAN KEMBALI KE DALAM AMPLOP.) Nggak ah! Maaf! Aku tidak tidak bisa disogok! Aku anti sogokan. (TAPI MENYIMPAN UANG ITU KE BAWAH DADANYA). Aku tidak mau diusir, kalau perlu kita maju ke pengadilan! Apa?

ORANG ITU MENERIMA UANG SEGEPOK LAGI. DIA MEMERIKSANYA. TERNYATA BANYAK.

Sebentar, sebentar, berapa ini. Sabar aku belum selesai menghitung,. Ini, ah, oke, oke aku akan pergi. Tidak usah berteriak. Kecuali kalau mau nambah. Tidak perlu pakai kekerasan. Semua barang-barangku akan aku bawa, termasuk tahi itu.

KETAWA

Sekarang aku ketawa. Kalau sudah ketawa kamu baru jadi manusia lagi. Maksudku manusia yang waras. Memang ketawa itu obat seribu macam penyakit. Tapi kenapa aku ketawa? Bukan karena jumlah uang ini, tapi aku heran. Baru kalau digertak, semuanya bisa tokcer. Rakyat jelata, kalau digertak baru diem. Penggede kalau digertak baru ngeper. Hanya Tuhan saja yang tidak mempan kalau digertak. Tapi siapa berani menggertak Tuhan?

MAU MEMBERESKAN BARANG-BARANGNYA TAPI TERKEJUT KARENA TIDAK BOLEH.

Tidak boleh? Kenapa? Aku dapat dengan cara-cara halal! Aku tidak bisa pergi dari sini tanpa milikku, itu sudah bagian dari jatidiriku. Bahkan kadang-kadang itu rohku. Kalau aku tidak bisa bawa itu, aku akan mati. Apa kamu memang mau membunuh? Makanya. Nggak lama kok!

MENGAMBIL BARANG-BARANGNYA, TAPI SETIAP DIAMBIL SELALU ADA YANG BERCECERAN.

Sebentar, sebentar. Barang-barangku sudah mulai keenakan di sini. Dikiranya ini memang Tanah Airnya. Ayo jangan bikin susah Mama! Kita pergi, ini bukan negara kita. Ini tempat orang-orang kaya. Neolib itu! Kita di pinggiran neraka sana! Ayo! Lho kok bikin gua kesal. Manut!!!

TAPI BARANG-BARANGNYA SEPERTI TAMBAH SULIT DIANGKUT. AKHIRNYA DIA MARAH.

Bangsat! Kalau diajak baik-baik selalu begini. Ayo! Ayo! Kita berangkat!

MEMUKUL, MENARIK DAN MEMBANTING BARANG-BARANGNYA SEHINGGA TAMBAH BERSERAKAN DAN BERHAMBURAN. DAN KETIKA DIA BERUSAHA JUGA MENGANGKAT. DIA TERPELESET DAN BARANG-BARANG ITU MENINDIHNYA. GELANDANGAN ITU MEMAKI-MAKI KASAR DALAM BAHASA DAERAH.

Ya sudah. Kalau tidak mau ikut, kita berpisah di sini. Mama mau pergi. Terserah kamu mau bunuh diri atau apa, itu urusanmu. Kamu semua bukan lagi anak-anak Mama! (KEPADA PEMILIK KAWASAN ITU) Maaf, ada kesalahan teknis. Ini sebenarnya masalah pribadi, tetapi sudah waktunya digeber untuk umum. Kami sudah berbeda idiologi. Aku akan pergi sendiri, tanpa mereka semua, kecuali itu. Itu. Tahiku. Aku tidak bisa meninggalkan tahiku di sini. Sebab kalau dia di sini, aku tidak akan bisa buang air besar di tempat lain. Seperti orang Cina, sejauh-jauh dia pergi, pasti maunya mati di negeri leluhur. (MENDEKATI TAHINYA) Ini akan aku bawa pergi.

DIA BERSIAP HENDAK MERAIH TETAPI KEMUDIAN KESAKITAN.

Aduh. Maaf. Kalau sudah melihat tahi, aku jadi kepingin berak lagi. Boleh? Hanya untuk proforma saja. Aduh! Maaf tidak bisa ditahan lagi (LANGSUNG JONGKJOK DAN BERAK) Sorry. Apa yang terjadi terjadilah. Aku terima resikonya. Tapi berak di tempat sendiri memang enak. Pantas harta yang paling utama di dunia fana ini adalah Tanah Air.
(MENYANYI) Kulihat Ibu Pertiwi ……….. aku selalu masturbasi kalau buang air, maksudku menyanyi, (TERUS MENYANYI) ……………… Tanah dan Air. Tanah saja tidak cukup, harus ada air untuk cebok. Yak. Lega. Mantap. Terimakasih. Sekarang aku siap pergi.


TAPI DIA TIDAK BISA BANGUN.


Wah ada masalah. Aku tidak bisa cabut. Bukan tahi, tapi akar-akar keluar dari pantatku. Masuk ke dalam tanah dan menggapai air di dasar sana. Aku sekarang menempel, tidak bisa lepas. Aku bagian dari tanah dan air ini. Aduh, aku sudah tidak bisa bergerak. Tolong! Tolong! Aku ditarik masuk. Aku akan dikubur hidup-hidup. Tidak! Jangan! Aku belum selesai. Aku masih mau berjalan, Kaki lima dan tong-tong sampah di situ banyak yang belum aku gerawuk. Aku tidak mau pergi sekarang. Siapa yang akan merawat anak-anakku itu kalau aku pergi sekarang. Tidak, jangan! Kamu tidak bisa mengusirku dengan uang kamu! Sialan!

MENGAMBIL KEMBALI AMPLOP UANG DAN MELEMPARKANNYA. UANG BERHAMBURAN.

Aku tidak perlu duit! Aku lebih suka hidup!

AMPLOP KEMBALI DILEMPARKAN KEPADANYA. TAPI GELANDANGAN ITU MEROBEK DAN MELEMPARKANNYA LAGI. UANG BERHAMBURAN.

Aku bukan mata duitan! Aku pejuang! Aku pendobrak! Aku pelopor pembebasan. Persetan dengan uang. Tidak usah! Tidak akan mempan! Aku anti sogokan!

HUJAN DUIT DARI ATAS. GELANDANGAN ITU BANGKIT DENGAN TIDAK SENGAJA DAN MENEPIS SEMUA LEMBARAN UANG YANG BERJATUHAN ITU. DIA MEMUKUL-MUKUL UANG ITU. SETELAH DIA BENAR-BENAR BISA BERDIRI LAGI DENGAN BAIK, BARU HUJAN DUIT ITU BERHENTI. GELANDANGAN ITU BERDIRI DI LAUTAN DUIT. DI TANGANNYA ADA SELEMBAR DUIT TERPEGANG.

Jadi sudah jelas. Duit ini tidak bia mengusirku. (MEROBEK DUIT DI TANGANNYA) Duit tidak bisa dimakan (SETELAH DIROBEK, DUIT ITU DIMASUKKAN KE DALAM MULUTNYA) bisa ditelan tapi tidak bisa membuat rohaniku kenyang. (MENYEMBURKAN ROBEKAN DUIT ITU). Jadi aku tidak akan pergi karena duit. Ngerti tidak?!

TERDENGA SUARA SENAPAN DIKOKANG.

(KETAWA) Jangan menembak. Aku tidak akan pergui karena duit atau karena diancam mau ditembak.

TERDENGAR TEMBAKAN.

Jangan menembak!

SUARA TEMBAKAN MAKIN KERAS.

Ya sudah silakan, kalau betul tidak ada pelurunya! (TEMBAKAN GENCAR) Terus saja obral!Yang jelas aku tidak akan pergi karena duit dan aku tidak akan pergi karena ditembak. Tapi aku akan pergi kalau aku sudah yakin kamu bukan manusia! Aku tidak mau hidup dengan robot yang bergerak karena idiologi dan dogma-dogma! Aku mau hidup bersama manusia, karena aku bukan binatang, bukan hantu, aku manusia!

LEDAKAN. GELANDANGAN ITU BERGUNCANG. TERHUYUNG-HUYUNG, LEDAKAN BERKESINAMBUNGAN DENGAN TEMBAKAN. LALU TERDENGA SUARA SIRINE. GELANDANGAN DENGAN JATUH-BANGUN BERUSAHA MENGUMPULKAN BARANG-BARANGNYA DAN BISA MENGANGKIT KEMBALI SEMUANYA.

TERDENGAR SUARA KOKANGAN SENJATA.

Cukup! Tidak usah ditembak lagi. Aku sudah mati! Sekarang aku yakin kamu memang bukan manusia! Manusia sejati tidak akan menembak manusia lain karena alasan perbedaan! Silakan saja tembak dan bunuh yang kamu anggap tidak sesuai dengan rumusan kamu. Tapi berjuta-juta manusia lain di seluruh dunia yang tidak punya rumah, tidak punya duit, tidak punya idiologi, tidak punya berhala yang mengendalikan otaknya, masih terus berjalan seperti aku, mencari. Mencari, meskipun tidak akan pernah ketemu. Kamu sebut mereka orang gila sebab kamu gila. Aku tak peduli bagaimana akhir kisah kamu yang gila ini, karena aku lebih tertarik meneruskan langkahku mencari tempat yang tidak ada orang gilanya.

MELANGKAH MENYERET SEMUA BARANG-BARANGNYA. LALU BERHENTI SEBENTAR DAN MEMUNGGUT BEBERAPA LEMBAR DUIT.

Kamu bilang uang adalah segala-galanya. Uang dicari dikumpulkan dengan segala macam cara, termasuk membunuh orang lain, tapi kemudian hanya untuk dihambur-hamburkan begini. Oh, gila!

MENYERET KELUAR SEMUA BAWAANNYA SAMBIL MENYANYI:

Kulihat Ibu Pertiwi …………


Astya Puri 2, Jakarta 2010

Sepi2

SEPI

monolog oleh

Putu Wijaya



Ketika bapakku meninggal, aku mendapat inspirasi. Bapak adalah orang yang praktis dan realistis. Ia seorang yang bijaksana, luhur budi pekertinya dan ekonomis. Ia pasti tidak suka segala bentuk kemubaziran, termasuk yang menyangkut jasadnya sendiri.
Setelah tiga jam berpikir terus menerus, akhirnya aku memutuskan untuk memotong kedua tangan bapak dan kemudian memasangnya di tubuhku sendiri. Aku juga hampir saja hendak memotong kedua kakinya, tapi dokter memprotes, sebab ia melihat ada penyakit di kaki itu.
Tangannya saja cukup, kau cukup mewarisi ringan tangannya, tidak perlu darah petualangan di kakinya, jangan nanti kamu keluyuran ke sana ke mari seperti gombal kata dokter.
Sebenarnya aku tidak setuju, tapi apa boleh buat. Hanya saja aku masih punya usul kecil. Bagaimana kalau anunya itu yang dicangkok, kelihatannya masih bagus.
Dokter merenung sebentar, kemudian mengambil mikroskop, lalu memeriksa dengan teliti. Akhirnya dengan sebuah alat ia mencoba ngetes alat vital itu. Ternyata kalau ada enerji, anunya bapak masih berfungsi dengan baik. Apalagi ukurannya termasuk gagah.
Aku hampir saja tertawa ngakak karena bangga, tapi dokter menggelengkan kepala. Tidak mungkin, katanya tegas, secara ethis ini akan menimbulkan skandal, secara praktis pasti akan mengakibatkan krisis moral dan dari segi hukum bisa diancam sebagai mengkampanyekan Oedipus Kompleks, karena termasuk barang impor yang tidak sesuai dengan politik kepribadian kita. Dus resikonya sangat berat.
Lho tidak apa, Dokter. Itu malah bagus, ini kan eksperimen, makin banyak tantangannya, akan makin tinggi nilainya sebagai pencarian. Ini adalah sebuah revolusi yang tak berdarah dan murah. Sebuah kebangkitan nasional tanpa pembunuhan, kecuali memanfaatkan orang yang sudah dibunuh oleh Tuhan.
Dokter tetap menggeleng. Tidak, katanya, aku tidak berambisi bikin revolusi, tidak mau ikut menanggung resikonya. Meskipun aku edan, aku belum gendeng. Jadi aku tidak bisa selalu mengatakan bisa, bisa, meskipun memang bisa, karena masih ada factor-faktor X yang selalu aku perhitungkan di dalam pengembaraanku mencari kebahagiaan di dunia fana ini.
Ahhh sudah, sudah, dokter kok jadi sentimentil sekarang. Sudah kerjakan saja, biar nanti saya yang menanggung akibatnya. Dokter tinggal menyumbangkan ketrampilan, tanggungjawabnya urusan saya, Anda harus bisa berpikir praktis. Cobalah sedikit revolusioner Dokter.
Saya revolusioner, jiwa saya cukup revolusioner.
Tetapi dalam hati tok. Itu tidak cukup. Ayo pasang saja alat vital itu, kan mubazir kalau dibusukkan di tanah. Coba apalagi yang bisa kita manfaakan. Matanya? Jantungnya? Buah pinggangnya? Atau giginya?
Dokter menggeleng.
Masalahnya begini, Saudara Merdeka, jawabnya. Organ-organ tubuh ini memang kelihatannya baik, tetapi dia sudah terlatih untuk melakukan sesuatu dengan pola tertentu, pola berpikir almarhum. Ideologinya, filsafat hidupnya, gayanya, aksinya dan kebiasaan-kebiasaannya sudah terbina. Sulit untuk mengubahnya lagi. Saya bisa mencangkokkan ini di tubuh saudara, saudara Merdeka, tetapi saya tidak bisa menjamin bahwa dia akan bersedia tunduk di bawah perintah saudara. Bayangkan kalau terjadi sebaliknya, kalau seandainya kemudian Anda sendiri yang diperintahnya. Bayangkan,buat apa anda bernama Merdeka kalau pada akhirnya tidak merdeka? Ini baru satu resiko saja, yang lain ....?
Aku jadi tertawa.
Dokter, kalau saya bodoh, memang bisa saja alat vital papa memerintah saya, tetapi saya kan tidak sebodoh itu. Percuma dong kita lahir belakangan kalau tidak lebih pinter dari bapak-bapak kita. Ini dialektika kehidupan seorang Merdeka. Jadi dokter, kecemasan Anda manusiawi tetapi sebenarnya tidak rasional. Dus pasang sajalah!
Apanya yang dipasang?
Alat vital itu!
Dokter bingung.
Jadi anda ingin punya dua?
Bukan hanya dua. Kalau bisa sepuluh juga saya mau. Dan dengar, saya tidak mau dipasang di tempat yang sama. Itu namanya tidak kreatif. Saya ingin anda berimprovisasi sedikit. Pasangsaja di sini!"
Dengan tidak ragu-ragu lagi kemudian aku menunjuk ke tengah-tengah jidatku. Di sini, tepat di sini, seakan-akan anunya bapak itu menjadi pipa penyalur langsung dari apa yang dikerjakan oleh otak, jadi bukan penyalur apa yang dihasilkan oleh perut!
Dokter bengong dan menggelengkan kembali kepalanya. Aku langsung marah.
Apa sih ini, apa sih? Dokter kok lamban sekali, dari tadi cuma bengong dan menggeleng-menggeleng. Langsung saja pasang sebelum anunya busuk. Ayo. Saya tidak perlu membentak bukan?!
Dokter menggeleng lagi, lalu mendekatkan mulutnya berbisik: begini Saudara Merdeka, soalnya bukan apa-apa. Eksperimen begini juga sudah pernah dicoba, cuma kemudian tidak diteruskan karena hasilnya kurang memuaskan. Maksud saya setelah dipasang, karena organ ini biasa terletak di bagian bawah, dekat dengan tanah, ia menolak untuk diletakkan di atas. Lalu ia berontak sedemikian rupa, sehingga kita terpaksa berjalan dengan kepala di bawah dan kaki di atas.
Aku tercengang.
Bagaimana dokter tahu itu?
Ya karena, karena, karena, eksperimen itu pernah saya coba sendiri, kata dokter dengan tersipu-sipu.
Aku bersorak. Hebat-hebat! Sayang dokter tidak punya darah revolusioner yang sejati. Justru itu yang saya inginkan. Jalan dengan kepala terbalik dengan mengingkari hukum gravitasi bumi, jailah, yes, apa itu tidak sedep. Ayo dokter, jangan buang waktu, tancep saja sekarang!
Walhasil, setelah digertak, akhirnya dokter mau juga memasang alat vital bapakku itu di keningku Dan sebagaimana yang dikatakannya, begitu selesai pemasangan, aku langsung tidak bisa lagi tegak di atas kakiku sendiri, karena kepalaku jadi terlalu berat. Terpaksa kemudian aku berjalan dengan kedua tanganku.
Bagaimana rasanya, tanya dokter dengan cemas.
Aku tertawa cekakakan. Hebat-hebat dokter. Bukan hanya dunia jadi terbalik, tapi segala nilai-nilai juga terbalik. Yang buruk jadi indah. Yang keras jadi lembut. Yang tidak cinta jadi cinta. Yang tidak adil jadi adil dan yang salah jadi betul. Fantastis. Saya puas dengan akrobatik ini!
Dokter heran tapi terpaksa ikut bergembira melihat aku puas.
Hanya saja sebulan kemudian, aku datang lagi. Dengan tergesa-gesa dari luar kamar praktek aku sudah berteriak histeris.
Dokteerrrrrrrrr!
Dokter meloncat dan memelukku.
Ada apa?
Aku kesepiannnnnnnn! Kenapa tidak kamu bilang aku bisa kesepian berjalan terbalik sendirian. Kenapa tidak kamu bilang dulu!"
Dokter menggeleng.
Maaf aku lupa Ka, aku lupa Merdeka.
Copot lagi-copot lagi, aku tidak mau kesepiannnnn! Hayo!
Dokter menggeleng.
Kenapa?
Aku bisa memasangnya, tapi aku tidak bisa mencopotnya.
Bohong! Kamu bisa. Kamu hanya tidak mau!
Dokter terus menggeleng.
Kenapa kamu tidak mau?
Tiba-tiba dokter itu menangis. Matanya yang tua masih bisa mengeluarkan air mata. Tubuhnya gemetar.
Sudahlah, sudahlah Merdeka, tetap saja begitu. Tetap saja begini berjalan dengan kepala di bawah, biar kesepian, tahan saja, itu baik, itu akan lebih mudah, maksudku itu akan lebih bermanfaat. Aku sudah tua, aku sudah capek ngomong sama orang, mereka tidak akan percaya. Lebih gampang buatku kalau ngomong pakai contoh. Sudahlah, biar saja, bijaksanalah, kuatkan imanmu, jadi pahlawan, jadilah contoh, supaya yang lain-lain tidak perlu mengulangi keedananmu!
Dokter tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia jatuh pingsan. Aku tinggal sendirian di antara alat-alat yang ajaib dalam dekapan bau obat-obatan yang telah mencapai taraf kemajuan yang begitu tinggi. Hatiku bertambah kosong, makin sepi, makin sepi saja tanpa titik henti.


Jakarta, 1981

Bahaya

B A H A Y A

monolog

Putu Wijaya


DUDUK DI KURSI MEMAKAI SELIMUT PUTIH, HABIS CUKUR. CAMBANGNYA MAU DI KEROK.

Ketika tukang cukur menghunus pisau untuk meratakan godek, aku tersentak. Aku baru menyadari bahwa kehidupan berbahaya. Dunia manusia sama buasnya dengan rimba raya. Mengancam. Di mana-mana menganga bahaya.
Siapa yang dapat menjamin tukang cukur itu tidak hanya akan merapikan godek dan jenggot kita. Bagaimana kalau dia menorehkan pisah itu ke leherku?

BERDIRI, MENGHINDARI BAHAYA.

Kita tidak boleh mengambil resiko untuk potong rambut di sembarang tempat. Karena berhubungan dengan tukang potong rambut yang tak dikenal, setiap saat bisa berarti memotong leher. Bahkan dengan tukang cukur yang sudah dikenal pun selalu ada bahaya. Bagaimana kalau pisau yang terhunus di tangannya itu menimbulkan inspirasinya, memanggil kenang-kenangannya kepada perasaan marah, jengkel atau keki. Mungkin terhadap orang lain. Tapi bisa saja emosi itu sudah menggerakkannya untuk memaksa kita jadi sasaran pelepasan. Apalagi kalau kita pernah dengan tidak kita sadari sudah melukai perasaannya, tidak menyahut waktu ia menyapa, atau kita lupa membayar hutang kita waktu bercukur yang lalu. Ia kan juga seorang manusia biasa yang bisa goyah hatinya kalau memegang pisau?!
Dengan pikiran seperti itu, aku jadi takut potong rambut secara lengkap. Kalau rambut sudah digunting, aku langsung bilang stop. Tidak usah dirapikan dengan pisau.

MELEPASKAN SELIMUT DAN MEMBUANGNYA

Aku tak pernah lagi memberikan kesempatan tukang cukur memegang pisau, apalagi di dekat leherku.
Bukan hanya dari tukang cukur. Dari setiap sudut, 360 derajat memancar ancaman. Di mana-mana ada bahaya. Coba apa jaminannya, kalau kita pesan makanan di restoran, koki restoran itu tidak memasukkan racun tikus ke dalam makanan? Kita tidak tahu siapa yang memasak di belakang sana. Kita tidak bisa nyelonong ke belakang dan melihat mereka memasukkan bumbu ke dalam masakan, setiap kali mau makan. Bisa saja mereka itu koki-koki gila. Seorang pembunuh. Atau musuh kita yang menyamar jadi koki. Dengan gampang ia memasukkan baygon atau air accu bekas, lalu cuci tangan. Sementara satu atau dua jam kemudian kita akan kaku dilarikan ke gawat-darurat, tapi tak tertolong lagi.
Dan jaminan apa yang ada di jalan raya, yang dapat menjamin mobil yang datang dari arah depan atau belakang kita, tidak akan menggilas kita? Jaminan apa yang dapat kita andalkan, bus yang kita tumpangi tidak akan dibelokkan oleh supir masuk ke dalam jurang? Jaminan apa yang dapat kita andalkan, dokter-dokter bukannya memberikan obat penyembuh, tapi ramuan kimia yang justru merangsang kanker ganas di tubuh kita? Jaminan apa yang bisa menjamin kita aman di dalam rumah. Bahwa kabel listrik tidak akan putus lalu menyengat kita yang sedang enak-enak tidur. Di mana-mana, baik di rumah, di jalan raya, di sekolah, di kantor, bahkan di wc, selalu ada bahaya mengintai. Kita hidup tanpa perlindungan. Kita harus melindungi diri kita.
Aku mulai sakit karena pikiran-pikiran itu.
Aku begitu cemas. Aku sudah memvonis orang lain adalah pembunuh. Kehidupan adalah ranjau. Dunia adalah gelanggang pembantaian.
Jalan satu-satunya adalah mengasingkan diri. Aku memperkecil hubunganku dengan siapa saja. Aku berusaha menyendiri dan juga mempersenjatai diri dengan rasa awas, was-was dan curiga terhadap segalanya.

SEBUAH KURUNGAN BESAR TURUN. MASUK KE DALAM KURUNGAN

Bahkan aku mencurigai diriku sendiri.

MEMBORGOL TANGANNYA

Siapa yang dapat menjamin, bahwa aku dapat dipercaya? Karena aku terdiri dari otak, rasa serta emosi. Kalau emosi sudah meluap, rasa akan terbakar dan otak bisa lumpuh. Dalam keadaan begitu, aku bukan manusia lagi, tapi binatang. Robot calon pembunuh!'
Setiap waktu aku dapat menjadi jagal orang lain dalam setiap kesempatan. Karena siapa dapat menjamin, aku tidak akan meraih pisau makan di restoran dan menusukkannya ke lambung orang makan yang ada di sebelahku yang matanya begitu menjijikkan. Siapa yang dapat menjamin aku tidak akan berteriak bohong, bangsat, anjing, lonte dan sebagainya dalam sebuah pertemuan resmi, ketika seorang walikota dihadiahi kehormatan sebagai Putra Terbaik? Siapa yang dapat menjamin, aku tidak akan merebut pistol di pinggang seorang polisi di jalan, lalu menembakan sampai pelurunya habis, ke atas kepala siapa saja yang kebetulan lewat?
Tak ada jaminan, Bung! Dan karenanya juga tak ada gunanya pergaulan. Tak ada gunanya pertemuan dengan manusia lain. Karena itu jelas sudah, kehidupan ini sendiri adalah langkah pertama yang membawa kita ke dalam bahaya!
Dengan pikiran itu, aku lalu menyepi.

MENUTUP KORDEN KURUNGAN. LAMPU MATI. LAMPU DI DALAM MENYALA. NAMPAK SILHUETNYA.

Tapi ketika sepi, sunyi, hening pengasingan diri juga tidak memberikan ketenteraman, karena bahaya itu sudah bersarang di dalam hati. Aku putus asa. Bagiku kehidupan tak memberikan lagi apa-apa kecuali malapetaka dam kekalahan. Hidup hanya menunda kekalahan kata Chairil Anwar!
Di depan mataku setiap detik terbentang jalan ke jurang keruntuhan. Manusia-manusia semua adalah mahluk tak beradab. Arus deras pikiran kumal itu bagai air bah. Tak mampu ku tahan, tak bisa kutolak, tak kuasa kuterima. Akhirnya karena tak tahan, tak berdaya, tak tertolong, aku ambil jalan pintas!.


DALAM SILHUET IA MENGGANTUNG DIRI. LEHERNYA TERJERAT. KEMUDIAN KURUNGAN ITU TERANGKAT. TOKOH NAMPAK BERDIRI DENGAN MEMEGANG SEBUAH SURAT.
.
Kepada siapa saja yang ingin tahu::
Aku tak dapat memikirkan jalan yang lain, yang lebih baik dari ini. Bagaimana mengurangi bahaya yang mengepung di sekitarku, bagaimana menghentikan bahaya yang mungkin berasal dari sel-selku sendiri. Setiap manusia adalah bom waktu buat orang lain. Cara satu-satunya untuk menyelamatkan diri, menyelamatkan orang lain adalah pengorbanan. Hentikan semuanya Tebarkan tirai gelap yang tidak tertembus mata siapa pun, yang tidak bisa didobrak bahaya macam mana pun. Kecuali oleh suara Tuhan. Kecuali oleh sentuhan tanganNya.
Dengan perhitungan yang amat matang, aku selesaikan semuanya hari ini secara jantan. Lengkap, bulat dan tuntas. Perpisahan ini akan mengantarkan, setidak-tidaknya lebih mendekatkan kita pada ketenteraman, perdamaian, harmoni dan kebahagiaan.

MELIPAT SURAT

Kalau tidak ada yang mengerti atau mau mengerti, terserah. Aku dianggap sudah sesat karena kemasukan setan, pasrah. Aku dikubur sebagai orang gila dengan pikiran-pikiran busuk yang berbahaya pada kehidupan, biarin. Kepergianku justru disyukuri, boleh!.
Tidak seorang pun yang sedih. Tidak seorang pun yang kehilangan. Tidak seorang pun menerima. Semua mengenangku sebagai musuh. Aku, surat wasiatku, segala sepak terjangku, segala lumut pikiranku adalah virus ganas.
Dalam upacara penguburan, Pak RW berpidato.
Sesat! Pikiran sesat! Tuhan jauhkan manusia dari kebejatan! Saudara-saudara semua orang yang masih hidup, pikiran-pikiran kotor sedang ditiup angin memenuhi seluruh lapisan udara. Tahan nafas. Itu semua dosa! Terlintas dalam pikiran saja, semua pikiran-pikiran memintas itu neraka hukumannya. Ambisi untuk mencapuri rencanaNya itu harus diberantas. Bukan manusia, tapi hanya Yang Di Atas Sana Yang boleh menulis sejarah
Semua media masa memompa fatwa pak RW. Kenalan-kenalanku mengingatkan orang yang belum kenal aku, supaya awas. Pikiran-pikiran sakit sudah gentayangan memakai topeng suci. Yang tidak pernah kenal siapa aku, yang tidak mengerti alam pikiranku, tambah keblinger.
Anti moral! Brantas habis!
Tapi apa yang dilarang, apa yang tidak boleh, apa yang dosa, biasanya orang selalu suka. Mereka penasaran, ingin tahu, ingin mencoba. Mau mencicip. Aku jadi laku.
Melarang adalah bumerang. Semua jungkir-balik. Akhir adalah awal. Membungkam jadi mengobarkan.. Akibat dicekal pikiranku mengamuk. Gagah-berani, seksi, indah dan bermagnit.
Kematianku mempesona dan agresif.
Penguasa langsung mengumumkan.
Jalan pikiran melempas yang pendek, itu tak bertanggungjawab, egois, anarkis, provokatif, itu subversip! Meracuni angkatan muda, orang-orang yang putus asa, untuk mencari kebahagiaan dengan cara gampangan itu terlarang!
Keblinger tulis Profesor Ong.
Bodoh, cupet, asosial, mengandung pesona berbahaya bagi moral. Tidak mensyukuri karunia Tuhan. Menentang falsafah negara. Teroris itu bukan pahlawan, tapi sakit jiwa. Jangan biarkan dia jadi berhala. Hidup tambah berbahaya kalau ngebom semua bahaya. Teror itulah bahaya yang sebenarnya, bukan ancaman bahaya itu sendiri seperti yang sudah difitnahkan.
Mas Gan, Pak Kayom, Profesor Kan, Profesor Doktor Ali, Profesor Bos, Profesor Mak, Doktor Ko, Profesor Doktor Emanuel Den Bagus, Doktor Kwak, Araf, bahkan tak kurang dari mantan menteri kebudayaan Pak Fad dan presiden Sak memberikan suaranya:
Awas! Bunuh kejahatan pikiran itu! Racunnya terus menjalar. Setiap saat akan meledak. Dia mengacaukan antara yang ada dan yang tidak ada. Kikis tuntas tidak ada kata ampun! Bukan karena pikiran itu besar, tetapi karena justru begitu sederhana, mudah, naif menjanjikan penyelesaian tunggal yang keji terhadap satu kenyataan dunia yang kompleks. Bagaimana mungkin kehidupan yang sudah nyelimet karena usianya berabad-abad ini bisa diselesaikan dengan satu kalimat tanpa mengundang kebencian, permusuhan, perang dan pembunuhan-pembunuhan?. Ancaman-ancaman yang lahir karena benturan berbagai kepentingan, panutan dan kelompok etnik bukan saja di dalam negeri tetapi juga di seluruh dunia, itu dinamika kehidupan. Pluralisme itu bukan bahaya. Bahaya itu bukan ancaman. Ketakutan pada bahaya yang sudah tidak terkendali akan menimbulkan kebuasan. Itu baru bahaya! Itu yang harus dibasmi!
Lalu puting-beliung bertiup sebaliknya.


ANGIN KENCANG. DIA TERTIUP TAPI MENCOBA BERTAHAN. DIA BERPEGANG KEPADA TALI YANG MELILIT DI LEHERNYA.

Propaganda kebencian menyerang dari segala jurusan. Aku dikejar-kejar.

TALI DITARIK KE ATAS. BADANNYA TERGANTUNG.

Tapi dalam pengejaran aku tambah hidup. Dimaki-maki berarti aku dikenang. Disatroni, dihujat, disembelih, dipreteli, ditumbuk sampai serpihan-serpihan jadi debu aku malahan merajalela.
Sekarang setelah dihabisi sebagai kambing hitam, aku bangkit. Lahir, tumbuh dan tambah perkasa. Aku jadi tontonan, jadikan pelajaran, jadi pelatihan, tentang bagaimana caranya membunuh bahaya. Gila!

TURUN KEMBALI

Aku adalah pelajaran bahaya. Aku harus dipahami untuk mengerti apa yang harus dijauhi. Aku buku suci apa yang tabu. Mau tahu siapa yang harus dikutuk, lihat aku. Aku adalah musuh besar yang harus dibasmi itu, yang tidak bisa mati tanpa dipahami. Maka cintailah aku.

KETAWA
.
Anak-anak sekolah diwajibkan awas. Aku dipaku pada setiap kepala. Dicontreng pada setiap pojok kehidupan. Dari kamar kecil sampai ke tempat tidur. Orang waras, orang melek, orang pintar, orang sedang buang hajat, orang mabok, orang tidur, orang bersanggama, orang teler, bego, sakit jiwa, semua harus waspada, tahu aku.
Aku jadi popular dan mewabah. Merajalela sampai ke semua ketiak dan selangkangan. Bangsat yang dilestarikan, itulah aku.
Yang tidak tahu jadi tahu, yang tidak ngeh sekarang terusik. Yang terusik lalu bertindak. Yang sudah bertindak makin ganas. Yang ganas kontan hilang ingatan. Dan yang hilang ingatan bablas karena yakin akan masuk surga.
Setelah dibungkam, berjuta-juta bahaya baru lahir. Galak, menggigit-gigit, penuh dendam. Begitu kamu sadar, mau balik langkah, sudah terlambat.

KETAWA

Itulah bahaya yang sebenarnya!

KURUNGAN TURUN CEPAT. ORANG ITU DALAM KURUNGAN MENDUSIN. LAMPU DALAM KURUNGAN MENYALA. BAYANGAN ORANG ITU MENGAMUK DALAM KURUNGAN MENCOBA MEMBEBASKAN DIRI UNTUK BERBALIK LANGKAH MEMULAI LANGKAH. TAPI TERLAMBAT

Tolong! Tolong!

LAMPU MATI PERLAHAN-LAHAN.


Jakarta 20-1-1991/25-10-93

Demokrasi

DEMOKRASI

monolog oleh:

Putu Wijaya
____________________________________________________________________


(DAPAT DIMAINKAN OLEH LELAKI MAUPUN PEREMPUAN)

SEORANG WARGA DESA YANG TANAHNYA KENA GUSUR MEMBAWA PLAKAT BERISI TULISAN DEMOKRASI. SETELAH MEMANDANG DAN PENONTON SIAP MENDENGAR, IA BERBICARA LANGSUNG

Saya mencintai demokrasi. Tapi karena saya rakyat kecil, saya tidak kelihatan sebagai pejuang, apalagi pahlawan. Nama saya tak pernah masuk koran. Potret saya tak jadi tontonan orang. Saya hanya berjuang di lingkungan RT gang Gugus Depan.
Di RT yang saya pimpin itu, seluruh warga pro demokrasi. Mereka mendukung tanpa syarat pelaksanaan demokrasi. Dengan beringas mereka akan berkoar kalau ada yang anti pada demokrasi. Dengan gampang saya bisa mengerahkan mereka untuk maju demi mempertahankan demokrasi. Semua kompak kalau sudah membela demokrasi.


MENGACUNGKAN PLAKATNYA .

Demokrasi!


TERDENGAR SERUAN WARGA BERSEMANGAT MENYAMBUT: DEMOKRASI!

Demokrasi!


SERUAN LEBIH HANGAT LAGI:

Demokrasi!


SERUAN GEGAP GEMPITA: DEMOKRASI! IA MENURUNKAN PLAKAT

Bener kan? Hanya salahnya sedikit, tak seorang pun yang benar-benar mengerti apa arti demokrasi.

MENIRUKAN SALAH SEORANG WARGANYA.
.
"Pokoknya demokrasi itu bagus. Sesuatu yang layak diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Sesuatu yang memerlukan pengorbanan besar. Sesuatu yang menunjang suksesnya pembangunan menuju ke masyarakat yang adil dan makmur. "
Saya kira itu sudah cukup. Saya sendiri tak mampu menerangkan apa arti demokrasi. Saya tidak terlatih untuk menjadi juru penerang. Saya khawatir kalau batasan-batasan saya tentang demokrasi akan disalahgunakan. Apalagi kalau sampai terjadi perbedaan tafsir yang dapat menjadikannya kemudian bertolak belakang. Atau mungkin, karena saya sendiri tidak benar-benar tahu apa arti demokrasi.
Pada suatu kali, Rt kami yang membentang sepanjang gang Gugus Depan dapat kunjungan petugas yang mengaku datang dari kelurahan. Pasalnya akan diadakan pelebaran jalan, sehingga setiap rumah akan dicabik dua meter. Petugas itu menghimbau, agar kami, seperti juga warga yang lain, merelakan kehilangan itu, demi kepentingan bersama.


MENIRUKAN PETUGAS.

“Walaupun hanya dua meter, tapi sumbangan saudara-saudara sangat penting artinya bagi pembangunan dan kepentingan kita bersama di masa yang akan datang. Atas nama kemanusiaan kami harap saudara-saudara mengerti.”


NAMPAK BINGUNG.

Warga kami tercengang. Hanya dua meter? Kok enak saja ngambil dua meter, demi pembangunan. Pembangunan siapa? Bagaimana kalau rumah kami hanya enam meter kali empat. Kalau diambil dua meter kali enam, rumah hanya akan cukup untuk gang. Kontan kami tolak. Bagaimana bisa hidup dalam gang dengan rata-rata 5 orang anak?
Tidak bisa itu tidak mungkin!
"Tapi ini sudah merupakan keputusan bersama,"
Kami semakin tercengang saja. Bagaimana mungkin membuat keputusan bersama tentang rumah kami, tanpa rembukan dengan kami. Seperti raja Nero saja.
"Soalnya masyarakat di sebelah sana, semuanya adalah karyawan pabrik tekstil. Semua memerlukan jalan tembus yang bisa dilalui oleh kendaraan. Dengan difungsikannya gang Gugus Depan ini menjadi jalan yang tembus kendaraan bermotor, mobilitas warga yang hendak masuk ke pekerjaan atau pulang akan lebih cepat. Itu berarti efesiensi dan efektivitas kerja. Mikrolet dan bajaj akan bisa masuk. Itu akan merupakan sumbangan pada pembangunan. Dan pembangunan itu akan dinikmati juga oleh kampung di sebelahnya, karena sudah diperhitungkan masak-masak oleh pembangunan."
Diperhitungkan masak-masak bagaimana? Kami tidak pernah ditanya apa-apa? Tanah ini milik kami, bantah saya.
Tak lama kemudian, sejumlah warga dari kiri kanan kami datang. Mereka menghimbau agar kami mengerti persoalan mereka. Mereka mengatakan dengan sedikit pengorbanan itu, ratusan kepala keluarga dari kiri kanan kami akan tertolong. Mereka menggambarkannya sebagai perbuatan yang mulia. Setelah menghimbau mereka mengingatkan sekali lagi, betapa pentingnya pelebaran jalan itu. Setelah itu mereka mengisyaratkan betapa tak menolongnya kalau kami tidak menyetujui usul itu. Dan setelah itu mereka mengancam.


MENIRUKAN WARGA KAMPUNG SEBELAH.

Kalau saudara-saduara menghambat, menghalang-halangi atau berbuat yang tidak-tidak sehingga pelebaran jalan itu tak dilaksanakan, sesuatu yang buruk akan terjadi.


NAMPAK MAKIN BINGUNG.

Berbuat yang tidak-tidak? Tidak-tidak apa? Kami terjepit di antara kepentingan orang banyak. Belum lagi kami sempat bikin rapat untuk melakukan perundingan, pelebaran jalan itu sudah dilaksanakan.


TERDENGAR SUARA MESIN MENGERAM.

Tanpa minta ijin lagi, sebuah buldozer muncul dan menggaruk dua meter wilayah RT kami. Warga kami panik. Jangan! Jangan! Ini tanah kami. Sejak nenek-moyang kami sudah di sini. Dulu kakek-kakek kami tanahnya lebar, tiap orang punya tegalan dan dua tiga rumah, tapi semua itu sudah dibagi-bagi anak cucu, ada yang sudah dijual. Tapi ini tanah warisan.
Buldozer itu tidak peduli. Mereka terus menggaruk. Jangan Pak! Jangan! Kalau Bapak ambil dua meter rumah kami tinggal kandang ayam. Kami tidak mau kampung kami dijadikan jalan. Nanti ke mana anak-anak kami akan berteduh?
Jangan! Jangan Pak! Kita belum selesai berunding! Kami tidak pernah bilang setuju! Diganti berapa pun kami tidak akan mau. Ini harta kami satu-satunya sekarang!
Jangan Pak!
Tapi buldozer itu terus juga menyeruduk dengan buas. Sopirnya tidak peduli. Dia hanya menjalankan tugas. Akhirnya kami tidak bisa diam saja. Kami semua terpaksa melawan. Saya tidak bisa mencegah warga rame-rame keluar dari rumah. Mereka berdiri di depan buldozer itu.
Ini tanah kami, akan kami pertahankan mati-matian. Dibeli ratusan juta juga kami tidak sudi, sebab kami tidak mau pindah dari tempat nenek moyang kami. Anak-anak dan perempuan kami pasang di depan, sesudah itu orang-orang tua, lalu saya dan bapak-bapaknya.
Baru buldozer itu berhenti.


SUARA MESIN BERHENTI. SENYAP..

Sopir yang menjalankan buldozer itu ngeper juga melihat kami. Dia turun dari kendaraan dan berunding dengan teman-temannya. Kami menunggu apa yang akan terjadi. Lama juga mereka berunding. Beberapa anak main-main mendekati buldozer itu dan megang-megangnya. Kendaraan itu kuat, baru dan bagus. Beberapa ibu-ibu duduk di jalan meneteki anak-anaknya. Saya sendiri mengambil kesempatan kencing karena terlalu tegang.
Akhirnya mereka selesai berunding. Sopir itu kembali naik ke atas buldozernya. Dia tersenyum. Kami semua merasa lega. Mereka pasti baru menyadari mereka sudah salah. Mesin dihidupkan kembali.


KEMBALI SUARA MENGERAM.

Kami menunggu dengan deg-degan. Waktu itu sebuah mobil colt datang. Sekitar sepuluh orang laki-laki meloncat turun dengan memakai pakaian seragam. Kami bersorak, melihat akhirnya aparat datang untuk melindungi rakyat. Tapi berbareng dengan itu buldozer itu menerjang kembali ke depan menggaruk tanah. Perempuan-perempuan menjerit. Beberapa anak jatuh, salah seorang di antaranya kena garuk. Untung ada yang meloncat naik dan menarik anak itu. Keadaan jadi kacau.
Orang-orang berseragam itu berlarian datang. Ternyata mereka bukan petugas, tetapi satpam yang mau mengamankan penggarukan. Mereka membawa pentungan yang sudah siap untuk memukul. Kami jadi seperti kucing yang kepepet. Tanpa diberi komando lagi, kami melawan.
Anak-anak mengambil batu dan melempar. Asep, bapak anak yang hampir kena garuk buldozer meloncat ke atas buldozer mau menarik sopirnya. Tapi tiba-tiba sopir buldozer itu menghunus parang yang disembunyikannya di bawah tempat duduk, langsung membacok pundak Asep.
Asep tumbang berlumuran darah. Perempuan-perempuandan anak-anak menjerit, lalu kabur menyelamatkan diri. Warga lelaki hampir saja mau menyerang, tapi kemudian sebuah truk datang. Puluhan orang yang kelihatan ganas-ganas melompat turun dan menerjang kami sambil membawa senjata tajam. Saya kenal salah satu di antaranya bajingan di Proyek Senen.
Kami terpaksa mundur. Saya melarikan Asep ke rumah sakit. Untung saja tidak lewat. Barangkali pembacoknya memang tidak berniat membunuh, hanya kasih peringatan.


MELETAKKAN PLAKAT . LALU MEMBUKA PAKAINNYA/SALIN.

Saya bingung. Akhirnya setelah putar otak, saya beranikan diri mengunjungi direktur pabrik teksil, majikan warga yang menginginkan jalan pintas itu. Saya memakai batik (kebaya dan jarik kalau pemainnya perempuan) supaya kelihatan resmi dan sedikit dipandang.


MEMAKAI BATIK

Tapi susah sekali. Orangnya selalu tidak di tempat. Baru setelah mengaku petugas kelurahan, akhirnya saya diterima.
Direktur itu kaget setelah mengetahui saya bukan petugas kelurahan tapi korban penggusuran. Tetapi ia cepat tersenyum ramah, lalu menguncang tangan saya. Begitu saya semprot bahwa kami tak sudi dipangkas, dia bingung. Kepalanya geleng-geleng seperti tak percaya. Lalu ia memanggil sekretaris. Setelah berunding bisik-bisik, ia kembali memandangi saya seperti orang stress.


MENIRUKAN DIREKTUR PABRIK TEKTIL YANG DIALEKNYA RADA CADEL/ASING

"Tuhan Maha Besar, saya tidak tahu ini. Saya minta maaf. Saya tidak memperbolehkan siapa saja membuat tindakan-tindakan pribadi atas nama perusahaan. Para karyawan sudah diberi uang transport. Kalau mereka memerlukan jalan pintas, mungkin karena mereka ingin menyelamatkan uang transport itu. Itu di luar tanggungjawab perusahaan. Pembuatan jalan itu bukan inisiatif dan bukan tanggungjawab kami. Saya minta maaf. Saya mohon Anda menyampaikan rasa maaf saya kepada seluruh warga,"

Dia begitu bersungguh-sungguh. Saya mulai senewen. Saya tak percaya apa yang dikatakannya. Ini sandiwara apa lagi. Saya bukan orang bodoh, saya tidak mau dikibulin mentah-mentah begitu. Saya tahu dia hanya pura-pura. Mulutnya yang manis, tingkah lakunya yang sopan itu tidak bisa mengelabui saya. Saya bisa mengendus apa yang disembunyikan di balik topengnya itu. Orang kaya raya begitu, berpendidikan tinggi, luas pandangannya, pasti tahu apa sebenarnya yang terjadi. Tidak mungkin dia tidak paham apa artinya 2 meter tanah buat kami, meskipun bagi dia 2000 hektar itu hanya seperti upil. Orang yang pasti sudah bolak-balik ke luar negeri itu masak tidak tahu, kami, paling sedikit saya ini tahu, bukannya para karyawannya itu yang serakah mau menyelamatkan uang makan, tapi dia sendiri yang memang mau mencaplok pemukiman kami. Nanti lihat saja, kalau jalan sudah dibuat, uang makan akan distop, karyawannya akan disuruh jalan kaki datang. Tai kucing. Rai gedek! Sudah konglomerat begitu, menyelamatkan uang receh saja pakai menyembelih rakyat.
Aku tahu! Aku tahu! Tal kasi tahu warga semuanya apa yang sudah terjadi. Aku adukan nanti kepada Jaksa Agung! Beliau itu dulu waktu masih miskin sering mampir di warung saya! Biar orang semacam ini ditindak. Asu! (MENYUMPAH-NYUMPAH KOTOR DALAM BAHASA DAERAH)


DIA MENYABARKAN DIRINYA, KARENA KATA-KATANYA SEPERTI SUDAH TAK TERKENDALI.

Betul. Orang kecil seperti saya ini memang kelihatannya lemah dan gampang ditipu. Karena kami sadar pada diri kami sehingga kami selalu menahan diri. Tapi kalau sudah kebangetan seperti ini saya meledak juga. Semut pun kalau diinjak terus akan menggigit.
Karena terlalu marah, saya tidak bisa ngomong lagi. Muka saya saja yang kelihatan merah. Dia mengerti. Saya siap untuk meledak. Dia semakin ramah, semakin halus bicaranya. Saya diperlakukan sebagai tamu terhormat. Tapi saya terus maju. Ini perjuangan.
Dia menyuguhkan makanan dan minuman. Saya tolak. Saya datang bukan untuk bertamu atau ramah-tamah. Saya membawa suara rakyat, menuntut keadilan. Keadilan untuk kami saja.
Kami tidak minta apa-apa, kami hanya minta tanah kami yang 2 meter itu jangan diganggu. Itu hak kami! Titik.
Di atas meja dihidangkan kue-kue yang lezat. Hhhh! Tapi saya tidak sudi menjamah, sebelum tuntutan kami didengarkan. Dia mencoba bertanya tentang keluarga saya, anak saya kelas berapa. Ah itu kuno. Saya tahu itu taktik untuk memancing pengertian.
Dia juga berbasa-basi menanyakan bagaimana keadaan Asep. Lho saya jadi tambah curiga. Jadi dia tahu sekali apa yang terjadi. Mungkin dia yang menyuruh sopir itu membacok Asep, karena Asep juga pernah memprotes pembuangan limbah dari pabrik yang mengalir ke selokan di depan rumah kami.
Saya bertekad, saya tidak akan keluar dari kantor itu sebelum ada keputusan membatalkan perampokan 2 meter tanah kami untuk jalan. Saya ditunggu oleh warga.
Saya hanya mau pergi kalau ada keputusan yang menguntungkan rakyat kecil!.
Akhirnya dia menganguk, tanda dia mengerti. Kemudian dia menunduk dan membuka laci mejanya mengambil kertas. Saya bersorak dalam hati. Akhirnya memang kunci segala-galanya pada kegigihan. Kalau kita getol berjuang pasti akan berhasil.
Tetapi kemudian darah saya tersirap, karena Direktur itu mengulurkan kepada saya sebuah amplop coklat yang tebal. Saya langsung tak mampu bernafas.


DARI ATAS JATUH SEBUAH AMPLOP RAKSASA BERISI TULISAN RP 1.000.000.000. SATU MILYAR TULISAN MELAYANG SETINGGI DADA DI DEPANNYA. IA GEMETAR.

Tebal, cokat, apalagi di atas amplop itu tertera 1.000.000.000. Satu milyar. Ya Tuhan banyaknya. Saya belum pernah memegang uang sebanyak itu. Satu milyar?

MENGHAMPIRI AMPLOP. MENYENTUH DENGAN GEMETAR, TAK PERCAYA, RAGU-RAGU, GEMBIRA. KEMUDIAN MEMEGANGNYA.

Satu milyar. Seratus kali lagi hidup saya tidak akan sanggup mengumpulkan satu milyar. Ya Tuhan, alangkah miskinnya saya. Mengapa tiba-tiba saya dihujani rizki sebanyak ini.


MEMELUK AMPLOP ITU. MENGANGKATNYA. MENJUNJUNGNYA. MEMBAWANYA KE SANA-KE MARI. KEMUDIAN MENGEKEPNYA. LALU MENARIKNYA KE BAWAH. MEMELUKNYA. SEPERTI KUCING YANG BERMAIN-MAIN DI ATAS KERTAS, IA TELENTANG, TENGKUREP DI ATAS UANG ITU SAMBIL MENCIUM-CIUMNYA. KEMUDIAN IA MASUK KE DALAM AMPLOP, SEPERTI ANJING YANG MENGOREK-OREK TONG SAMPAH DENGAN BERNAFSU DAN NGOS-NGOSAN. AKHIRNYA IA MENGGULUNG DIRINYA DENGAN AMPLOP UANG ITU.

Satu milyar. Apa yang tidak bisa dibeli dengan satu milyar. Alhamdulillah! Saya bisa perbaiki rumah. Kredit motor, jadi tukang ojek. Bayar SPP. Saya bisa kirim uang sama orang tua.
Puji syukur Tuhan, akhirnya Kau kabulkan doa kami setiap malam, supaya kami bisa mengubah nasib, jangan terus terjepit di tempat kumuih ini seperti kecoak.


MENANGIS KARENA GEMBIRA DAN TIDAK PERCAYA. KEMUDIAN DIA BERDIRI KEMBALI DAN MEMELUK AMPLOP BESAR ITU, SAMA SEKALI TAK MAU MELEPASKANNYA.

Saya gemetar. Saya tak menanyakan lagi berapa isi amplop itu. Untuk apa 1 milyar itu. Saya tidak perlu lagi menanyakannya. Saya hanya menerimanya, lalu menyambut uluran tangannya. Lantas terbirit-birit pulang. Takut kalau amplop itu ditarik lagi. Saya ambil jalan belakang, sehingga tak seorang warga pun tahu saya barusan datang dari rumah direktur.
Saya kumpulkan keluarga saya dan jelaskan kepada mereka, bahwa sejak hari itu hidu;p kami akan berubah. Doa kita sudah dikabulkan.


MELEPASKAN KEMBALI AMPLOP. AMPLOP BESAR NAIK KEMBALI, MELAYANG DI ATAS KEPALANYA.

Esok harinya, ketika para warga gang Gugus Depan kembali mendatangi saya untuk mendengarkan hasil rembukan saya dengan Pak Direktur untuk selanjutnya menetapkan tindakan apa selanjutnya yang harus dilakukan, saya memberi wejangan.
Saudara-saduara warga semuanya yang saya cintai. Memang berat kehilangan 2 meter dari milik kita yang sedikit. Berat sekali. Bahkan terlalu berat. Tetapi itu jauh lebih baik daripada kita kehilangan nyawa. Lagipula semua itu untuk kepentingan bersama. Kita semua mendukung demokrasi dan sudah bertekad untuk mengorbankan apa saja demi tegaknya demokrasi. Di dalam demokrasi suara terbanyak yang harus menang. Maka sebagai pembela demokrasi, kita tidak boleh dongkol karena kalah. Itu konsekuensinya mencintai demokrasi. Demi demokrasi, kita harus merelakan 2 meter untuk pembuatan jalan yang menunjang pembangunan ini. Demi masa depan kita yang lebih baik.
Seluruh warga yang saya pimpin tak menjawab. Seperti saya katakan, mereka semuanya pembela demokrasi. Kalau atas nama demokrasi, mereka relakan segala-galanya. Satu per satu kemudian mereka mereka pulang.
He tunggu dulu, saya belum selesai bicara!
Kuping mereka buntet. Tanpa peduli rapat belum rampung, semuanya pergi.
Tunggu! Tunggu!
Tak ada yang menggubris. Semuanya ngacir. Tinggal saya sendiri dan seorang tua. Tapi dia tidak pergi bukan karena suka tapi karena kakinya semutan. Setelah reda dia juga berdiri dan pergi sambil ngedumel.
"Kalau memang demokrasi itu tidak melindungi kepentingan rakyat kecil, aku berhenti menyokong demokrasi. Sekarang aku menentang demokrasi!”


TERDENGAR SUARA SORAK DAN YEL-YEL YANG TIDAK JELAS. SEPERTI ADA KERIBUTAN. LALU SUARA TEMBAKAN. BARU SEPI KEMBALI.

Sejak itu semuanya benci kepada demokrasi. Sejak hari itu, warga Rt Gugus Depan yang saya pimpim kompak menolak demokrasi. Hanya tinggal saya sendiri, yang tetap berdiri di sini. Teguh dan tegar. Tidak goyah oleh topan badai. Tidak gentar oleh panas dan hujan. Saya tetap kukuk tegak di atas kaki saya, apa pun yang terjadi siap mempertahankan demokrasi, sampai titik darah yang penghabisan.
Habis mau apalagi. Siapa lagi kalau bukan saya?
Daripada diberikan kepada orang lain?


DENGAN SUARA YANG GEMURUH AMPLOP BESAR ITU JATUH MENIMPA, DIIKUTI OLEH BANYAK AMPLOP LAIN YANG LEBIH BESAR, SEHINGGA IA JATUH DAN TERTIMBUN OLEH AMPLOP.

LAMPU MEREDUP DAN PADAM.


Sunter Mas 12-12-1994, Astya Puri 28-2-2006

Siapa

SIAPA

monolog oleh
Putu Wijaya




DEMONSTRASI SEDANG BERLANGSUNG DI JALANAN. ADA DUA BELAH PIHAK YANG SEDANG BERTENTANGAN SAMA-SAMA TURUN KE JALAN. SEMENTARA PETUGAS KEAMANAN SIAP SEGALA UNTUK MENJAGA SEMUA KEMUNGKINAN. SETIAP SAAT BISA TERJADI BENTROKAN YANG BERDARAH. MEDIA MASSA SUDAH BERSIAP-SIAP UNTUK MENGABADIKAN.

SEORANG WARGA (BISA LELAKI BISA PEREMPUAN) BERJALAN KEBINGUNGAN, SEPERTI BENDA ASING YANG TERJEPIT DI UJUNG SENJATA YANG AKAN MELETUS. DIA TAKJUB MEMPERHATIAN SEKITARNYA DAN MENGGUMAN.

Aku berjalan menuju ke gedung MPR, di mana sedang dilaksanakan Sidang Istimewa. Aku tidak bermaksud untuk meliput, apa yang terjadi di gedung itu. Aku juga tidak bermaksud untuk melakukan demo kontra SI. Tidak juga untuk menjadi pendukung untuk mengamankan SI, apa yang disebut pengamanan swa karsa.
Aku hanya seorang warganegara abu-abu, yang tidak memilih hitam atau putih. Bukan karena aku ingin bersikap. Tetapi karena aku bingung, tidak memiliki pemahaman yang gamblang, karena informasi yang sampai ke otakku hanya separuh-separuh.

SUARA SIRINE

Tiba-tiba langkahku dipotong pengeras suara. Stop! Stop! Siapa itu! Jangan bergerak!

ORANG ITU BERHENTI.

Sebelum sampai ke tujuan, aku dicegat oleh petugas. Jalan ditutup. Kamu tidak boleh lewat di situ!

TERDENGAR SORAK GEMURUH PARA DEMONSTRAN

Astaga! Beribu-ribu mahasiswa terlibat baku hantam dengan para petugas bersenjata. Sudah terdengar suara tembakan. Kemudian teriakan-teriakan. Aku melihat asap gas air mata. Lalu air yang disemprotkan. Mobil penggusur demo bergerak menyongsong menyisir jalan. Para mahasiswa lari berserakan. Ada yang nekat menerjang, tapi tongkat-tongkat langsung terangkat dan dipukulkan. Tidak pandang bulu! Lihat ada yang terkapar. Darah menyiram muka dan bajunya. Tangannya diseret!

SUARA BENTURAN KERIBUTAN. ORANG ITU NAIK KE TEMPAT YANG LEBIH TINGGI.

Sudah banyak yang tumbang dengan kepala bocor. Tetapi terus juga ditendangi karena dia tidak mau mundur. Ada yang digotong untuk diungsikan ke tempat perawatan. Sementara beberapa orang terus-terusan berteriak, berseru memimpin, memberi komando, mengatur strategi.
Jangan mundur, hantam, robohkan pagarnya! Jangan takut, mereka hanya menggertak. Siapa berani melawan suara rakat?! Tahan! Aduh.

ORANG ITU JATUH KENA LEMPAR BATU.

Aku tidak ikut! Aku hanya penonton!

ORANG ITU MERAYAP MENCARI PERLINDUNGAN. SUARA MOBIL MENGERAM LEWAT . ENTAKAN SEPATU BERLARI. KOMANDO-KOMANDO UNTUK MUNDUR. DAN KEMUDIAN SEPI. ORANG ITU PERLAHAN-LAHAN BERDIRI.

Ya Tuhan. Para demonstran itu berbalik menyerang. Mereka membawa batu, bom molotof. Anak-anak dan perempuan di depan!

MENGAMBIL BATU DAN BENDERA, SAMBIL-MENGIBAS-NGISAKAN BENDERA, MELEMPAR DAN MEMAKI

Diktator! Koruptor! Manipulator!

ORANG ITU MELEMPARKAN BATU-BATU DAN BOM MOLOTOF (SEMUANYA DIBUAT DARI GUMPALAN KERTAS YANG TIDAK MEMBAHAYAKAN) DILEMPARKAN KE SEGALA ARAH, TERMASUK KE PENONTON.

Lihat, kalau kita nekat, mereka juga keder. Mereka tahu kita memperjuangkan kebenaran! Kasihan juga mereka sebenarnya bingung. Ada yang menegak pel supaya keberaniannya keluar. Lalu dengan mata gelap mereka mengamuk. Buas menembak karena mereka tidak sadar. Mereka sebenarnya kawan-kawan kita juga!
Dengan mata gelap mereka maju. Demi tugas, hajar terus!

MAU MELEMPAR, TAPI KEMUDIAN BALASAN DATANG ADA LEMPARAN KE ARAH ORANG ITU BERTUBI-TUBI. KEPALA ORANG ITU KENA BATU.

Aduh! Aku tidak ikut!

ORANG ITU MELOMPAT MENYELAMATKAN DIRI. GEROMBOLAN DEMONSTRAN LEWAT DENGAN TERIAK-TERIAKAN HISTERIS.

Gila. Para demonstran itu sudah kesurupan. Mereka tidak takut mati. Para petugas itu dilawan. Petugas-petugas itu menembak ………… tidak, mereka lari. Mundur. Mereka berlompatan dikejar. Kenapa mereka lari? Apa senjata mereka tidak berisi peluru.. Ya ampun, itu yang gendut jatuh. Langsung diterkam. Ditelanjangi. Pakaian seragamnya dibuka. Dan ….. kenapa teman-temannya lari kabur?

TIBA-TIBA TERDENGA SUARA TEMBAKAN. ORANG ITU MENJATUHKAN DIRINYA. SUARA TEMBAKAN BERUNTUN. ORANG MENCARI PERLINDUNGAN KE BAWAH KURSI PENONTON. TEMBAKAN TERUS GENCAR MENJAUH. ORANG ITU BERDIRI.

Mereka sekarang baru menembak. Tapi arahnya ke atas. Tidak ada yang takut. Orang yang ditelanjangi itu sekarang ……… dilepaskan. Dia ternyata tidak digebukin, badannya masih mulus. Dia mengenakan lagi celananya tanpa celana dalam. Orang-orang itu lari. Kenapa mereka lari?

PINJAM KURSI PADA PENONTON, LALU NAIK DI KURSI. MELAPORKAN APA YANG DILIHATNYA DARI TEMPAT TINGGI.

Ya Tuhan, jadi itu rupanya, dari situ demonstran yang lain muncrat seperti bah. Mereka membawa kelewang, cerurit, besi, rantai sepeda, senjata-senjata tajam mau menyelamatkan petugas-petugas yang sudah pakai celana lagi itu. Demonstran-demontsran itu berhenti, lalu berbalik lari. Lari Tapi tidak, koreksi, demonstran yang lari itu tidak lari. Hanya lapisan perempuan dan anak-anak di barisan depan ditarik mundur. Yang di belakang maju. Dua kekuatan rakyat akan bertempur.
Sekarang mereka akan berkelahi. Demonstarn lawan demonstran. Wah ini perang saudara!

SUARA RIUH-RENDAH DARI KEDUA BELAH PIHAK. TURUN DARI KURSI DAN MENGEMBALIKAN KURSI, LALU MEMALINGKAN MUKANYA.SEDIH.

Ya Tuhan Mereka saling menyerang. Bunuh-bunuhan. Perang saudara! Kenapa para petugas hanya menonton dari kejauhan. Jangan! Jangan biarkan mereka berkelahi! Kita semua kan saudara! Jangan termakan provokasi!

TIBA-TIBA KERIBUTAN ITU BERHENTI. ORANG ITU MENOLEH KEMBALI DAN MEMPERHATIKAN.

Oooooo ? Tidak. Ternyata mereka tidak jadi berkelahi. Mereka berunding. Ada negosiasi. Tapi setelah ada yang mati. Kenapa selalu begitu?

ORANG ITU TERMENUNG.

Siapakah aku ini? Apakah aku adalah bagian dari salah satu pihak? Atau semua pihak? Mungkinkah aku pihak yang lain? Mengapa hanya ada dua pihak? Aku di mana? Aku tidak pro tapi juga bukan kontra. Aku tidak mau berkelahi. Kenapa mesti berkelahi? Aku tidak ingin menang, tapi kenapa juga harus kalah.
Ini rumahku Ini rumahku bukan? Ya ini rumahku sendiri. Jadi aku menunggu saja. Kenapa orang menunggu dilarang? Aku tidak mau terlibat, biar aku nonton saja, aku harap agar segala yang baik untuk semua pihak akan terjadi.

SEORANG MAHASISWA MENGHAMPIRI. MENOLEH.

Ya? Ini siapa? Dari kubu mana? Adik mahasiswa mana? O kamu di situ yang dipukul tadi itu kan? Kepalamu berdarah, sakit? Tapi tidak gegar otak, kan!? Sebaiknya ke rumah sakit sekarang, nanti kehabisan darah.
Kakinya juga pincang kena tendang ya? Aku lihat diinjak-injak tadi. Apa? O hanya terkilir masuk selokan karena di dorong temannya sendiri? Dan kepala itu juga tidak bocor karena dipukul tapi benturan dengan aspal. Tapi sama saja. Berdarah dan bisa gegar otak!
Ah! Jangan memandang aku begitu. Aku memang tidak ikut-ikutan. Aku tidak mau terbawa-bawa provokasi, bukan karena takut. Tapi ya, takut juga. Siapa yang mau kepala bocor dan kaki pincang begitu.

MELIHAT KE PENONTON.

Tapi mahasiswa itu marah. Dia melotot menusuk mataku. Tidak mengerti dengan badan yang masih sehat dan wajah yang masih menyimpan ambisi, kenapa aku tidak ikut terjun ke dalam barisan kontra SI.
Seharusnya kamu ikut untuk menambah satu suara kita lagi, katanya. Ya, seharusnya kamu jangan hanya nonton doang, ini bukan tontonan. Ini perjuangan, tahu?! Goblok! Ini penting, ngerti nggak?! Idiot!
Kamu lihat siapa yang berada di dalam gedung itu? Di situ ada orang-orang yang mengaku dirinya sebagai wakil rakyat. Tetapi kita sama sekali tidak merasa terwakili oleh mereka. Mereka tidak berhak untuk mengatasnamakan kita, apalagi mau memutuskan sesuatu yang akan menjerat kita.
Sidang ini harus digagalkan. Ini sebuah sandiwara besar dari orang-orang yang seharusnya kita usir dari gedung yang terhormat itu. Semua hasilnya, tahi kucing sekali pun harus kita boikot. Kita tidak memerlukan hasil komplotan dagang.
Kita harus bongkar kedoknya, ganti dengan orang baru yang lebih afdol membela kepentingan rakyat. Yang mengabdi rakyat, bukan ngembat rakyat! Ayo terjun sekarang juga kamu!. Kecuali kalau kamu memang antek-antek mereka! Oportunis!

ORANG ITU MEMANDANG KE ARAH MAHASISWA ITU KEMBALI

Maaf, saya bukan pendukung SI, tapi bukan pendukung tidak kemudian langsung berarti saya kontra. Saya tidak punya sikap karena tidak mau bersikap, untuk sementara. Itulah sikap saya. Nanti kalau waktunya saya akan bersikap

MENOLEH KE PENONTON

Tapi mahasiswi itu mengerutkan keningnya. Ia jijik.
Cucunguk! Orang-orang macam kalianlah yang sudah bikin perjuangan kita terhambat. Kamu bikin gurem reformasi. Berapa kamu dibayar ah? Apa itu cukup untuk membahagiakan anak-cucu kamu nanti yang akan mewarisi negeri hancur yang sudah jadi sapi perahan wangsa KKN itu? Kamu antek rezim KKN! Tolol! Dekaden! Pengecut! Banci!

MAHASISWA ITU PERGI

Tunggu!

SEORANG MAHASISWA MASUK, LALU MEMEROSOTKAN CELANA , NUNGGING MEMBERIKAN PANTATNYA PADA ORANG ITU. ORANG ITU MEMALINGKAN MUKA SAMBIL MENUTUP MATANYA

Ya ampun!
Aku malu. Wanita secantik dan semuda itu sudah menyebutku banci. Aku tidak mampu menjawab karena aku memang banci. Tidak bersikap ketika orang lain bersikap. aku memang banci. Tapi tiba-tiba seorang petugas bersenjata menarik tanganku. Dengan kasar aku diseret menjauh dari gedung. Lalu dicampakkan. Ketika aku mencoba mempertahankan keseimbangan, sebuah tongkat melayang dan langsung mendarat di batok kepalaku.

JATUH

Kamu mau apa sebenarnya? Apa kamu tidak tahu, kita harus menempuh jalan konstitusional untuk mempercepat terjadinya Pemilihan Umum. Untuk mempercepat terjadinya pemilihan presiden yang baru. Apa kamu tidak tahu SI ini adalah jalan yang paling dekat untuk mengatasi krisis politik.
Kamu tidak boleh mengatasnamakan demokrasi dan hak azasi untuk membenarkan segala tindakan anarkhis dan vandalis ini. Siapa sebenarnya memulai dengan kekerasan, kamu atau kami petugas? Untuk apa kamu kontra SI, padahal SI ini tujuannya memulyakan demokrasi secara konstitusional, tahu?!!

ORANG ITU BANGUN

Tapi saya bukan orang yang kontra, Pak. Bukan kontra juga tidak berarti saya pendukung. Memang kedengarannya plintat-plintut, seperti bunglon, mencari enaknya. Tetapi itu sikap saya Pak, bukan mencari arah angin.

MERAIH TONGKAT YANG BERSERAKAN DI JALAN, LALU MEMUKUL.

Banyak mulut! Pengacau! Provokator!

MENENDANG. DAN MEMUKUL ADA SESUATU DI JALAN YANG HANCUR BERANTAKAN KARENA DIPUKUL-PUKUL. BARU PETUGAS ITU NAMPAK TENANG LAGI.

Maaf kami hanya menjalankan tugas. Sekarang yang paling penting adalah menjaga keamanan. Kami akan menempuh jalan damai kalau semuanya mau berdamai. Tapi kalau tidak, kami juga tidak ragu-ragu untuk menindak tegas dan keras, terhadap siapa saja yang mencoba-coba membuat kerusahan. Kalau perlu (MEMUKUL) menghukum! Ini negara hukum, bukan hutan-rimba tempat binatang-binatang yang biadab berkuasa. (MENGAUM KARENA MARAH)

MEMUKUL SEKALI LAGI SAMPAI TONGKATNYA PATAH. TAPI KEMUDIAN DUA ORANG MUNCUL MEMUKUL. ORANG ITU JATUH. KEDUA ORANG ITU LALU MENGINJAK-INJAKNYA. MEROBEK PAKAIANNYA. DAN KEMUDIAN MENINGGALKANNYA. NAMPAK TUBUH ORANG ITU TERBALUT PERBAN.

SUARA SIRENE MERAUNG-RAUNG. ORANG ITU BANGUN. SETELAH BAJUNYA TERBUKA, KELIHATAN DI BALUTAN PERBANNYA ADA PENDARAHAN LAGI.

Ketika sadar lagi dan membuka mata, aku sudah berbaring di rumah sakit lagi. Untuk kesekian kalinya! Kepala dan badanku dibebat. Tanganku diinfus. Sementara di pesawat televisi, keributan pro dan kontra SI semakin marak. Beberapa orang sudah meninggal. Pagar roboh.

ORANG ITU BERDIRI SEMPOYONGAN LALU BERJALAN..
Aku tidak mau hanya menonton lewat televisi. Kamera-kamera televisi hanya nyorot apa yang mereka sukai. Aku harus melihat seluruh keadannya lebih adil. Kenapa para demontrans itu berkelahi. Mengapa para petugas itu garang. Aku harus kembali ke gedung MPR. Letaknya masih di situ kan?
Ya. Orang-orang yang ada di dalamnya juga masih terus berunding. Aku harus masuk ke situ! Biar mereka lihat apa hasil perundingan mereka yang tak tak ada ujungnya itu di luar gedung!


BERJALAN TAPI DIHALANGI PETUGAS YANG MERANTANGKAN KAIN PUTIH.

Ternyata jalan sudah diblokir. Pintu tertutup semua!

ADA RENTANGAN KAIN PUTIH. . ORANG ITU MENCOBA MENEROBOS. TAPI TAK BISA. IA MALAH TERBUNGKUS OLEH KAIN ITU. IA BERTERIAK-TERIAK, TAPI SEMAKIN TERBUNGKUS. TANGANNYA BERHASIL MEROBEK DAN MENJULUR KELUAR. KEMUDIAN TANGANNYA YANG SATU LAGI. TAPI KEPALANYA TAK BERHASIL KELUAR.

Penjagaan berlapis-lapis, tidak bisa diterobos. Sementara orang makin garang berkelahi. Semua pihak sama-sama ada yang mati. Para mahasiswa berdarah, rakyat jadi korban, para petugas makin ganas. Orang-orang di dalam gedung perundingan itu juga berkelahi, tapi mereka tidak berdarah. Sebentar lagi di antara mereka akan berhasil menduduki kursi. Orang-orang yang mengatur dari belakang meja dengan remote control di tempat-tempat yang tidak kelihatan, juga lelah, tapi mereka terjamin aman menyaksikan banjir darah perang saudara ini di rumahnya yang nyaman.

ORANG ITU TERUS MENCOBA. IA BERHASIL KELUAR DARI DALAM KAIN. LALU MENCOBA KEMBALI MENEROBOS. TAPI KAIN PUTIH ITU MEMELINTIR MENJADI TAMBANG. ORANG ITU BERJUANG MENCOBA MELEWATI TAMBANG KAIN PUTIH. TAPI KEMUDIAN KAIN PUTIH YANG MENJADI TAMBANG ITU KARENA IA BERGERAK MEMUTAR, MELILIT LEHERNYA. IA MENCOBA MAJU, TAPI LEHERNYA TERCEKEK. LALU TERDENGAR SUARA TEMBAKAN. ORANG ITU BERHENTI MENEROBOS. IA BICARA KEPADA PENONTON.

Aduh! Tolong! Siapa aku ini sebenarnya? Aku pemilik negeri ini, tetapi kenapa bukan aku yang berada di dalam gedung itu dan memutuskan apa yang baik untuk diriku sendiri? Kenapa bukan aku yang memakai pakaian seragam dan berjaga-jaga. Karena kalau aku mereka, aku tidak akan memukulkan tongkat ke arah kepalaku sendiri, sehingga aku gegar otak. Mengapa bukan aku yang berteriak mendukung SI. Kenapa juga bukan aku yang berteriak-teriak kontra SI? Di mana aku?
Siapa aku ini? Siapa aku sebenarnya?. Mengapa mereka berkelahi untuk sesuatu yang aku miliki. Apa mereka sudah minta izin kepadaku bahwa mereka akan berkelahi untuk milikku. Siapa sebetulnya semua mereka itu? Siapa?

TEMBAKAN BERTUBI-TUBI DAN ASAP MENGEPUL. SUARA KERIBUTAN SEMAKIN KERAS . ORANG ITU TERUS BERTANYA-TANYA, TETAPI SUARANYA TIDAK BISA LAGI JELAS TERTANGKAP.

Aku akan terus bertanya meskipun suaraku tidak ada yang mendengar. Siapa aku sebenarnya? Aku akan terus bertanya, biarpun badanku makin lemah, karena darahku sudah terkuras, kehidupan sudah tambah berat, rupiah sudah anjlok lagi 240 poin. Harapannya untuk dapat sesuap nasi makin tipis. Tubuhku sudah gemetar. Tapi sebelum semua berakhir , aku akan tetap aku aklan terus bertanya sekali lagi sekali lagi bertanya..
Siapakah aku? Siapa sebetulnya mereka?

TERDENGAR SUARA LEDAKAN. SUARA SIRINE.

Siapa aku? Siapa kamu?

TERDENGAR TEMBAKAN BERTUBI-TUBI. KERIBUTAN MASA YANG BENTURAN DENGAN MASA. ORANG ITU SEPERTI TERTEMBAK, KENA BENTUR BERTUBI-TUBI. TAPI DIA BERTAHAN DAN TERUS BERTANYA-TANYA.

Siapa aku, siapa kamu?

SUARA SIRINE. ASAP MAKIN TEBAL. PERLAHAN-LAHAN GELAP.


Jakarta 13-11-98

Suara

SUARA
monolog

Putu Wijaya

SEBUAH PETI UNTUK DUDUK, DI ATASNYA SEORANG PENULIS SEDANG TERPAKU DI DEPAN KOMPUTERNYA, MEMBELAKANGI PENONTON. DI LATAR BELAKANG ADALAH PROYEKSI DARI LAYAR KOMPUTERNTA.

Larut malam, aku sedang mencoba menulis, menggasak otakku yang berkarat, Tiba-tiba terdengar ada suara memanggil-manggil namaku.
“Putu! Putu!!!!” (ATAU NAMA YANG LAIN)
Aku terpental dari mimpi, lalu meloncat bangun, membuka pintu dan keluar rumah.

PENULIS ITU BERDIRI DAN KELUAR. DI LAYAR KOMPUTER NAMPAK PENULIS ITU KELUAR DARI RUMAH. LAYAR MENJELASKAN SECARA VISUAL APA YANG DIUCAPKAN OLEH PENULIS ITU.

PENULIS ITU KEMBALI MASUK DAN BICARA KEPADA PENONTON. IA MEMBERIKAN NARASI PADA APA YANG TERJADI DI LAYAR. ATAU GAMBAR DI LAYAR MENJELASKAN APA YANG TERJADI DI LUAR RUMAH. ATAU TERSERAH SUTRADARA.


Tak ada tanda-tanda ada orang di dekat rumahku. Hanya suara jengkrik dan gorong-gorong yang kemudian segera terputus ketika menyadari kehadiranku. Aku nyalakan lampu kamar depan untuk memberitahukan bahwa aku sudah terjaga kepada siapa saja dia, yang sudah berusaha untuk menghubungiku.
Lima menit aku tunggu. Setengah jam. Suara serangga malam itu sudah mulai lagi merangkak menggerayangi kesepian yang ditinggalkannya dengan tiba-tiba tadi. Toh aku masih tetap berdiri menanti. Menunggu. Rasanya tidak mungkin tidak ada yang berseru memanggil, karena suara itu begitu nyata, sebuah gapaian yang mengharapkan untuk dijawab.
Sejumlah tetangga sedang lek-lekan di halaman rumahnya. Dua orang hansip pensiunan tentara yang sedang melakukan ronda, berhenti dan rupanya sedang disuguhi kopi. Dia bercerita tentang kegilaan presiden Bush yang tetap hendak menyerang Irak tanpa peduli apakah PBB menyetujuinya. Mereka mencampur-baurkannya dengan berita-berita gossip para bintang sinetron yang saling tukar pacar dan bahkan tukar pasangan.
Aku turun ke halaman mendekati mereka. Bertanya-tanya apa ada di antara mereka yang mendengar orang memanggilku. Atau mungkin salah seorang di antaranya yang sudah mengetuk pintu rumahku untuk semacam pertolongan. Ternyata tidak ada.
“Siapa yang memanggil? Kamu?”
Yang aku tanya semua menggeleng.
“Tidak ada siapa-siapa, kok,”jawabnya kemudian sambil menolehku kembali dengan heran dan sedikit terganggu, “masak kami berani kurangajar mengganggu sudah larut seperti ini? Atau suara kami yang barangkali terlalu berisik? Coba kecilkan suara radionya!”
Yang lagi asyik mendengarkan siaran wayang kulit di radio, langsung mencekek radionya. Aku jadi malu.
“Tidak apa-apa kok, “tukasku cepat, “tidak mengganggu, saya juga senang mendengarkan wayang.”
Sebagai basa-basi, aku kemudian duduk sebentar dan ikut nimbrung dengan pembicaraan mereka. Tapi ketika ditawari kopi, aku mengelak dengan alasan aku sedang dapat radang ginjal. Kopi mereka pasti kelas berat untuk menahan kantuknya, sedang aku ingin tidur.
“Kali ada janji?”tanya salah seorang menggoda.
Aku hanya tertawa. Sambil ikut mendengarkan siaran wayang, aku mengawasi sekitar. Tirai malam itu seperti menyembunyikan seseorang, karena seruan itu jelas sekali. Tak mungkin aku keliru.
Setelah sekitar seperempat jam, aku permisi. Tetapi di beranda rumah, aku kembali tertegun, lalu mencoba menajamkan telinga, karena suara itu terdengar lagi. Aku menunggu dengan deg-degan. Tapi yang kemudian muncul hanya tukang sate ayam yang meneriakkan dagangannya dengan suara yang menusuk seperti masuk ke hulu hati.
“Belum tidur, Pak?”
“Sudah.”
“Sate?”
“Nggak ah, besok aja.”

IA PERGI KE PINTU. KEMUDIAN SEPERTI BARU MASUK DARI LUAR. MENUTUPKAN PINTU.

Kututup lagi pintu, tanpa mengunci, siap- siap hendak meneruskan tidur. Mungkin saja suara itu bagian dari mimpiku yang kacau. Sudah sering sekali mimpi dan kenyataan dalam hidupku saling menembus batas. Orang bilang kalau sudah begitu tanda pikiran lagi goyah. Tapi kapan pikiran bisa tenang, kalau sedang tumbuh untuk menyelaraskan dengan bantingan kehidupan yang semakin binal ini. Kapan bisa tenang kalau di mana-mana ada perang?
Perlahan-lahan aku letakkan lagi kepala di bantal dan siap melupakan semuanya. Kusibakkan mimpi dan perlahan-lahan menusukan diri. Tapi tiba-tiba kembali terdengar suara ketukan di pintu. Aku melonjak bangun dan berseru.
“Ya! Siapa itu?”

DI LAYAR PINTU TERBUKA. MUNCUL SESEORANG.

“Maaf, Putu.”
“Ada apa, Pak?”
“Sebenarnya Bapak yang sudah memanggilmu.”
“O ya? Bapak?
“Ya. Tapi itu sudah dua puluh tahun yang lalu, kenapa baru menyahut? Kenapa kamu baru menjawab sekarang, setelah semua kami mati, habis dibunuh oleh bajingan jahanam itu?”
Aku ternganga.
Orang itu menutupkan pintu kembali, tak menunggu jawabanku

PINTU TERTUTUP LEMBALI. LAYAR BLANK.
.
Sejak waktu itu aku menjadi seorang penulis.
Bertahun-tahun kemudian, juga saat larut malam, sedang bekerja di mesin ketik menulis sebuah kolom untuk surat kabar, tiba-tiba telepon berbunyi. Ketika aku angkat, terdengar suara seorang wanita jauh di sana. Ia berbisik serak, tetapi suaranya jelas sekali. Seakan-akan bibirnya menempel di telinga dan hangat nafasnya menyembur pipiku.

DI LAYAR NAMPAK WAJAH MEREMPUAN.

“Putu….”
“Ya? Siapa ini?”
“Namaku Arudati.”
“Siapa?”
“Dua jam yang lalu, di jalan Merdeka, aku di jegal, disiksa, diperkosa dan dibunuh, lalu digeletakkan mati di pinggir jalan begitu saja seperti bangkai anjing. Mobil-mobil lewat dengan kecepatan tinggi. Semuanya menghindar tapi salah satu melindasku sehingga wajahku tak akan bisa dikenali lagi. Ada polisi yang memergoki kepingan tubuhku, tetapi ia sedang buru-buru mau pulang, karena keluarga istrinya datang dari seberang. Ia pura-pura tidak melihatku.

SEMUA KEJADIAN YANG DICERITAKAN PEREMPUAN ITU KELIHATAN DI LAYAR. LALU NAMPAK WAJAH PERFEMPUAN ITU MEMENUHI LAYAR, MENATAP LANGSUNG

Sekarang aku mulai dirubung laler ……… ”
“Apa?”

TUBUH PEREMPUAN ITU MENGGELATAK DI JALANAN DIRUBUNG OLEH BINATANG. BLANK. TELEPON DILETAKKAN

Aku terkesima. Mulutku ternganga. Sunyi malam masuk ke rongga tubuhku. Apa aku harus mempercayai semua itu?
Semua yang ada di komputerku jadi tak berharga lagi. Seluruh kata-kataku patah. Yang ada hanya kalimat-kalimat yang kosong dengan bunyi yang menyampah.
Tapi kemudian aku teruskan juga mengetik, karena hanya itu yang mampu aku lakukan. Besok pagi cerita itu sudah harus dibaca orang.
Dan tadi malam, di kamar 318 di hotel Tropicana, Durban, Afrika Selatan, aku kembali terbangun di penghujung malam. Jam menunjuk beberapa puluh menit sebelum pukul 2. Hampir 12 jam perjalanan udara ditambah dengan menunggu di Kualalumpur dan Johnnesburg selama12 jam, belum lagi 6 jam perbedaan waktu, masih membuatku mabok. Aku tak mampu tidur lagi, betapa pun sibuknya esok jadwal pertemuan para penulis yang sudah mengundangku untuk pertama kalinya ke benua hitam ini.

DI LAYAR GAMBAR LAUT.

Lalu kubuka jendela dan membiarkan udara lautan Hindia di depan hotel masuk ke dalam ruangan.. Suara ombak seperti tangan orang kelelap yang menggapai-gapai leherku. Aku merasa ngeri.
Ketika memandang ke jalanan di bawah, terlihat seorang wanita muda dengan memakai celana jin ketat, sedang gentayangan. Tubuhnya jangkung, bentuk pinggul dadanya menggairahkan. Ia menyebrang-nyebrang jalan dan melambai kepada mobil-mobil yang lewat. Tapi tidak ada yang menggubrisnya. Aku jadi dapat pikiran buruk.

SEMUA YANG DIKATAKAN PENULIS ITU KELIHATAN DI LAYAR.

Ya Tuhan, di mana-mana di dunia ini sama saja. Wanita yang harusnya tinggal di dalam rumah mengeloni anak-anak, pada tengah malam seperti ini, kenapa jadi berkeliaran di jalanan. Aku ingin marah.


LAYAR: HIGH ANGLE. ZOOM IN WAJAH PEREMPUAN.


Tiba-tiba wanita itu mendongak ke arah jendelaku, menatap langsung ke mataku. Tatapannya begitu menusuk. Ia berbisik. Gumamnya berserak ke seluruh bagian kepalaku seperti jarum-jarum yang dihujamkan dengan kesal.
“Tuhan, aku tahu Kau ada di sana. Aku tahu, Kau selalu ada di situ dan mengawasiku setiap detik. Tak ada yang luput dari mataMu. Dan aku juga tahu, Kau pasti sedang mengutukku dan siap-siap akan mengirimku ke neraka. Tapi aku tidak peduli! Aku tidak takut! Aku punya 12 orang anak yang sedang menunggu kedatanganku di rumah. Aku tidak punya sepeser pun buat sarapan pagi mereka besok. Apalagi untuk membeli susu supaya otak mereka berkembang, jangan jadi kecoak yang hanya bisa menadahkan tangan dan membuka mulutnya. Aku juga tidak punya duit sepeser pun untuk membiayai sekolah mereka. Kalau pun tiga orang saja nanti berhasil terus hidup, paling banter juga mereka hanya bisa jadi sampah, pelacur dan dan bandit-bandit jalanan. Aku sudah bangkrut, harga diriku sudah lama aku buang. Sekarang yang tinggal hanya ini!”

DI LAYAR: WANITA ITU MEMBUKA KUTANG DAN SETERUSNYA.


Wanita itu membuka kutangnya. Nampak buah dadanya berjutai keluar. Sudah layu. Tapi buat lelaki kesepian yang jauh dari istri seperti aku, itu sebuah kejutan. Ia juga mencopot semua pakaiannya dan telanjang bulat di jalanan.
“Hanya ini!” teriaknya sambil menunjuk ke kemaluannya.“Hanya ini yang masih aku miliki. Hanya ini yang bisa aku manfaatkan. Karena Kau sudah tega amat membiarkan suamiku mati dalam perang yang dia sendiri tidak mengerti apa gunanya. Aku juga heran dan bingung kenapa Kau membiarkan saja bangsat-bangsat itu membunuh dan akhirnya semuanya menang. Kenapa Kau biarkan mereka para penindas itu menguasai dunia dan menginjak-injak kami? Mana buktinya yang benar akan menang yang jahat akan kalah? Kamu cipoa!”
Wanita itu meludah.
“Kutuklah aku. Dera aku. Campakkan aku ke neraka! Atau beli memekku dan setubuhi aku sekarang di sini, supaya aku bisa pulang bawa uang. Atau Kau lebih suka ini……”
Wanita itu lalu nungging dan mengarahkan lubang pantatnya ke arahku.

LAYAR: HIGH ANGLE. ZOOM IN BIG CLOSE UP PANTAT PEREMPUAN.

Aku tak mampu lagi menerima semua itu. Aku bukan Tuhan, seperti yang disangkanya. Aku hanya seorang penulis yang mencoba memulung kata-kata besar, yang kemudian aku rias untuk dijual agar dapat honor buat menyambung hidup keluargaku. Aku juga hanya seorang pelacur seperti dia.
Cepat kututup jendela dan rentangkan korden.

MENUTUP JENDELA. LAYAR KOMPUTER BLANK.

Tapi tidak berarti semua itu bisa dibatalkan. Itu sudah terjadi.
Aku hanya bisa berjanji, untuk kesekian kalinya, bahwa aku akan mulai menulis lagi, apa yang seharusnya aku tulis, yang belum mampu aku tulis.

PENULIS ITU MULAI DUDUK DAN BEKERJA. DIA SEPERTI MENCANGKUL DI ATAS KOM PTERNYA. TANGANNYA KERAS MEMUKUL-MUKUL KEYBOARD. LAYAR ERROR. KEMUDIAN SHUT DOWN.


BLACK OUT.

Durban, Afrika Selatan 12 Maret 2003

Kemerdekaan2

KEMERDEKAAN

monolog:
Putu Wijaya


Seorang juragan perkutut yang sudah sangat tua, ingin memberi hadiah kepada burungnya. Ia mendekati sangkar peliharaannya itu, lalu berkata:
“Burung perkututku yang setia. Setiap hari kau sudah memperdengarkan suaramu yang merdu, sehingga hari-hariku yang buruk menjadi indah. Bertahun-tahun kau mengubah dunia yang busuk ini menjadi nyaman, sehingga kegembiraanku tak pernah hilang. Hidup menjadi menyenangkan, semangatku untuk melawan nasib berkobar, sehingga usiaku panjang, jiwaku penuh dan kesehatanku tak pernah mundur. Untuk segala jasa-jasamu itu, hari ini kuberikan kamu sebuah hadiah yang sangat istimewa namanya: kemerdekaan.”
Juragan itu membuka pintu sangkar burung perkututnya, lalu menunjuk ke udara.
“Lihatlah langit biru. Ke sanalah matamu harus memandang. Itulah kemerdekaan yang dicita-citakan oleh setiap orang. Itulah yang sudah dinyanyikan oleh para pemimpin yang berteriak-teriak di atas podium. Itulah yang sudah diserukan dengan yel-yel yang dahsyat di sepanjang jalan oleh para mahasiswa di dalam demo. Itulah yang tertulis dalam lirik-lirik lagu para penyanyi rock yang memuja kebebasan. Ke sanalah kamu harus pergi sekarang!”
“Kepakkan sayapmu burungku, terbanglah ke udara, nikmati kebebasan yang kini sudah menjadi milikmu. Melayanglah tinggi ke udara, gantungkan cita-citamu setinggi langit, seperti yang pernah dikoar-koarkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno!”
Burung perkutut di dalam sangkar itu terkejut. Matanya melotot. Ia mundur mendengar suara majikannya, seakan-akan ia tidak percaya.
“Ha-ha-ha, kenapa kamu bingung? Tidak percaya kemerdekaan itu sekarang menjadi milikmu? Goblok! Kemerdekaan adalah hak setiap orang. Itu karunia Tuhan yang sudah dirampas oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, yang sudah terlepas karena kamu tidak awas. Sekarang sudah menjadi milikmu kembali. Jangan ragu-ragu, ambil dan terbang, sebelum awan-awan datang dan merebut biru langit yang menakjubkan itu. Ayo terbang!”
Tapi sebaliknya dari terbang, perkutut itu mundur lagi, sehingga ekornya menyentuh jeruji sangkar. Badannya gemetar. Beberapa helai bulunya berjatuhan.
“Astaga! Kenapa kamu? Sakit?!” tanya juragan itu kecewa, “Kenapa kamu ketakutan? Harusnya kamu berteriak gembira karena bahagia. Kemerdekaan yang sudah diperjuangkan dengan nyawa dan darah oleh setiap bangsa di seluruh dunia, kini aku hadiahkan kepadamu dengan percuma. Revolusi dikobarkan selama puluhan tahun dan mengalirkan sungai darah yang memilukan Ibu Pertiwi karena putra-putra bangsa yang masih belia sudah terkapar tidak berdaya, tetapi bangsa yang ingin bebas dari pejajahan terus saja berjuang, sampai kemerdekaan itu menjadi kenyataan. Banyak yang sampai sekarang masih bertempur bersimbah darah karena perjuangan mereka gagal, kenapa kamu yang aku berikan kemerdekaan dengan cuma-cuma menolak? Ayo jangan bodoh, kepakkan sayapmu, terbang, sebelum aku berubah pikiran!”
Burung dalam sangkar itu bertambah ketakutan. Ia sampai kentut dan terkencingh-kencing tak mampu menahan tikaman emosinya.
“Gila!” teriak orang tua itu mulai tak sabar, “dasar binatang, tidak mengerti arti kebaikan. Ayo terbang, nikmati kemerdekaanmu yang aku hadiahkan! Terbang sekarang sebelum mubazir!”
Tiba-tiba burung perkutut itu berbicara. (Di dalam cerita ini burung memang bisa bicara seperti di zaman Nabi Sulaiman. Burung-burung perkutut di Indonesis semuanya bisa ngoceh terutama yang laki-laki)
“Tuan, jangan berikan kemerdekaan itu kepada saya. Jangan, Tuan, saya takut.”
“Takut? Kenapa takut?”
“Sebab kalau saya keluar sekarang, dalam waktu tidak lebih dari tiga hari saya akan mati, Tuan.”
“Bukan mati goblok! Kamu merdeka!”
“Itu dia, Tuan. Setiap hari Tuan memberikan saya makan dan minum. Hidup saya
aman dan sejahtera di dalam sangkar ini. Kalau saya harus keluar sekarang, saya tidak tahu bagaimana caranya mencari makan dan minum sendiri. Tak sampai tiga hari saya akan mati, Tuan. Jangan, jangan berikan saya kemerdekaan, saya tidak mau mati!”
“Edhan, dasar binatang, otakmu hanya segede upil!” umpat orang tua itu, “kemerdekaan itu bukan akhir dari kehidupan. Kemerdekaan adalah langkah pertama untuk menuju kebebasan. Dan kebebasan akan mengantarkan kamu kepada dunia luas yang kamu pilih. Langit biru itu akan mengantarkan kamu ke surga. Kamu tidak perlu mati untuk pergi ke surga, kamu hanya perlu pentangkan sayapmu dan terbang. Ayo terbang sekarang mumpung langit terang benderang!”
Juragan tua itu membuka pintu sangkar burungnya lebih lebar.
“Terbang!”
“Tidak Tuan, jangan. Biar saya tinggal di dalam sangkar saja!”
“Kenapa?”
“Sebab kalau saya keluar sekarang meong garong yang setiap hari sudah menunggu-nunggu kesempatan itu akan menerkam saya. Dia akan menyergap saya dengan cakarnya. Dalam waktu satu hari saya tidak lagi akan bisa melihat langit biru, karena saya sudah berkubur di dalam perut kucing. Jangan, jangan merdekaaan saya. Saya mohon, jangan! Lebih baik hidup di dalam sangkar daripada koit sia-sia di dalam perut kucing!”
“Tolol! Kemerdekaan itu tidak menyekap tapi justru membuat kamu bebas tanpa batas untuk melakukan apa saja yang ingin kamu tuntaskan. Dunia milik kamu sekarang. Jangan sia-siakan kesempatan. Terbang! Terbang!”
“Tidak, jangan Tuan! Jangan! Kalau saya merdeka sekarang, saya akan menjadi tanpa perlindungan. Para pemburu akan mengambil senapan dan menembak. Dor, dor, dor. Tidak akan lebih dari satu jam saya akan jatuh dari langit dalam keadaan yang sudah tak bernyawa lagi. O tidak, saya tidak mau mati sekarang, saya tidak mau merdeka, saya mau hidup. Jangan, jangan berikan kemerdekaan, jangan Tuan! Saya mohon izinkan saya tidak merdeka!”
Orang tua itu tercengang. Darah tingginya meluap. Mukanya mendadak merah karena hadiahnya ditolak.
“Bangsat! Hadiah yang tidak ada taranya ini kamu tolak? Aku tersinggung! Pemberian yang diberikan dengan tulus ini kamu hinakan? Aku jadi kalap. Kebodohan itu sudah mengerak di batok kepalamu. Hanya kekerasan yang dapat memaksa orang-orang tolol untuk melihat realita. Kalau kamu menolak merdeka itu menghina kebaikanku. Kalau kamu tidak mau merdeka, aku akan belajarkan, aku akan paksa, kalau perlu aku akan bunuh kamu, supatya kamu hidup! Hanya jiwa yang mati yang tidak mengerti arti kemerdekaan!”
Dengan gelapan juragan tua itu mengambil sampu lalu mengangkatnya.
“Keluar! Kalau kamu tidak mau keluar aku akan paksa kamu keluar. Keluar! Ayo terbang!”
Orang tua itu memukul-mukul sangkar itu dengan sapu.
“Keluar! Keluar!”
Burung perkutut itu ketakutan. Ia terberak-berak karena panik.
“Keluar!”
Tiba-tiba perkutut itu mengepakkan sayapnya lalu terbang. Tetapi dia tidak terbang keluar dari sangkar. Ia terbang menubrukkan kepalanya ke sangkar, lalu jatuh dan tidak bergerak lagi.
“Kur ketekuk-kuk-kuk-kuk. Kur ketekuk-kuk-kuk-kuk!” bunyi perkutut-perkutut lain milik orang tua itu, seakan-akan memberikan selamat jalan kepada kawannya yang malang, yang telah pergi mendahului ke alam baka.
Orang tua itu tertegun. Ia menatap perkututnya yang terbaring tak bergerak.
“Kur ketekuk-kuk-kuk-kuk!”
“Ya Tuhan,”bisik orang tua itu dengan suara penuh sesal, “hari ini Kau berikan aku sebuah pelajaran yang sangat berharga. Baru hari ini aku sadari, kemerdekaan tidak selamanya memberikan kebahagiaan. Hari ini Kau tunjukkan kepadaku, kemerdekaan dapat membunuh, kalau yang diberikan kemerdekaan tidak siap. Ya Tuhan, terimakasih atas KaruiniaMu ini. Lain kali, kalau pada waktunya nanti aku akan memberikan hadiah kemerkedaan kepada burung-burungku yang lain, aku tidak mau lagi akan terjadi tragedi seperti ini. Hari ini Kau belajarkan aku bagaimana harus memberi kemerdekaan.”
Lalu orang tua itu memandang ke semua sangkar perkututnya.
“Burung-burung perkututku, kalau nanti pada waktunya aku memberikan kamu hadiah kemerdekaan, aku tidak mau nasibmu akan sama dengan kawanmu yang tolol ini. Ternyata kemerdekaan memerlukan persiapan, sebab kalau tidak siap merdeka, kemerdekaan itu bukan membebaskan tetapi membunuh. Karena itu, aku akan memberi kamu latihan, bagaimana caranya menikmati kemerdekaan perlahan-lahan, sehingga pada waktu kemerdekaan itu nanti kuberikan, kamu sudah siap semuanya menikmati merdeka.”
Juragan tua itu lalu membuka semua pintu sangkar burung perkututnya.
“Lihat ke atas, itulah langit biru,”kata orang tua itu memberikan pembelajaran. “Itulah kemerdekaan. Ke sanalah kamu harus memandang, ke situlah kamu harus terbang. Itulah kebagiaan, itulah yang harus kami jadikan tujuan. Pandang baik-baik. Belajar menikmati keindahannya, sehingga nanti kamu akan terbiasa untuk merdeka.
“Kur ketekuk-kuk-kuk-kuk!”
“Ya nyanyikan, rindukan, rasakan langit biru, itulah masa depanmu, itulah surgamu!”
Tiba-tiba ratusan, ribuan, puluhan ribu, jutaan, duaratus limapuluh juta burung perkutut yang memandang ke langit biru mengepakkan sayapnya, lalu terbang. Melesat terbang keluar dari pintu sangkar, termasuk burung perkutut yang tadi pura-pura mati itu.
“Kur ketekuk-kuk-kuk-kuk!”
Duaratus limapuluh juta burung perkutut terbang bersama-sama ke atas langit biru.
“Kurketuk-kuk-kuk-kuk! Inilah kemerdekaan yang kami rindukan. Bukan kemerdekaan sendiri-sendiri yang diberikan dengan gratis karena belas kasihan. Tapi kemerdekaan yang kami rengut dengan mengorbankan jiwa-raga. Kalau perlu dengan paksa lewat pertumpahan darah. Kemerdekaan bersama-sama, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Kur ketekuk-kuk-kuk-kuk!”
Burung-burung itu terbang berputar-putar semakin tinggi, semakin tinggi.
“Kur ketekuk-kuk-kuk-kuk.”
Tiba-tiba mereka berhenti, lalu melihat ke bawah dan kemudian croooooot berak bersama-sama. Duaratus-lima-puluh-juta tai burung perkutut melayang-layang ke bawah dan kemudian tepat mengenai kepala juragan tua itu, yang sampai sekarang tidak pernah mengerti apa sebenarnya yang sudah terjadi. Yang sampai meninggalnya tidak pernah peduli apa sebenarnya yang dikehendaki oleh rakyatnya.


Jakarta 1995 - 2008

Trik

TRIK
monolog oleh:
Putu Wijaya
Aku ditanya oleh seseorang, apakah kau masih bangga menjadi orang Indonesia? Tanpa berpikir lagi aku menjawab, singkat, tegas lugas.
Tidak.
Ah, Apa? Bangga atau tidak?
Aku ulangi menjawab lebih pasti:
Tidak!
Ada wartawan, entah karena kurang sumber berita, entah karena halaman korannya kurang iklan, entah karena mau cari gara-gara, supaya bisa merebut perhatian pembaca, mencegatku ketika pulang dan bertanya:
Ada kabar burung, apa betul Ente tidak bangga lagi menjadi orang Indonesia?
Tidak menunggu lagi dia mengulang pertanyaannya, aku jawab secara jantan: tidak! Dan ketika dia mengulangi pertanyaannya untuk meyakinkan aku, apa sebenarnya inti dari yang ditanyakannya, aku tak menunggu lagi dia komplit bicara. Langsung saja kusergap: tidak, tidak dan tidak! Wartawan itu manggut-manggut sambil tersenyum. Nampaknya jawaban itu benar-benar memuaskannya. Sebab sesudah itu dia tidak bertanya lagi. Tanganku dijabat dan diguncang-guncangnya, sambil berbisik:
Dari semua orang yang sudah aku wawancarai, hanya kau yang bisa menjawab dengan cepat, sederhana tetapi jelas. Yang lain berpikir dulu lama, seringkali menyanyi ke Barat ke Timur, mengutip berbagai ucapan orang lain, lalu menjelaskan sejarah, antropologi, sosiologi, psikologi, filsafat, tetapi akhirnya mengembalikan pertanyaan itu kepadaku: Pendapat Anda sendiri bagaimana?
TERTAWA
Maaf. Bukan aku yang ketawa, tapi wartawan itu. Dia memotretku lalu memberikan aku kartu nama sambil minta alamatku. Terpaksa aku menjelaskan di mana aku tinggal. Kalau ditulis alamatku panjang sekali, lebih merupakan petunjuk belok kanan dan belok kiri di gang-gang yang berbelit seperti cacing.Itulah yang kemudian jadi perkara besar. Pak RT dan Pak RW datang ke rumahku. Semula kukira kedatangan mereka untuk mengusut perkara gossip yang sudah santer tersebar, bahwa aku pernah mengintip anak Pak RW mandi.Aku sudah siap dengan penjelasan bahwa itu bukan kesengajaan tapi kecelakaan. Maksudku aku tidak sengaja membuka jendela ketika diundang ke rumah seorang teman yang rumahnya berlantai tiga di samping kediaman Pak RW. Karena AC di kamar freonnya habis, aku kegerahan dan membuka jendela. Tidak tahu anak Pak RW sedang mandi di kamar mandinya yang terbuka karena atapnya sedang direhab.
Terus-terang aku sempat tertegun sampai 10 menit. Tapi apa salahnya? Bukan hanya laki-laki suka mengintip, perempuan juga. Aku hanya mau blak-blakan saja. Ada orang tertegun sampai satu jam. Dalam keadaan terkejut, ketika kita tertegun, waktu berjalan relatif tidak menghitung, bahkan waktu bisa tidak bergerak. Tapi baiklah, kalau itu memang dianggap sebagai kesalahan, aku bersedia minta ampun. Atau apa pun. Tapi yang jelas, tidak mungkin untuk membatalkan apa yang sudah kulihat. Manusia bukan komputer yang ingatannya bisa dighapus.
KETAWA
Kalau ini, aku sendiri yang ketawa mekipun hanya di dalam hati. Bukan ketawa mengejek atau ketawa jahil. Bukan ketawa politik seperti para pemimpin itu. Juga bukan ketawa kemenangan sebab barangkali hanya aku yang baru pertama kalinya melihat anak Pak RW telanjang bugil. Yang bener saja. Tidak ada orang mandi yang tidak telanjang.
KETAWA LAGI
Maaf! Aku ketawa sebenarnya karena aku kecewa. Kenapa aku, bukan orang lain yang melihat itunya mekipun indah tapi sedikit besar sebelah. Kalau boleh memilih lagi, lebih baik aku tidak pernah melihatnya telanjang. Sebab akibatnya sangat berat. Sejak kejadian itu, setiap kali dia lewat, apa pun pakaiannya, di mataku dia terus saja telanjang bugil. Bayangkan, apa itu bukan siksaan?
MEMUKUL SESUATU MEMBUAT BUNYI.
Dengan segala hormat, tanpa mengurangi rasa terimakasih kami terhadap Anda yang sudah jadi warga yang baik di lingkungan pemukiman kita ini, kami minta dengan segala kerendahan hati kami, supaya Anda kembali ke tempat asal Anda!.
Itu suara Pak RW. Sopan tetapi seram. Aku jawab.Lho kenapa, tanyaku, pura-pura tidak tahu, padahal sebenarnya malu, sebab kukira masih tetap soal inti-mengintip itu. Ternyata bukan.
MENUNJUKKAN SURAT KABAR
Beliau menunjukkan surat kabar yang memuat fotoku dan pernyataanku bahwa aku tidak bangga menjadi orang Indonesia.
MENGUBAH SUARA.
Warga asli di sini berkeberatan Anda tinggal di sini. Kami tidak mengizinkan orang yang memprovokasikan kebencian kepada bangsa tinggal di sini! Itu teror! Subversip! Kami berikan Anda waktu 24 jam, supaya Anda berkemas-kemas.
MEMUKUL LAGI MEMBUAT BUNYI
Ya Tuhan, berkemas-kemas untuk apa, mau ke mana? Ini kan rumahku, masak aku diusir dari rumahku sendiri. Ini bukan zaman kolonial lagi. Indonesia kan sudah merdeka. Kalau begini caranya, nasibku sama dengan Inul yang diusir dari Jakarta.
BATU-BATU BERHAMBURAN DARI LUAR MENGENAI TUBUHNYA
Aduh, aduh, ini apa-apaan? Pak RW!
BATU BESAR MENIMPA KEPALANYA. DIA JATUH.
Heeeeheee ini belum ada 24 jam aku sudah diserang? Heeee!
BATU LEBIH BESA LAGI MENONJOK. DIA TERPAKSA MENCARI PERLINDUNGAN. KEMUDIAN MENGUBAH SUARA MENIRUKAN YANG MELEMPAR BATU.
Provokator! Kalau kamu tidak mau minggat sekarang, rumah ini akan kita bakar! Kita seluruh warga tidak mau menanggung dosa, karena keberengsekan satu orang! Minggat kamu bangsat penjual bangsa! Mau dimutilasi kamu ya?!
MENGUBAH SUARA KEMBALI MENJADI DIRINYA.
Tidak ada gunanya ngomong dengan orang yang sudah kalap. Demi keselamatan, terpaksa aku serabutan mencomot apa saja yang tergapai, lalu lari meloncati pagar lewat jalan belakang. Rencanaku berlindung ke rumah seorang teman. Tapi di tengah jalan, ketika aku periksa tas, ternyata dompetku tidak terbawa. Identitas dan uang, masih tertinggal di rumah.
MENCAMPAKKAN TASNYA.
Apa boleh buat aku terpaksa batal ngabur, tapi balik pun tak berani. Akhirnya aku pergi ke kantor polisi untuk membuat pengaduan.
Pak, maaf saya mengalami musibah, saya diusir dari rumah saya sendiri oleh orang-orang yang tidak setuju dengan apa yang saya katakan.
Karena petugas tidak menanggapi, aku tunjukkan kepalaku yang benjol.
Untung hanya benjol, Pak, coba kalau saya tidak pakai helm, saya sudah gegar otak. Masak saya diusir begitu saja, padahal itu rumah saya sendiri. Sejak kapan orang tidak boleh tinggal di rumahnya sendiri. Memang saya bukan orang asli Betawi, tapi saya warga DKI, saya juga punya nomor NPWP, Pak. Tapi KTP saya ketinggalan tidak sempat saya bawa. Sekarang saya minta tolong, supaya saya bagaimanalah caranya agar bisa mengambil kembali KTP saya. Itu saja. Sesudah itu, baik, saya bersedia pergi dulu sampai marah mereka mereda.
Polisi itu memperhatikan, lalu bertanya dengan curiga.
Nama Anda siapa? Kenapa Anda sampai diusir dari rumah Anda sendiri.
Ya itu juga yang dari tadi saya tanyakan, Pak.
MENUNJUKKAN KORAN
Ini Anda kan?
Terus-terang ya. Tapi
BERTERIAK MEMANGGIL KAWANNYA.
Ya betul! Ini orangnya!
MENJAMAH TELEPON DAN LAPOR PADA ATASAN.
Betul Pak. Ini dia, kami sudah berhasil menggerebek. Kami jamin tidak akan bisa melarikan diri. Siap Pak! (MEMANDANG TAJAM). Jadi kamu yang kemaren ada di koran ini? Kamu yang mengatakan bahwa kamu tidak bangga lagi menjadi orang Indonesia?
Betul, Pak. Dan saya heran kenapa begitu saja dipermasalahkan? Apa tidak ada pekerjaan lain?
MENAMPAR TIBA-TIBA.
Kurangajar! Jaga mulut kamu! Masih untung kamu masih hidup, mestinya kamu sudah jadi rendang karena menghina 220 juta penduduk Indonesia, termasuk aku abdi negara ini!
Menghina? Menghina bagaimana, Pak? Sumpah, saya memang tidak bangga jadi orang Indonesia. Jujur saja! Apa Bapak sendiri bangga?.
BANGUN MENENDANG KURSI.
Bangsat! Kurang ajar kamu! Kami di sini dilatih untuk bela negara tahu! Kamu menantang ya?!
MENGHUNUS SENJATA.
Kamu tahu ini apa?
Senjata, Pak.
Tapi kamu tidak pernah merasakan bagaimana kalau ini ditempelkan di kepala kamu dan ditembakkan sampai otak kamu muncrat kan!?
Belum, Pak!
Makanya jangan nantang!
Kok saya dibilang menantang, Pak. Saya paling takut pada senjata. Saya hanya mencoba jujur saja, Pak.
MENGOKANG SENJATA.
Ayo ngomong lagi biar aku punya alasan menghancurkan batok kepala kamu!
Melihat senjata itu, aku tak berani lagi bicara. Apalagi lop senjata itu tepat mengarah ke mulutku. Alangkah dekatnya kematian. Kalau aku buka mulut lagi, pasti telunjuknya yang memegang pelatuk itu bergerak. Aku ketakutan dan mencoba tenang tapi sudah terkencing di celana.
AIR KENCING TERCURAH DARI PERUTNYA KE KAKI DAN MENGGENANGI LANTAI. PETUGAS MARAH BESAR DAN TERSINGGUNG.
Kurangajar! Menghina petugas negara ya?! Kamu menghina bangsa! Kalau saja aku punya peluru sudah tadi aku berondong kepala kamu! Kamu tahu apa? Anak kemaren sore. Tahunya hanya mencak-mencak menuntut. Negeri ini kita rebut dengan darah dan air mata tahu? Kakekku mati di masa revolusi, membela bangsa dan negara. Bapakku hilang di perbatasan membela kehormatan negara. Aku menyerahkan jiwa-ragaku untuk menjaga kewibawaan negara sebagai aparat negara aku bertanggungjawab untuk melindungi rakyat. Dan sekarang kau seenak perutmu menghina??? Bangsat buka lagi mulutku sedikit saja supaya aku punya alasan memasukkan sepatu boatku ke mulut kamu!!
GEMETAR
(MENGUCAP) Aku tidak menyesal, tapi aku takut. Aku belum siap ke neraka dan tidak akan pernah siap. Aku terpaksa diam saja. Menjadi pengecut dalam banyak hal banyak untungnya. Ketika dia menendang aku ke dalam sel, aku tak berani membantah. Aku pikir, justru lebih aman dalam sel daripada dibiarkan bebas tapi kemudian bonyok dikeroyok massa yang kalap. Lebih baik dikurung daripada jadi bulan-bulanan petugas yang sudah kehilangan akal waras.
Tetapi ternyata aku keliru. Di dalam sel yang berisi sekitar 30 bromocorah, ternyata 100 kali kali lipat lebih tidak aman. Begitu masuk aku langsung berhadapan dengan bajingan-bajingan tengik yang merasa bauku busuk. Penipu, maling, pedagang narkoba, penculik, pembunuh, bahkan ada pemakan manusia,. Mereka ikut-ikutan tidak merasa nyaman berdampingan dengan orang yang tidak bangga menjadi orang Indonesia. Mereka tahu betul, kenapa aku dilemparkan ke dalam sel.
MENGUBAH SUARA
Heeee, kami semua di sini memang pelaku kriminal, tapi kami tidak seperti kamu! Kami tetap bangga jadi orang Indonesia!
Aku berlutut, menyembah, minta ampun. Tapi mereka tidak peduli. Berebutan mereka menghampiri mau menghajar dan menggagahi. Aku dijamah, digampar dan celanaku sudah ditarik. Sebentar lagi aku akan lumat. Untung Pak RT dan Pak RW datang lagi, menyelamatkan.
Dengan membayar uang jaminan aku dikeluarkan.
Minta maaf, katanya. Soal pelemparan batu itu kita tidak tahu-menahu. Itu ulah dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Tapi semuanya akan kita bereskan. Tenang saja. Everything is oke
Aku bingung, tak tahu pasti mesti bagaimana. Demi keselamatan aku manut saja. Mereka membawaku ke rumah Pak Amdal. Pengusaha kaya-raya yang mencalonkan diri menjadi Gubernur itu, rumahnya lebih hebat dari istana. Dijaga ketat oleh para pendukungnya, Puluhan wartawan dari berbagai media termasuk infoteinmen menunggu
Aku langsung dikerubut. Tapi Pak RW cepat membawaku menemui Pak Amdal. Dengan ramah-tamah calon pemimpin itu menerimaku, seakan-akan ia sedang memamerkan, begitulah perilakunya kalau nanti menduduk kursi.
MENGUBAH SUARA MENIRUKAN PAK AMDAL
O jadi Saudara ini yang sudah memberikan kesaksian bahwa Saudara tidak bangga kepada NKRI?
Ya, Pak.
Anda berani sekali.
Itu bukan soal keberanian, Pak, tapi soal kejujuran.
Persis. Itu maksudku. Apa Anda merasa itu bagian dari kebebasan berpendapat, dus hak azasi, realisasi dari penegakan demokrasi? Atau?
Tidak.
Jadi apa itu namanya?
Pernyataan sikap saja, Pak.
Jadi Saudara bersikap tidak bangga kepada negara yang sudah diperjuangkan dengan darah dan air mata bahkan nanah oleh ratusan ribu pahlawan kita ini?
Ya. Saya tidak bangga.
Bangsat!!!!!
Aku terperanjat. Beliau berteriak tiba-tiba sambil menggebrak meja.
Panggil masuk semua wartawan!
Tak usah dipanggil lagi, semua wartawan sudah menyerbu masuk ketika mendengar suara gebrakan.
Saudara-saudara para wartawan, inilah warga kita yang sudah memberikan pernyataan mengejutkan di media massa beberapa waktu yang lalu itu dengan mengatakan bahwa dia sama sekali tidak punya kebanggaan lagi kepada Indonesia. Sebagai putera daerah, saya merasa sangat terpukul. Kita yang sedang berada di Simpang Sembilan Bencana karena adanya: KKN, disintegerasi, narkoba, wabah, demam berdarah, gempa, tsunami, bom, terorisme, gunung berapi, lumpu panas, korupsi, banjir, longsor, topan badai, kebakaran hutan, bentrokan suku dan agama, jadi bertambah pedih oleh pernyataannya itu. Saya langsung sadar bahwa pernyataan itu dapat menjadi pemicu kekacauan. Dan betul saja, belum tamat satu hari, rakyat yang sudah lelah, terbakar dan mengamuk. Mereka melempari rumah beliau ini dengan batu yang memecahkan genting dan kaca serta merubuhkan tembok pagar rumah. Saudara ini sudah dianggap melancarkan penghinaan. Untunglah saya cepat bertindak, sehingga massa tidak sempat bertindak lebih jauh. Kalau umpama terlambat sedetik saja, mungkin sudah terjadi peristiwa berdarah. Tak hanya itu, aparat petugas hukum pun sudah langsung bertindak. Sebagai petugas keamanan mereka memang harus mengamankan kita, sehingga Saudara ini kemudian dijebloskan ke dalam sel. Tetapi berita itu juga sudah sampai ke sel. Para pelanggar hukum ternyata walau pun cacad kepribadiannya, tetapi rupanya rasa kesadaran kebangsaannya tetap tinggi. Begitu Saudara ini masuk, mereka langsung hendak mengeksekusi dengan caranya sendiri. Hartanya dirampas dan kontan mau di ….. maaf disodomi. Saya terpaksa bertindak lagi. Saya tebus beliau ini dan berikan jaminan sedemikian rupa, sehingga beliau bisa dikeluarkan dari sel sebelum sempat diobrak-abrik. Sekarang ini dia berdiri di depan Saudara-Saudara Pers tidak kurang sesuatu apa pun. (KEPLOK TANGAN) Saya sudah berbicara dari hati ke hati dan mengatakan bahwa ulahnya itu sangat, amat berbahaya bagi rakyat jelata. Pernyataan itu dapat membuat wilayah kita ini terpuruk, karenanya sebelum orang luar yang bertindak, kita sendiri harus membenahi. Syukur alhamdulillah, suara saya masih dapat mengetuk kesadarannya. Hari ini beliau ini akan menyampaikan maaf kepada seluruh bangsa, karena sudah memberikan pernyataan yang keliru. Memang maaf tidak bisa membatalkan apa yang sudah terjadi, tetapi setidak-tidaknya memotong dan menghentikan apa yang tidak kita inginkan terus kejadian. Saya terpaksa membatalkan rapat penting dengan tim sukses saya dalam menuju ke jabatan yang jauh lebih penting dari kepentingan pribadi, demi untuk mengklarifiikasi Saudara ini.
Calon Gubernur itu lalu meraih tanganku, mengguncangnya, lalu menepuk-bepuk bahuku, sehingga semua bertepuk tangan lagi emberikan aplaus. Dia mengangguk dan melambai lalu mengedipkan mata kepadaku. Entah kenapa aku percaya semua peristiwa itu adalah bagian dari skenarionya menuju jabatan kursi gubernur.
Tak kurang dari 20 mikrophone, tape recorder, kamera, tustel menyerbuku. Aku terdesak ke sudut. Semua bertanya:
Apa betul Saudara sudah mengeluarkan pernyataan bahwa Saudara tidak bangga lagi pada Indonesia?
Apalagi yang bisa kujawab kecuali berterus-terang:
Betul!
Mengapa Saudara menyatakan begitu? Ada sponsorkah?
Tidak. Karena aku ditanya.
Saudara sadar apa arti pernyataan Saudara itu?
O ya, tentu saja. Kenapa tidak. Sadar sekali.
Dan sekarang Saudara menyesal?
Menyesal?
Ya. Bertobat. Anda bertobat?
Bertobat? Kenapa harus bertobat?
Semua geger.
Lho kalau begitu mengapa Saudara mau minta maaf?
Siapa yang mau minta maaf?
Saudara kan?!
Aku? Kenapa aku harus minta maaf?
Karena Saudara sudah menghina!
Menghina?
Ya!
Menghina siapa?
Menghina Bangsa Indonesia!
Bangsa Indonesia yang mana?
Bangsa Saudara sendiri!
Aku kaget.
O itu? Bangsa Indonesia yang memakan trilyunan uang rakyat itu? Yang menjual hutan, laut, gunung, sumberdaya alam, yang melalap habis lahan, pulau, yang menzalimi kehormatan bangsa itu? Aku merasa tersanjung kalau mereka masih bisa merasa terhina. Berarti masih ada harapan. Selama mereka masih punya kepekaan rasa sebagai manusia, aku masih boleh berharap nasib kita akan membaik. Tapi pada Indonesia yang penuh dengan korupsi, manipulasi, kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan, kekejaman, kepada Indonesia yang penuh segala kecurangan, ketimpangan, maaf Saudara-Saudara wartawan, dibayar pun aku tidak akan pernah bangga. Aku benci dan keki. Aku begitu mencintai negeri yang kaya raya ini, tak sepatutnya aku bangga negeri tercinta ini hidup di bawah garis kemiskinan selama berabad-abad. Sementara kalian semua, tidak seorang pun dari kalian yang mencintai negeri ini, karena kalian tetap saja bangga padahal segala macam kebathilan itu masih berjaya bahkan semakin bersimaharajalela sekarang! Perempuan dizalimi, golongan minoritas mau dibasmi, penduduk mpedalaman mau dibasmi, hah! Bukan aku, tapi kalian yang sudah menghina NKRI, menghina 220 juta jiwa, karena masih bisa bangga padahal semua keberengsekan itu sudah terjadi dan sekarang makin menjadi-jadi. Kamu semua brengsek, pelac ………
Ya. Semua itu harusnya kumuntahkan ke hadapan mereka. Tapi semua lahar panas itu hanya tersangkut di tenggorokan, lalu dengan sekuat tenaga aku telan kembali masuk ke dalam perut. Untuk nanti saja lain kali dikeluarkan lewat pelepasan lain di ujung perut besar bersama kotoran. Sialan! Pak Amdal, kandidat Gubernur itu paham betul bagaimana menjinakkan pemberontak kesiangan seperti aku. Skenarionya memang canggih. Sambil tersenyum manis di ujung pintu sana, ia melepas puteri Pak RW. Dewi Dyah Permata, perawan yang tubuhnya memnghanguskan itu dan sudah selalu mengganggu dalam mimpi basahku, berjalan ke arahku sambil berdesah lirih. Langsung badanku meriang dan pikiranku menjadi becek.
Bang, Abang sekarang adalah ujung tombak tim sukses Bapak. Jangan disia-siakan kepercayaan dan kehormatan yang tidak diberikan kepada sembarang orang ini. Mainkanlah seindah-indahnya, Bang, demi masa depan kita.
Masa depan kita? Ya Tuhan. Kalimat itu begitu membunuh. Aku tersembelih, kejepit, tak bisa mengatakan apa-apa lagi, kecuali berseru dalam huruf kapital kepada semua kuli tinta itu dengan suara lantang::
Ya, sayang. Saudara-saudara wartawan, beribu ampun. aku sadar sekarang, sesadar-sadarnya. Aku sudah melakukan kekeliruan dan dosa besar, menghujat, menghina bangsa dan negaraku sendiri. Untung berkat petuah Pak Amdal aku jadi eling. Sekarang aku insaf dan bersumpah akan tetap bangga kepada Indonesia apa pun yang sudah dan akan terjadi. Biar para pemimpin korupsi aku akan terus berbakti!
JEPRETAN LAMPU PIJAR NGAMUK BERTUBI-TUBI.
Ya ampun, para wartawan itu menghajarku dengan kameranya. Aku jadi head-line! Tetapi itu tidak penting. Yang utamanya, Dyah Permata, putri Pak RW mendekat dan “oh my god” lalu, lalu, bangsat, mengecup pipiku dengan bibir basah. (MENDESAH-DESAH) Kunci mobil hadiah Pak Amdal ada di tasku, Bang. Abang pasti akan dijadikan kepala protokol bila Bapak menang dalam Pilkada. Dan ayahku sendiri memang sudah siap menjadi Dirut Perusahaan real estatnya. Datanglah Abang nanti dalam upacara pernikahanku dengan putra sulung Pak Amdal yang akan segera pulang dari Amerika.

Tajung Pinang, 16 September 06